Kontribusi Acara KTT G20 Capai Rp7,5 Triliun Terhadap PDB Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Ketua Bidang Dukungan Penyelenggara Acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 (foto: dok. antara)

Bagikan:

JAKARTA -  Ketua Bidang Dukungan Penyelenggaraan Acara G20 Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa kontribusi rangkaian KTT G20 mencapai 533 juta dolar (sekitar Rp7,5 triliun) terhadap PDB Indonesia tahun 2022.

“Penyelenggaraan KTT G20 akan memberi banyak manfaat bagi Indonesia,” kata Luhut dalam konferensi pers menjelang KTT G20 di Nusa Dua, Bali, pada Sabtu.

Selain itu, konsumsi domestik yang didorong oleh rangkaian forum G20 diperkirakan naik sampai Rp1,7 triliun dan membangkitkan serapan tenaga kerja hingga lebih dari 33 ribu orang terutama di sektor transportasi, akomodasi, MICE, dan UMKM.

“Sebagian besar uang tersebut akan berputar di Bali. Kita tahu bahwa selama pandemi kemarin Bali sangat menderita.. sekarang kita berharap ini bisa mengobati luka yang begitu dalam di Bali selama dua tahun lalu,” kata Luhut.

Luhut menjelaskan G20 telah memberikan dampak terhadap ekonomi nasional maupun Bali, serta meningkatkan kepercayaan internasional bahwa Indonesia memiliki peran strategis dalam percaturan global.

Dia pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama menyukseskan gelaran KTT G20 di bawah presidensi Indonesia, sebagai sebuah momentum bersejarah yang terjadi dalam 20 tahun sekali.




“Saya mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk membawa forum KTT G20 bermanfaat untuk dunia. Tunjukanlah bangsa ini adalah bangsa besar, bangsa yang mampu mengedepankan perdamaian,” tutur Luhut.

“Kita siap menyambut KTT G20 ini,” ujar dia menambahkan.

Diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, pada 15-16 November 2022, KTT G20 akan dihadiri 17 kepala negara/pemerintahan.

Pemimpin negara G20 yang telah mengonfirmasi kehadirannya dalam KTT adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Prancis, China, Turki, dan Uni Eropa. Sementara kepala negara/pemerintahan dari Rusia, Brazil, dan Meksiko menyatakan tidak dapat hadir.