Kiamat Minyak Goreng Bukan Mengada-ngada! Kapal Laut Bakal Gunakan Sawit untuk Bahan Bakar
Ilustrasi (Foto: Dok. Antara)

Bagikan:

JAKARTA – Peningkatan harga minyak sawit nampaknya masih akan terus berlanjut dipicu oleh tingginya sisi permintaan dari pasar.

Terbaru, industri maritim disebut-sebut bakal menjadi pemain anyar yang siap melahap sumber energi terbarukan tersebut. Analisis itu disampaikan oleh mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.

Menurut dia, saat ini aktivitas perdagangan dan pengiriman barang yang memanfaatkan jasa kapal laut semakin meningkat di era pandemi. Kondisi itu telah memicu peningkatan emisi karbon dan gas buang.

“Untuk itu International Marine Organization (IMO) tengah berupaya keras untuk mengurangi lebih banyak gas rumah kaca mengotori atmosfer,” ujarnya melalui akun Instagram pribadi @arcandra.tahar dikutip Minggu, 17 April.

Mantan Menteri ESDM itu menyebut para pemain di industri maritim kini tengah membidik sejumlah opsi penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan menggantikan sumber energi fosil yang selama ini digunakan.

Pertama adalah menggunakan biofuel yang berasal dari kelapa sawit (FAME) atau dari Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).

“Kendala utama dari biofuel ini adalah ketersediaannya karena FAME dan HVO juga digunakan untuk industri makanan seperti minyak goreng,” tuturnya.

Arcandra lantas menerangkan persaingan antara biofuel untuk energi bersih dan biofuel untuk industri makanan akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

“Memilih antara kedua opsi itu tentunya menjadi dilema tersendiri. Apalagi dampak dari persaingan itu sudah sangat terasa hari ini,” tegas dia.

Sebagai informasi, salah satu produk turunan minyak sawit, yaitu minyak goreng, kini tengah menghadapi lonjakan harga yang signifikan.

Hal tersebut tidak lepas dari orientasi penggunaan minyak sawit di dalam negeri yang juga disalurkan untuk kepentingan program B30. Belum lagi pemenuhan pasar ekspor dengan tawaran harga yang lebih baik.

Selain minyak dari sumber nabati, Arcandra memaparkan pula sumber energi yang lebih bersih dapat diperoleh dari minyak synthetic dan bahan bakar LNG.

“Inilah pilihan energi dalam masa transisi yang insyaa Allah mampu membuat bumi kita lebih bersih,” tutup Arcandra.