JAKARTA - Tingginya harga plastik imbas konflik di Timur Tengah mulai berdampak ke harga jual berbagai jenis produk ritel dalam negeri.
Mulai dari alat rumah tangga, makanan dan minuman dalam kemasan hingga produk elektronik.
Hal itu diungkap Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah.
Dia mengatakan, kenaikan harga produk tersebut sudah dirasakan sektor ritel sejak sekitar dua minggu lalu, utamanya produk-produk yang menggunakan plastik baik sebagai bahan baku utama maupun kemasan produk.
"Saat ini kami di ritel sudah terima kenaikan harga dari supplier. Jadi, dari dua minggu lalu atau minggu lalu juga sudah masuk (informasinya)" ujar Budihardjo saat ditemui wartawan di Gedung Smesco, Jakarta, Rabu, 15 April.
"Rata-rata 10 persen, ya, tapi kami lagi negosiasi. Ada yang naik 5 persen, 10 persen gitu," tambah dia.
Terkait kenaikan harga itu, Budihardjo bilang, saat ini para peritel sedang dalam proses negosiasi harga dengan para produsen atau supplier barang. Sehingga, mereka bisa mendapatkan harga lama sebelum adanya kenaikan harga plastik.
"Tapi kalau enggak bisa, ya, kami nego harganya naik bertahap. Artinya, memang sudah kenaikan harga itu terutama dari pengusaha makanan-minuman. Elektronik juga, alat listrik berhubungan dengan kabel-kabel itu naik semua.
Alat listrik, alat elektronik berhubungan dengan plastik itu semua naik. Ember-ember itu naik semua," terang dia.
Jika kondisi itu terus berlanjut, Budihardjo khawatir, daya beli masyarakat dapat semakin tergerus, yang pada akhirnya akan mempengaruhi penjualan di sektor ritel. Sehingga, mau tak mau peritel harus lebih banyak mengeluarkan promo atau program baru.
"Dengan adanya kenaikan ini, makanya kami inisiasi program-program belanja di Indonesia saja. Kami coba optimalkan turis luar negeri masuk ke Indonesia belanja. Terus bagaimana juga promosi-promosi agar stok lama bisa imbangin dengan harga baru. Jadi, ada harga kami turunkan, ada yang harganya naik," imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita buka suara terkait kenaikan harga plastik yang kini menghantui para pelaku usaha dan masyarakat selaku konsumen.
Agus mengakui, terjadi kenaikan harga di tingkat produksi seiring melonjaknya biaya bahan baku global imbas konflik di Timur Tengah.
Eskalasi konflik, kata dia, berdampak pada pasokan nafta sebagai bahan baku utama industri petrokimia. Gangguan distribusi dan produksi global akhirnya memicu kenaikan biaya di tingkat hulu.
"Mengingat plastik merupakan produk turunan dari proses petrokimia yang berbasis minyak bumi, gangguan pada jalur distribusi dan produksi di global memang memberikan tekanan pada struktur biaya di tingkat hulu," ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 8 April.
Dia menjelaskan, pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan pelaku industri manufaktur guna memitigasi dampak gangguan rantai pasok global.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga ketahanan industri nasional agar tetap mampu memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.
"Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci untuk memastikan industri tetap resilien di tengah tekanan global," katanya.
Pihaknya, lanjut Agus, bersama pelaku industri petrokimia hulu telah menyiapkan sejumlah langkah strategis.
Salah satunya dengan mencari sumber pasokan nafta alternatif di luar kawasan Timur Tengah guna mengurangi ketergantungan.
BACA JUGA:
Selain itu, industri juga mengoptimalkan penggunaan elpiji sebagai bahan baku penyangga (buffer) dalam proses produksi.
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi guna menjaga stabilitas pasokan.