Vaksin COVID-19 Akan Habis setelah Lebaran, Menkes Budi Gunadi: Stok 20 Hari Agak Mepet
Ilustrasi (Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA – Melalui keterangan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin terungkap bahwa ketersediaan vaksin COVID-19 di dalam negeri dalam kondisi terbatas.

Dia menyebut bahwa stok vaksin saat ini berada di angka 8 juta dosis. Dari jumlah tersebut, 3 juta diantaranya merupakan produksi dalam negeri melalui Bio Farma. Sementara sisanya merupakan pengadaan dari mancanegara dan sejumlah produsen.

Dalam hitung-hitungannya, laju penyuntikan vaksin sempat menyentuh angka tertinggi 500.000 dosis perhari. Namun, seiring dengan ketersedian stok yang mulai menipis dan periode Ramadan, kecepatan injeksi turun menjadi rata-rata penyuntikan sekitar 350.000 hingga 400.000 dosis perhari.

“Kalau 8 juta saat ini dan penyuntikan 400.000 sehari, kita punya stok 20 hari suntik,” ujar dia saat menggelar rapat virtual, Jumat, 23 April.

Artinya, jika dihitung 20 hari ke depan berdasarkan  momentum Ramadan sekarang, maka aktivitas vaksinasi diperkirakan bakal terhenti pada H+2 atau H+3 setelah Lebaran apabila pemerintah tidak mendapat pasokan baru.

Menkes menambahkan, salah satu rintangan yang menjadi kendala di lapangan adalah terkait dengan proses produksi vaksin yang cukup memerlukan waktu lama.

“Memang agak mepet (stok vaksin saat ini), karena siklus produksi vaksin Bio Farma itu sekitar satu bulan setelah menerima bahan baku,” tutur dia.

Lebih lanjut, mantan bankir tersebut menjelaskan bahwa hingga hari ini Indonesia telah memperoleh 26,2 juta dosis vaksin. Dari jumlah itu, 18 juta sudah disalurkan dalam program vaksinasi. Sedangkan sisanya merupakan stok saat ini yang masih terus disalurkan oleh pemerintah.

Secara total, Indonesia merencanakan pengadaan 426 juta vaksin COVID-19 lewat berbagai upaya. Adapun, jumlah yang telah disepakati oleh pihak produsen sebanyak 225 juta dosis.

Pemerintah disebut Menkes, terus mengupayakan berbagai langkah untuk bisa mengamankan pasokan vaksin agar bisa mencukupi target awal pengadaan.

“Tapi memang jadwal pengiriman bisa bergeser-geser tergantung dari masalah logistik, produksi, dan kadang-kadang persoalan prioritas dari negara produsen,” katanya.

“Kita juga masih menunggu opsi vaksin gratis dari Gavi yang sudah komitmen 11 juta dosis,” sambung Menkes.

Dukungan fiskal

Terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pada Konferensi Pers APBN Kita yang digelar pada Kamis, 22 April menyebutkan anggaran Kesehatan yang terdapat dapat dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 berjumlah Rp176,3 triliun.

Adapun, realisasi hingga Maret 2021 sebesar Rp12,4 triliun atau sekitar 7 persen dari pagu yang disediakan.

Sementera itu, penggunaan anggaran untuk program vaksinasi COVID-19 hingga saat ini disebutkan telah menyedot uang uang negara tidak kurang Rp36 triliun.

Bio Farma kejar produksi

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat tidak khawatir dengan ketersediaan vaksin. Pasalnya, Bio Farma kini tengah bekerja ekstra keras untuk memproduksi vaksin yang didapat dari bulk (bahan baku) asal mancanegara.

"Akan ada tambahan sekitar 20 juta dosis vaksin COVID-19 hasil produksi Bio Farma, sehingga diharapkan program vaksinasi pada bulan April Mei 2021 dapat terus berjalan," katanya di saluran Youtube Sekretariat Presiden, Kamis, 22 April.

 

DPR ingatkan pemerintah

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah segera melakukan langkah taktis guna menjamin ketersediaan vaksin nasional tercukupi

"Kalau pemerintah lambat, maka tujuan herd immunity sulit untuk kita capai," ujar Netty.

Wakil ketua Fraksi PKS ini khawatir Indonesia tidak dapat mewujudkan target 1 juta dosis suntikan perhari karena mengalami kekosongan vaksin.

"Kalau vaksin kita kosong, maka proses vaksinasi tidak bisa dilanjutkan. Pastinya, ini akan berdampak pada tidak tuntasnya vaksinasi dalam waktu 15 bulan sebagaimana target dari pemerintah" katanya.

Impor vaksin tembus Rp6 triliun dalam tiga bulan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengkonfirmasi bahwa Indonesia telah melakukan impor vaksin senilai 443,4 Juta dolar AS atau setara Rp6,49 triliun (kurs Rp14.625) pada sepanjang kuartal I 2021.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka tersebut melonjak 1.315 persen dibandingkan dengan kuartal I 2020.

“Tentu saja peningkatan ini berkaitan dengan kondisi pandemi yang belum terjadi pada awal tahun lalu,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis, 15 April.

Suhariyanto menambahkan untuk impor vaksin pada sepanjang Maret 2021 tercatat sebesar 178,7 juta dolar AS, atau melejit 102,5 persen dari realisasi pada Februari 2020. BPS sendiri menggolongkan vaksin dalam barang impor berkode HS 30022090.

“Perlu diingat bahwa ini merupakan angka realisasi impor vaksin secara keseluruhan dan tidak hanya sebatas pada vaksin COVID-19,” tuturnya.