JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan inflasi akan meningkat karena adanya kenaikan kelompok harga bergejolak.
"Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia untuk bulan Januari 2025 diperkirakan mencatat tingkat inflasi bulanan sebesar 0,40 persen (mom), turun dari 0,44 persen (mom) di bulan Desember 2024," ujarnya dalam keterangannya, Senin, 3 Februari.
Menurutnya kelompok harga bergejolak menjadi pendorong terbesar inflasi sepanjang bulan Januari yang lalu. Meski demikian, ia memperkirakan inflasi kelompok harga bergejolak secara bulanan akan naik 1,71 persen (mom), sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mengalami kenaikan 2,04 persen (mom).
Josua menyampaikan kenaikan inflasi harga bergejolak sejalan dengan pola musiman dari masalah pasokan bahan makanan menjelang musim panen. Di sisi lain, seiring dengan berkurangnya permintaan dari musim liburan, inflasi harga bergejolak cenderung menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Selain itu, indeks harga yang diatur pemerintah secara bulanan diperkirakan akan stabil, karena pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga yang signifikan untuk energi atau barang/jasa lainnya.
Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan sedikit meningkat menjadi 0,18 persen (mom) dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah dan kenaikan harga emas.
Josua memperkirakan secara tahunan (year on year (YoY) tingkat inflasi umum akan meningkat dari 1,57 persen pada Desember 2024 menjadi 1,94 persen di Januari 2025. Sebaliknya, inflasi IHK inti tahunan diperkirakan turun tipis menjadi 2,24 persen dari 2,26 persen di Desember 2024.
Selain itu, Indeks harga yang diatur pemerintah diperkirakan akan menunjukkan tingkat inflasi sebesar 1,05 persen (yoy), sedangkan indeks harga bergejolak diperkirakan mengalami inflasi sebesar 1,82 persen (yoy).
"Kami memperkirakan inflasi akan meningkat menjadi sekitar 2 persen di tahun 2025, seiring dengan revisi peraturan kenaikan tarif PPN oleh pemerintah," ujarnya.
Sebelumnya, Josua menilai inflasi domestik berpotensi meningkat hingga 3 persen pada tahun 2025. Namun, pengumuman pemerintah baru-baru ini terkait revisi kebijakan tarif PPN dapat membatasi dampaknya terhadap inflasi.
BACA JUGA:
Lebih lanjut, Josua menyampaikan setelah perlambatan yang cukup signifikan di tahun 2024, inflasi di tahun 2025 akan terus dipengaruhi oleh low base effect.
Menurutnya terlepas dari faktor-faktor yang didorong oleh kebijakan, ia mengantisipasi kenaikan inflasi karena pemulihan permintaan konsumen yang sedang berlangsung, yang berpotensi menyebabkan peningkatan inflasi sisi permintaan yang moderat.
"Kami memperkirakan inflasi akan tetap berada dalam kisaran target BI sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen hingga akhir tahun ini," ujarnya.