Bagikan:

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani melaporkan bahwa nilai subsidi energi yang dikeluarkan oleh pemerintah hingga Februari 2022 mencapai nilai Rp21,7 triliun. Menurut dia besaran tersebut melonjak cukup signifikan karena dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas energi yang naik secara global.

“Realisasi anggaran yang disalurkan ke nonkementerian dan nonlembaga dalam bentuk subsidi BBM, LPG, dan listrik adalah sebesar Rp21,7 triliun,” ujarnya ketika menemui awak media melalui saluran daring dalam paparan APBN Kita, Senin, 29 Maret.

Menurut Menkeu, melesatnya nilai subsidi pada awal tahun ini tidak luput dari kurang bayar periode 2021 yang sebesar Rp10,17 triliun dan dibebankan di 2022..

Sementara realisasi subsidi pembayaran subsidi energi pada 2021 adalah sebesar Rp12,2 triliun dan pada 2020 sebesar Rp10,8 triliun.

“Subsidi energi juga dipengaruhi oleh kenaikan pemakaian BBM dan LPG seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat,” tutur dia.

Secara terperinci Menkeu menjelaskan realisasi penggunaan BBM bersubsidi hingga Januari 2022 adalah sebanyak 1,39 juta kilo liter atau tumbuh dari 2021 yang tercatat 1,18 juta kilo liter.

Sementara untuk LPG 3 Kg bersubsidi sebesar 632,7 juta Kg pada 2022 dari sebelumnya 603,2 juta Kg di Januari 2021.

Adapun untuk listrik disebutkan telah dinikmati oleh 38,2 juta pelanggan di bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan 37,2 pelanggan periode yang sama 2021.

“Jadi kita lihat, sekarang ini APBN mengalami tekanannya bukan hanya di sisi kesehatan namun beralih kepada barang-barang yang dikonsumsi masyarakat yang sebetulnya telah mengalami kenaikan harga namun belum dilakukan perubahan,” tegas Menkeu Sri Mulyani.