JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan, standardisasi seperti SNI Batik, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Batikmark, Sertifikasi Halal dan Sertifikasi Industri Hijau menjadi solusi sektor batik dalam menghadapi dinamika pasar global.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyebut, standardisasi merupakan solusi strategis yang perlu diterapkan oleh pelaku industri batik untuk menghadapi tantangan globalisasi.
"Setiap standardisasi ini menjamin suatu aspek, seperti SNI untuk kualitas produk, SKKNI untuk kompetensi perajin, Batikmark untuk keaslian produk. Sedangkan, Halal dan Industri Hijau merupakan standardisasi khusus yang berpotensi memperluas akses pasar bahkan sampai ke luar negeri," ujar Reni dalam keterangan resminya, dikutip Senin, 21 Juli.
Reni menekankan, standardisasi tidak hanya penting bagi keberlangsungan usaha dari sisi produksi, tetapi juga memberikan nilai tambah pada aspek branding alias jenama.
"Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu keaslian, estetika dan keberlanjutan lingkungan, batik tersertifikasi memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pilihan utama konsumen," ucapnya.
Oleh karena itu, sebagai upaya konkret dalam membangun pemahaman dan kesadaran akan pentingnya standardisasi, Ditjen IKMA bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) menyelenggarakan Webinar bertema Standardisasi pada Industri Batik secara daring pada 7 Juli 2025.
Kegiatan tersebut menjadi bagian rangkaian acara Gelar Batik Nusantara (GBN) dan Hari Batik Nasional (HBN) tahun 2025.
Webinar itu menghadirkan para narasumber dari kalangan regulator dan praktisi, seperti Direktur Penguatan Standar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional, Asesor Manajemen Mutu Industri Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik serta Direktur Akasia Batik Yogyakarta.
Puncak dari rangkaian perayaan GBN dan HBN 2025 akan ditandai dengan Pameran Gelar Batik Nusantara, yang diselenggarakan pada 30 Juli-3 Agustus 2025 di Pasaraya Blok M, Jakarta.
Pameran tersebut bakal menghadirkan produk-produk batik unggulan dari berbagai daerah di Indonesia sekaligus menjadi ajang edukasi publik mengenai pentingnya standardisasi dalam menjaga mutu dan warisan budaya batik.
BACA JUGA:
Sementara itu, Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan Ditjen IKMA Kemenperin Budi Setiawan berharap, dengan terselenggaranya webinar, para pelaku IKM batik dan konsumen dapat memahami standardisasi pada batik, termasuk mengenai manfaat didapatkan dan cara proses pengajuannya.
"Kegiatan ini dapat menjadi ruang sinergi antara pelaku usaha, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dalam memperkuat fondasi industri batik nasional. Sebab, keberlanjutan industri batik sangat ditentukan oleh kesadaran kolektif terhadap pentingnya penerapan standar mutu," tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Budi juga berharap, seluruh pemangku kepentingan dapat berperan aktif dalam mendukung keberlanjutan dan daya saing industri batik nasional.
"Batik bukan sekadar kain, tapi identitas budaya yang punya kekuatan ekonomi besar jika dijaga mutunya, dikuatkan standarnya dan dikenalkan secara berkelanjutan," pungkasnya.