Bagikan:

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menunjukkan ketangguhan di tengah berbagai tantangan global tercermin dari level inflasi Indonesia yang terus menunjukkan kinerja baik dengan terjaga di kisaran sasaran 3,0 persen plus minus 1 persen yakni sebesar 2,61 persen (yoy) pada bulan Desember 2023.

Hal ini salah satunya didukung oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang mampu tumbuh sebesar 5,08 persen (yoy) dengan kontribusi sebesar 12,96 persen terhadap PDB.

Sedangkan dari sisi demand, sektor Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 5,06 persen (yoy) dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 52,62 persen.

Keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi juga terus meningkat, terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Desember 2023 sebesar 123,8 dan lebih tinggi dibandingkan bulan November yang tercatat sebesar 123,6.

“Kinerja perdagangan juga baik dari segi ekspor positif terus. Bahkan kita positif dengan China. Nah, ini tentunya akibat daripada kebijakan hilirisasi. Dan kita tidak membayangkan bahwa kita pada titik di 2023 bahwa kita bisa positif dengan China," tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya, dikutip Rabu 17 Januari 2024.

Bahkan, Airlangga menyampaikan, Indonesia juga menjalin hubungan positif dengan hampir seluruh mitra dagang lainnya seperti Eropa, dengan India dan Amerika.

Sehingga hal tersebut menjadi kunci kekuatan dalam perekonomian Indonesia.

Airlangga mengatakan, sektor ritel menjadi indikator untuk melihat bagaimana ekonomi makro berjalan, salah satunya dengan memperhatikan kinerja penjualan ritel.

Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil bulan Desember 2023 tetap kuat yaitu sebesar 217,9 atau tumbuh 0,1 persen (yoy).

Secara bulanan, penjualan eceran juga diperkirakan meningkat di bulan Desember sebesar 4,8 persen (mtm) sejalan dengan meningkatnya permintaan karena perayaan Natal danTahun Baru.

Melansir data dari Euromonitor, jumlah ritel di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 3,98 juta unit, yang mencakup toko kelontong tradisional hingga hypermarket.

Adapun dalam laporan tersebut juga mencatat penjualan ritel di Indonesia mencapai 100,4 miliar dolar AS atau setara Rp1.526,2 triliun, meningkat 8,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ini menunjukkan peranan ritel untuk menunjang ekonomi serta pemenuhan kebutuhan konsumen,” ujar Airlangga.

Airlangga mengatakan, untuk menjaga agar bisnis ritel tetap tumbuh, Pemerintah saat ini telah melakukan penyempurnaan regulasi terkait kemudahan impor dan kemudahan berusaha terutama terkait perizinan berusaha yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

Selain itu, Airlangga menyampaikan Pemerintah telah mempertimbangkan pengaturan yang mengakomidir pola bisnis perusahaan global yang mengimplementasikan global supply chain dan ini akan menjadi salah satu kemudahan.

“Dalam pengembangan sektor ritel, kita harus mempelajari kebijakan negara lain, apakah itu tetangga kita Singapura maupun Thailand, itu menjadi benchmark bagaimana wisata belanja itu bisa digunakan sebagai driver ataupun sebagai pengungkit untuk mendatangkan wisatawan mancanegara,” kata Airlangga.

Airlangga mengatakan, sektor swasta sebagai tulang punggung ekonomi nasional harus berperan aktif dalam berinvestasi dan berinovasi menciptakan konsep baru dalam memenuhi kebutuhan dan gaya hidup konsumen saat ini.

“Dan tentu ritel ini menjadi hilirisasi daripada produk-produk nasional dan juga ritel ini menjadi salah satu masukan untuk pertumbuhan ekonomi. Nah, ini yang harus kita persiapkan,” pungkas Airlangga.