JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi kinerja ekspor batik nasional yang melambung tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor batik RI tembus hingga 7,63 juta dolar AS atau sekitar Rp123,60 miliar (asumsi kurs Rp16.277) hingga triwulan I-2025.
Agus menjelaskan, jumlah tersebut naik sebesar 76,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Kemudian berdasarkan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kemenperin, industri tersebut berhasil menyerap hingga 200.000 tenaga kerja.
Lalu, berdasarkan Direktori Sentra BPS tahun 2020, pelaku industri batik di Indonesia berjumlah sekitar 5.946 industri dan 200 sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di 11 provinsi.
"Ekspor produk batik pada 3 bulan pertama tahun 2025 itu mencapai 7,63 juta dolar AS dan yang penting adalah ekspornya mengalami peningkatan sebesar 76,2 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Jadi, ada kenaikan 76 persen. Kami berikan selamat," ucap Agus dalam Kick Off GBN dan HBN 2025 X Industrial Festival di kantor Kemenperin, Jakarta, dikutip Kamis, 26 Juni.
Menurut Agus, capaian itu diraih saat kondisi ekonomi global sedang menurun dan tidak baik-baik saja.
Pasar global disebut sedang lesu dengan daya beli juga tidak baik-baik saja.
"Pasar global tentu sedang lesu dengan berbagai pertimbangan dan alasan, daya beli dari global market juga sedang tidak baik-baik saja. Tetapi, kami bisa melihat bahwa berdasarkan data BPS ini cukup menggembirakan," kata dia.
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita menuturkan, produk batik RI berhasil tembus ke pasar Afrika Selatan hingga Amerika Serikat (AS).
Afrika Selatan menjadi pasar terbesar untuk batik Indonesia.
"(Ekspornya) kebanyakan ada negara-negara seperti Afrika Selatan, kemudian juga ke Cina, Amerika juga ada. Itu berkat upaya kalau ada event internasional, kan, pakai batik, itu semakin disukai," tuturnya.
Reni menyampaikan, batik yang diekspor akan disesuaikan dengan karakter dan selera di negara tujuan.
Namun secara umum, produk yang cukup dilirik pasar luar negeri adalah produk batik dengan warna-warna teduh atau warna alam.
Adapun Kemenperin dan Yayasan Batik Indonesia akan menyelenggarakan peringatan Gerakan Batik Nasional (GBN) dan Hari Batik Nasional (HBN) pada 30 Juli-3 Agustus 2025 di Pasaraya Blok M, Jakarta, dengan mengusung tema "Bangga Berbatik".
Acara itu diyakini sebagai langkah strategis dalam memacu pengembangan industri batik di dalam negeri agar semakin digemari oleh konsumen domestik bahkan bisa menembus pasar ekspor.
BACA JUGA:
Kemenperin dan YBI menetapkan Batik Tulis Merawit Cirebon terpilih sebagai ikon GBN dan HBN 2025.
Batik Tulis Merawit Cirebon merupakan salah satu batik Nusantara khas Cirebon yang memiliki ciri khas pola halus dengan ornamen detail, berupa garis-garis tipis dengan latar warna terang yang mencerminkan kekayaan seni dan budaya dari Cirebon.
Teknik merawit adalah teknik menggoreskan canting tembokan dengan malam panas yang menghasilkan warna goresan garis kecil, tipis tanpa putus dengan latar kain berwarna muda/terang, sementara garis (outline) berwarna tua/gelap.