JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) untuk meningkatkan kemudahan akses pembiayaan bagi masyarakat. Langkah ini diambil guna mencegah masyarakat terjerat praktik pinjaman ilegal seperti rentenir.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa upaya ini bertujuan agar masyarakat tidak terjebak dalam sistem pinjaman yang memberatkan secara finansial.
“Makanya kita menantang POJK-POJK untuk bisa memberikan akses kepada masyarakat untuk mengakses pembiayaan kredit dan sebagainya dengan cara yang cepat, mudah dan dengan tingkat pengembalian yang reasonable gitu,” katanya dalam acara Puncak Bulan Inklusi Keuangan 2025, di kutip Minggu, 19 Oktober.
Friderica menambahkan bahwa masyarakat seharusnya bisa memperoleh pembiayaan dengan bunga yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan pinjaman dari pihak ilegal.
“Jadi kita men-challenge PUJK-PUJK di seluruh Indonesia untuk bisa juga semakin cepat, semakin baik, semakin mudah. Tapi tentu kalau bunga pasti lebih rendah ya daripada yang ditawarkan oleh yang ilegal-ilegal tersebut,” ucapnya.
Selain itu, Friderica juga mengungkapkan bahwa tantangan besar yang masih dihadapi OJK adalah peningkatan tingkat literasi dan inklusi keuangan.
Ia menyebutkan bahwa tingkat literasi keuangan saat ini berada di angka 66,46 persen, sementara inklusi keuangan yang berada di bawah pengawasan OJK telah mencapai 80 persen.
“Apalagi pemerintah punya program bagaimana seluruh masyarakat Indonesia memilih rekening. Ini juga PR kita semua,” jelasnya.
Sebagai bagian dari peringatan Bulan Inklusi Keuangan 2025, Kepala OJK Purwokerto Haramain Billady menjelaskan bahwa telah dibentuk tim Sobat Literasi Keuangan OJK yang terdiri dari 25 orang, yakni 15 mahasiswa dan 10 perwakilan komunitas lokal dan telah menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif kepada masyarakat.
BACA JUGA:
“Mereka melakukan 2 bulan ini melakukan kegiatan, 56 kegiatan mencapai 2.500 orang. Jadi kami berusaha untuk tidak hanya OJK sendiri, tapi kita juga bekerja sama dengan Duta Literasi Keuangan. Selain itu kita juga melakukan edukasi ke disabilitas, kita juga melakukan edukasi ke Korem 071 Wijaya Kusuma, dan juga beberapa universitas,” ujarnya.
Selain itu, ia menyampaikan program edukasi dan inklusi juga diperkuat melalui inisiatif Desa Inklusi Keuangan Inklusif (IKI), yang kini telah berjalan di beberapa lokasi, antara lain dua desa di Purwokerto, satu desa di Purbalingga, dan satu desa di Banyumas.