Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjamin ketersediaan stok plastik di dalam negeri tetap terjaga meski dinamika geopolitik di Selat Hormuz mulai mengganggu rantai pasok global.

Kepastian tersebut diperoleh usai Kemenperin mempertemukan pelaku industri petrokimia dari hulu hingga hilir pada Kamis, 16 April, guna membahas langkah mitigasi bersama.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri telah memberikan komitmen untuk menjaga kesinambungan suplai, terutama bagi pelaku industri kecil, agar tetap kompetitif.

Meski begitu, pemerintah tetap memantau ketat situasi global yang berpotensi memengaruhi produksi.

"Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini," ujar Agus dikutip dari keterangan resmi, Jumat, 17 April.

Agus mengakui, gejolak di Selat Hormuz telah memicu distorsi harga produk plastik akibat kenaikan biaya logistik dan waktu pengiriman bahan baku impor.

Durasi pengiriman yang semula rata-rata 15 hari kini menjadi lama hingga 50 hari, sehingga berdampak langsung pada peningkatan beban biaya produksi manufaktur.

Situasi ini, menurut Agus, menjadi momentum penting untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional. Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan bahan baku impor dengan mengeksplorasi sumber alternatif domestik, salah satunya penggunaan crude palm oil (CPO) sebagai substitusi nafta.

"Kami harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang," katanya.

Selain diversifikasi bahan baku, pelaku industri juga mengharapkan perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor agar iklim investasi di subsektor petrokimia tetap menarik bagi penanaman modal baru.

Adapun pertemuan strategis tersebut dihadiri oleh sejumlah asosiasi dan raksasa industri, di antaranya Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Lotte Chemical Titan Nusantara, hingga asosiasi daur ulang seperti Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dan Indonesian Plastics Recyclers (IPR).