Kemenkop UKM: Presidensi G20 jadi Ajang Promosi UMKM Indonesia di Tingkat Dunia
Staf Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kementerian Koperasi dan UKM, Eddy Satriya. (Tangkapan layar)

Bagikan:

JAKARTA - Indonesia memanfaatkan Presidensi G20 Indonesia dan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang digelar di Bali pada November 2022 untuk menampilkan beragam hasil karya terbaik Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Tercatat dari 1.024 yang dikurasi, telah diperoleh 20 UMKM yang dinyatakan siap sebagai pemasok.

Staf Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kementerian Koperasi dan UKM, Eddy Satriya mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM menjembatani pelaku UMKM untuk bisa unjuk gigi pada perhelatan Presidensi G20.

"Salah satunya mematangkan kapasitas pelaku dan kualitas produk yang akan dijadikan menchandise resmi G20 Indonesia," katanya dalam jumpa pers #G20Update bertema “Kesiapan Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi KTT G20” yang digelar Tim Komunikasi dan Media G20 secara virtual di Jakarta, Kamis, 6 Oktober.

Kemenkop UKM melakukan kurasi dengan menggandeng SMESCO dan kurator independen.

Para kurator yang terlibat adalah ESMOD Jakarta, Patrive Desilles; Graphic design profesional, Uci Sumarno; Dewan Kerajinan Indonesia, Yukako Akashi; dan PPA Kosmetika Indonesia, Solihin Sofian.

"Dari 1.024 yang dikurasi, telah diperoleh 20 UMKM yang dinyatakan siap sebagai pemasok. Mereka yang terpilih adalah UMKM yang bergerak di sektor craft, fasyen, makanan, kosmetik, herbal dan wellness yang tersebar di seluruh Indonesia," ucapnya.

Di antaranya Pandora Mutiara asal Nusa Tengara Barat, Kallestory Eyewear (DI Yogyakarta), Borobudur Silver (DIY), Maharani Craft (Bali) , Batika (NTB), Hape (Bali).
Kemudian Dehealth Supplies (Jawa Timur), Fragrande Kreasi Alami (Jawa Barat), Adem Juice & Smoothies (Bali), Tri Utami Jaya (NTB), Yagi Natural Indonesia (Aceh), Cocomama Komodo (NTT) Samsara (Bali), Rumah Atsiri (Jawa Tengah).

Lalu, Faber Instrument Indonesia (Jawa Barat), Pala Nusantara (Jawa Barat), Wonnow Handcrafted (Jawa Timur), Suryoart (Jawa Tengah), Hucravindo (Jawa Timur), Furniwell Calistaprima ( Jawa Tengah), Lima Menara Sejahtera (Bali), Lewi’s Organics (Banten), serta Imagenation (Jawa Barat).

"Ini gambaran bagaimana Kemenkop UKM sangat serius. Kami memaksimalkan Presidensi G20 agar sebanyak mungkin UMKM bisa berpartisipasi," ujar Eddy.

Untuk terus menguatkan UMKM, kata Eddy, Kemenkop UKM mempunyai empat level transformasi digital, yaitu pertama transformasi informal ke formal; pemanfaatan inovasi dan digitalisasi; transformasi rantai pasok dan wirausaha; serta transformasi koperasi modern.

"Rantai pasok ini yang besar kaitannya dengan G20. Kita harapkan seluruh lapisan termasuk dukungan pemerintah daerah terus mendorong produk UMKM unggulan meningkatkan kapasitasnya. Karena kelokalan ini yang menjadi kekuatan kita untuk mendunia," ucapnya.

Maka dari itu, kata Eddy, pemerintah terus berupaya membangun kemitraan dalam rantai pasok.

Termasuk di dalamnya pendampingan sebagai penyedia dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, yaitu 40 persen belanja APBN dan APBD mengarah untuk produk UMKM.

Sekadar informasi, World Bank mencatat 80 persen UMKM Indonesia yang masuk ekosistem digital memiliki resiliensi lebih baik di masa pandemi.

Pemerintah pun menargetkan hingga 2024 sebanyak 30 juta UMKM yang onboarding ke ekosistem digital.

"Saat ini sudah ada 19,5 juta. Tidak semua memang UMKM bangkit. Namun tidak sedikit pula yang berhasil memanfaatkan digitalisasi ketika terjadi pandemi. Target 30 juta ini tidak hanya skala nasional, tapi termasuk internasional," kata Eddy.

Adapun Presidensi G20 Indonesia yang berlangsung sejak Desember 2021 hingga November 2022 telah menggelar lebih dari 160 kegiatan resmi dan berpotensi membuka 33.000 lapangan kerja dengan nilai konsumsi mencapai Rp1,7 triliun.

"Ini tentu sesuatu yang luar biasa. Ada 20.000 delegasi masuk ke Indonesia," tuturnya.