Bagikan:

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa, 2 Desember 2025 diprediksi akan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk diketahui, mengutip Bloomberg, pada hari Senin, 1 Desember, Kurs rupiah spot ditutup naik 0,07 persen ke level Rp16.663 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,04 persen di level harga Rp16.668 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa dolar AS memulai bulan Desember dengan pelemahan.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena investor bersiap menghadapi periode penting yang berpotensi menjadi momen pemangkasan suku bunga terakhir oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini, sekaligus menunggu kepastian sosok pengganti Ketua Jerome Powell yang dinilai cenderung dovish.

"Fokus utama investor tertuju pada prospek suku bunga AS, dengan pasar kini memperkirakan peluang 87 persen The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin saat bertemu pekan depan, menurut perangkat CME FedWatch," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Selasa, 2 Desember. 

Dia menambahkan bahwa perubahan signifikan dalam ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed serta kabar bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menjadi kandidat terkuat untuk memimpin The Fed berikutnya telah menekan nilai dolar dan pada Jumat sebelumnya, dolar bahkan mengalami pekan terburuknya dalam empat bulan.

Selain itu, pasar juga menantikan rilis sejumlah data ekonomi AS, antara lain PMI Manufaktur ISM November yang diprediksi turun sedikit menjadi 48,6 dari 48,7 pada Oktober, diikuti data PMI Jasa, Produksi Industri, perubahan tenaga kerja ADP, serta klaim pengangguran mingguan untuk periode yang berakhir November.

Sementara dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus 2,39 miliar dolar AS per Oktober 2025.

Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. 

Ekspor Oktober 2025 tercatat sebesar 24,24 miliar dolar AS atau turun 2,31 persen secara tahunan, terutama disebabkan penurunan tajam ekspor migas hingga 33,60 persen.

Sementara itu, impor mencapai 21,84 miliar dolar AS, turun 1,15 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Surplus pada Oktober 2025 lebih ditopang pada komoditas nonmigas yaitu sebesar 4,31 miliar dolar AS dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Kemudian, aktivitas manufaktur nasional juga menunjukkan peningkatan yaitu PMI Manufaktur Indonesia pada November 2025 berada di level 53,3, naik dari 51,2 pada Oktober atau lebih tinggi dibandingkan September (50,4) namun sedikit di bawah pencapaian Agustus (51,5). 

Sebelumnya, PMI sempat berada dalam fase kontraksi selama empat bulan, dari April hingga Juli 2025, dengan titik terendah di level 46,7 pada April.

Menurut laporan terbaru S&P Global, ekspansi tersebut didorong oleh peningkatan output dan lonjakan pesanan baru, yang menjadi yang tercepat sejak Agustus 2023. 

Adapun peningkatan permintaan terutama berasal dari pasar domestik karena pesanan ekspor baru justru menurun cukup signifikan dan membaiknya permintaan secara keseluruhan juga memicu meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas pembelian.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 2 Desember 2025 dalam rentang harga Rp16.630 - Rp16.670 per dolar AS.