Bagikan:

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) tidak memungkiri terjadi penguatan dolar AS yang menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa kondisi itu tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga di berbagai negara berkembang lain, seperti India dan Filipina.

“Ketidakpastian perekonomian global kembali meningkat dengan kecenderungan risiko pertumbuhan yang melambat dan kebijakan suku bunga moneter di negara maju yang lebih tinggi,” ujarnya dikutip Jumat, 23 Juni.

Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan sebesar 2,7 persen year on year (yoy) dengan risiko perlambatan terutama di Amerika Serikat (AS) dan China.

Perry menyampaikan pula di AS tekanan inflasi masih tinggi terutama karena keketatan pasar tenaga kerja, di tengah kondisi ekonomi yang cukup baik dan tekanan stabilitas sistem keuangan (SSK) yang mereda, sehingga mendorong kemungkinan kenaikan Federal Funds Rate (FFR) ke depan.

“Kebijakan moneter juga masih ketat di Eropa, sedangkan di Jepang masih longgar. Sementara itu, di China pertumbuhan ekonomi juga tidak sekuat prakiraan di tengah inflasi yang rendah sehingga mendorong pelonggaran kebijakan moneter,” tuturnya.

Perry menambahkan, pemulihan ekonomi di negara berkembang lain, seperti India, tetap kuat didorong oleh permintaan domestik dan ekspor jasa.

“Kondisi ekonomi di negara maju dan berkembang tersebut mendorong nilai tukar dolar AS cenderung melemah terhadap mata uang negara maju, tetapi menguat terhadap mata uang negara berkembang,” tegasnya.

“Perkembangan tersebut memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi risiko rambatan terhadap ketahanan eksternal di negara berkembang, termasuk Indonesia,” tutup Perry.