Bagikan:

JAKARTA - Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ariston Tjendra menyampaikan pergerakan rupiah berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 26 Februari.

Ariston menyampaikan indeks dolar AS berbalik turun lagi, pagi ini bergerak di kisaran 106.27 dibandingkan pada pagi sebelumnya di kisaran 106.75.

"Jatuhnya indeks dolar AS ini dipicu oleh data tingkat keyakinan konsumen AS bulan Februari yang dirilis semalam yang hasilnya jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar, 98,3 vs 102.7, sementara data bulan Januari dirilis 105.3," ujarnya kepada VOI, Rabu, 26 Februari.

Ariston menyampaikan berdasarkan catatan, ini penurunan terbesar yaitu sekitar 7 poin dibandingkan bulan sebelumnya dalam 2,5 tahun terakhir.

Selain itu, Ariston menyampaikan turunnya tingkat keyakinan konsumen AS ini dikaitkan dengan ekspektasi kenaikan tarif impor Presiden Trump yang akan menaikan harga-harga konsumsi dalam negeri AS.

Ariston menyampaikan penurunan tingkat keyakinan konsumen AS ini bisa berujung pada pelambatan ekonomi AS karena konsumsi memegang peranan besar dalam pertumbuhan ekonomi AS sehingga ini membuka harapan pemangkasan tingkat suku bunga acuan di AS.

Tapi di sisi lain, Ariston menyampaikan gaung kenaikan tarif Presiden Trump masih menjadi momok dan memberikan sentimen negative untuk aset berisiko.

"Tingkat keyakinan konsumen yang anjlok bisa menjadi bukti bahwa kebijakan tarif Trump ini memberikan dampak negatif untuk pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada Rabu, 26 Februari, berpotensi menguat terbatas terhadap dolar AS ke arah level Rp16.300 per dolar AS dengan potensi pelemahan ke level Rp16.400 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar Rupiah hari Selasa, 25 Februari 2025, Kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,57 persen di level Rp16.371 per dolar AS. Sementara, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup turun 0,07 persen ke level harga Rp16.316 per dolar AS.