Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah terus mendorong usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk bertransformasi ke digital atau online. Saat ini, UMKM yang terintegrasi dengan pasar digital meningkat 105 persen menjadi 16,4 juta pelaku. Hal tersebut didorong dengan tingginya perdagangan online.

Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki mengatakan bahwa pandemi COVID-19 mempercepat digitalisasi UMKM. Dengan semakin banyaknya UMKM yang terintegrasi dengan pasar digital, maka sektor ini akan semakin cepat pulih.

"Tatanan normal baru saat ini di tengah pandemi mendorong pola perdagangan online semakin menggeliat. Saat ini sudah 16,4 juta atau naik 105 persen sejak pandemi UMKM yang sudah tergabung ke ekosistem digital," tuturnya dalam acara Launching Etalase Digital Produk UMKM Ber-SNI, Selasa, 30 November.

Teten mengatakan dengan semakin banyaknya UMKM yang masuk ke pasar digital, maka akan memudahkan pemerintah untuk mendorong UMKM tersebut ke rantai pasok global titik a sehingga diperlukan standarisasi produk dengan memberikan sertifikasi Standar Nasional Indonesia atau SNI.

"Karena itu untuk mendorong UMKM masuk ke dalam rantai pasok maka kami juga melaksanakan program-program. Nah ini penting SNI ada kaitan dengan program utama kita yaitu mendorong UMKM kita menjadi bagian dari pada rantai pasok industri," ucapnya.

Teten mengatakan bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan tahun 2018 menunjukkan bahwa tantangan besar UMKM terletak pada daya saing produk. UMKM Indonesia masih kalah dengan negara-negara seperti Singapura.

"Asean Indonesia berada di peringkat ke-4 setelah Singapura, Malaysia dan Thailand. Produk UMKM dapat berdaya saing global memerlukan pengembangan produk, perizinan usaha, standardisasi dan sertifikasi sehingga produk-produk UMKM mempunyai nilai jual tinggi," tuturnya.

Menurut Teten, aspek daya saing produk-produk UMKM nasional menjadi hal yang paling krusial saat ini. Untuk meningkatkan daya saing ekspor produk UMKM Indonesia, pemerintah bekerja sama dengan sekolah ekspor untuk mendorong peningkatan kompetensi pelaku usaha.

"Kami bekerja sama dengan sekolah ekspor Sipo, Prasetiya Mulya, Universitas Padjadjaran, IPB. Ini khusus Padjadjaran dan IPB untuk UMKM yang berbasis agro," ucapnya.

Menurut Teten, cara ini dilakukan untuk meningkatkan sejumlah produk UMKM yang diekspor. Sebab saat ini produk ekspor UMKM Indonesia masih dibawah ekspor Migas atau komoditas sumber daya alam lainnya.

Seperti diketahui, sektor UMKM mendominasi 99,9 persen atau 65,4 juta dari pelaku usaha di Indonesia. Sektor ini juga berkontribusi 61 persen terhadap PDB nasional dan mampu menyerap tenaga kerja hampir 97 persen.

"Pelaku UMKM memberikan dampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan terutama pada saat pandemi serta bagian dari pada pemulihan ekonomi nasional," tuturnya.