Potensi Raup Pendapatan Rp10 Triliun, Perusahaan Milik Konglomerat Hartono Bersaudara Ini adalah Calon Raja Menara di Indonesia
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Bagikan:

JAKARTA - Baru-baru ini, perusahaan menara PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) bergabung ke dalam tubuh PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang merupakan unit usaha Grup Djarum milik konglomerat Hartono Bersaudara.

Aksi pencaplokan SUPR ini, berpotensi mendorong TOWR menjadi calon raja menara di Indonesia. Pasalnya, baik dari sisi aset maupun kinerja fundamental, TOWR dapat mengungguli para kompetitor lain seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) maupun PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel.

Sebagai catatan saja, TOWR berhasil mencetak pendapatan sebesar Rp6,06 triliun di kuartal III 2021. Jumlah tersebut naik 9,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp5,55 triliun.

Pendapatan sewa menara masih menjadi motor utama raupan TOWR di kuartal III 2021 dengan torehan mencapai Rp5,63 triliun. Yang menjadi pelanggan utama adalah PT XL Axiata Tbk (EXCL) sebesar Rp1,7 triliun atau 28 persen dari total pendapatan. Lalu, PT Hutchison 3 Indonesia Rp1,6 triliun atau setara kontribusi 26 persen.

Kemudian ada anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yaitu Telkomsel juga menjadi kontributor dengan torehan 14 persen yang setara Rp848,9 miliar.

Selain berhasil "ngegas" di topline, TOWR juga mampu menurunkan beban-beban. Di antaranya adalah beban penjualan dan pemasaran sebesar 26,27 persen year-on-year (yoy), biaya keuangan 10,18 persen yoy, dan beban usaha lainnya 95 persen.

Setelah dikurangi dengan beban-beban lain serta pajak, total laba bersih yang diraup oleh TOWR adalah Rp2,57 triliun. Jumlah itu naik 28,78 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp1,98 triliun.

Perlu diingat, pada 1 Oktober 2021, Protelindo telah menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham atas PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) sebanyak 1,06 miliar saham atau sama dengan 94,03 persen dari modal ditempatkan dan disetor.

Pengambilalihan saham ini dilakukan melalui proses lelang kompetitif selama 4 bulan, dan Protelindo telah terpilih menjadi pemenang lelang. Harga pembelian saham oleh TOWR adalah Rp15.640 per saham. Dengan demikian unit usaha Grup Djarum itu mengeluarkan modal hingga Rp16,72 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan TOWR, perseroan menerima sejumlah fasilitas pinjaman dari beberapa bank. Diantaranya adalah PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp1 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rp2 triliun, PT Bank Mizuho Indonesia Rp2 triliun dan PT Bank CIMB Niaga Tbk Rp1 triliun.

Sampai dengan akhir 2020, SUPR memiliki 6.422 menara dengan penyawaan site menara 12.145 kali. Selain itu, rasio penyewaan menara sebesar 1,89 kali dengan jaringan serat kabel optik 6.277 kilometer.

Sebanyak 63 persen dari menara SUPR terpusat di Jawa dengan 13 persen di antaranya adalah Jakarta. Sementara 24 persen sisanya adalah Sumatera dan 13 persen lainnya wilayah Indonesia Timur.

Mengutip bisnis.com, analis dari Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan, dirinya mematok target harga saham TOWR lebih tinggi Rp2.150 dari posisi sebelumnya Rp1.170.

"Kami juga menaikkan asumsi pendapatan TOWR dengan penambahan 6.410 tower baru dan kolokasi 1,87 kali yang diberikan SUPR,” katanya.

Pada tahun depan, Hendriko memperkirakan pendapatan TOWR mampu tembus Rp10,24 triliun dengan laba bersih Rp3,9 triliun. Selain itu, price earning ratio berada di kisaran 14,9 kali dengan dividen yield 2,9 persen.