Sekali Baca Memahami Misteri Tewasnya Gabby Petito dan Menghilangnya Brian Laundrie
Gabby Petito (Instagram/@gabspetito)

Bagikan:

JAKARTA - Jagat maya tengah geger atas kasus pembunuhan terhadap selebgram wanita asal Amerika Serikat (AS) bernama Gabby Petito. Petito tewas, dengan jasad ditemukan di tepi Taman Nasional Grand Teton di Wyoming. Kematian Petito meninggalkan sejumlah teka-teki hingga kini.

Sebelum ditemukan tewas, Gabby Petito melakukan perjalanan liburan bersama tunangannya, Brian Laundrie, sejak akhir Juni. Petito dan Laundrie meninggalkan rumah orang tua Laundrie di North Port, Florida, dengan van Ford Transit 2012 berwarna putih.

Mereka berkendara ke negara bagian Petito di New York untuk menghadiri acara kelulusan adik Laundrie. Keduanya lalu melanjutkan perjalanannya. Petito dan Laundrie juga mendokumentasikan perjalanan mereka di YouTube dan media sosial.

Sepanjang perjalanan, Petito terus melakukan kontak rutin dengan keluarganya, menurut pihak berwenang. Petito dan Laundrie juga kerap mengunjungi berbagai taman nasional, seperti Monument Rocks, Colorado Springs, Taman Nasional Great Sand Dunes, dan Taman Nasional Zion. Area tersebut masing-masing dikunjungi pada 5, 8, 10, dan 16 Juli.

Mereka pun berfoto dan mengunggahnya di media sosial. Pasangan ini terus melakukan perjalanan hingga Agustus. Masih berdasarkan unggahan media sosial Petito, mereka juga berkunjung ke Taman Nasional Arches. Akun Instagram Petito menunjukkan fotonya dan Laundrie di Delicate Arch, yang fotonya diambil pada 9 Agustus namun baru diunggah pada 12 Agustus.

Brian Laundrie dan Gabby Petito (Instagram/@bizzaredesign)

Pada 12 Agustus ini, hari yang sama dengan pengakuan seorang saksi bahwa Petito dan Laundrie terlibat cekcok. Saksi melapor ke polisi di Moab, Utah dan mengatakan terjadinya pertengkaran fisik. Polisi lalu menghentikan van mereka untuk pemeriksaan kesehatan.

Petito dilaporkan sempat mencakar Laundrie. Tetapi ia mengaku kepada polisi bahwa sedang jatuh cinta dan tidak ingin mengajukan tuntutan. Menurut laporan polisi, Laundrie mengatakan kepada petugas bahwa bepergian selama empat atau lima bulan terakhir menciptakan "ketegangan emosional di antara mereka."

Polisi pun menyimpulkan hal tersebut bukan "kekerasan dalam rumah tangga" tetapi "krisis kesehatan mental." Pada 19 Agustus, seperti biasa terdapat unggahan baru dari media sosial yaitu sebuah video yang menggambarkan perjalanan Petito dan Laundrie yang diunggah ke YouTube. Petito juga mengunggah dua foto ke Instagram, salah satunya menunjukkan van putih dari atas. Untuk kali ini, Petito tidak menunjukkan lokasi ia berada.

Mengutip Reuters, Petito terakhir terlihat pada 24 Agustus. Saat itu ia meninggalkan hotel di Salt Lake City. Petito untuk terakhir kalinya mengunggah foto di Instagram pada 25 Agustus dan kembali tak memberi keterangan lokasi di mana ia berada. Hari itu juga kali terakhir ibu dari Pepito, Nicole Schmidt berbicara dengannya. Petito memberi tahu ibunya ia dan Laundrie menuju Taman Nasional Grand Teton di Wyoming.

Laundrie pulang tanpa Pepito

Gabby Petito (Instagram/@gabspetito)

Sejak saat itu Petito benar-benar tidak ada kabar. Pihak keluarga juga sulit menghubungi Petito. Mereka mulai memasang iklan di Facebook untuk mencari keberadaan Petito. Hingga akhirnya pada 1 September, Brian Laundrie pulang namun tanpa Petito. Laundrie tidak mengatakan satu patah kata pun tentang keberadaan Petito.

Keluarga Petito akhirnya memutuskan untuk melaporkan orang hilang ke polisi di Suffolk County, New York. Pencarian terhadap Petito pun dimulai. Keadaan semakin mencurigakan ketika keluarga Laundrie mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa Brian Laundrie menunjuk seorang pengacara untuk mewakili dirinya berbicara.

Pernyataan tersebut juga menyatakan bahwa Laundrie tidak akan berbicara dengan penegak hukum. Sikap Laundrie membuat polisi menetapkannya sebagai seseorang yang memiliki informasi yang berkaitan dengan kejahatan dalam kasus ini. Hal tersebut dikarenakan Laundrie yang terus menutup mulutnya dan terus menolak berbicara dengan pihak penyelidik.

Pencarian Petito pun terus berlanjut. Namun pada 17 September, orang tua Laundrie melaporkan bahwa Laundrie hilang selama tiga hari. Sebelumnya Laundrie pamit untuk pergi hiking sendirian ke cagar alam Carlton Reserve. Polisi lalu mulai mencari keberadaan Laundrie.

Dalam waktu bersamaan, pihak berwenang melaporkan mereka berhasil menemukan sesosok jasad. Jasad tersebut ditemukan di Taman Nasional Bridger Teton di Wyoming. Lokasi tersebut sebelumnya direkam oleh blogger yang tengah melakukan perjalanan dan melalui Taman Nasional Bridger Teton pada 29 Agustus.

Di video tersebut, terlihat van putih yang diparkir di pinggir jalan. Van tersebut diyakini adalah van milik Laundrie dan Petito. Jasad tersebut lalu diotopsi dan dipastikan bahwa ia adalah Gabby Petito. Penyelidik belum mengatakan bagaimana Petito meninggal, tapi tim medis memastikan kematian Petito diakibatkan pembunuhan. Pihak berwenang telah memastikan Brian Laundrie sebagai orang yang memiliki keterkaitan dalam kasus tersebut.

Brian Laundrie menghilang dan kenapa polisi kesulitan mencarinya

Brian Laundrie dan Gabby Petito (Instagram/@gabspetito)

Mengutip CNN, sekitar 75 personel dari 16 lembaga melakukan pencarian terhadap Laundrie, kata juru bicara kepolisian North Port Josh Taylor. Taylor mengatakan FBI memimpin penyelidikan dan polisi setempat "membantu mitra federal kami dengan cara apa pun yang kami bisa untuk menyelesaikan penyelidikan ini."

Pencarian ini juga melibatkan tim penyelam yang akan melalukan pencarian di Carlton Reserve. Polisi Port awalnya memfokuskan pencarian di hutan belantara Carlton Reserve, mengandalkan drone untuk video dan anjing pelacak yang menggunakan pakaian Laundrie untuk mendapatkan aromanya.

Pada Senin, 20 September, polisi mengatakan mereka mengalihkan fokus pencarian dan tidak lagi mencari Laundrie di cagar alam tersebut. "Saat ini, kami saat ini percaya bahwa kami telah memeriksa semua jalan di sana," kata Taylor.

Namun, pada Selasa 21 September polisi mengatakan bahwa mereka kembali mencarinya di cagar alam. Pihak berwenang telah berada di lokasi sejak pagi. Carlton Reserve dikenal sebagai cagar alam yang berbahaya dan luas. Banyak area yang tengah banjir tinggi di area tersebut. Hal itulah yang membuat polisi sulit melakukan pencarian.

"Ini adalah pekerjaan berbahaya bagi kru pencarian karena mereka mengarungi rawa-rawa yang dipenuhi buaya dan ular serta jalur hiking dan bersepeda yang banjir," kata Taylor.

Kurangnya sinar matahari juga mempengaruhi visibilitas untuk melakukan pencarian, menurut direktur eksekutif dari Asosiasi Nasional untuk Pencarian dan Penyelamatan (NASAR) Chris Boyer. Gelapnya malam juga sangat menghambat usaha pencarian, terutama jika orang yang dicari tidak memiliki sumber cahaya atau api.

Ketika menyangkut orang-orang yang menghindari tindakan hukum, pencarian menjadi jauh lebih sulit. Orang yang sedang kabur dari kasus kriminal, kemungkinan besar telah memiliki rencana dengan mengenakan pakaian yang membantu mereka berbaur dengan lingkungan Carlton Reserve.

Selain itu untuk menghindari terlihat oleh helikopter atau drone, bisa juga ia berjalan dengan merangkak dan sebisa mungkin tidak meninggalkan jejak, seperti jejak kaki, sampah, atau bukti pembakaran.

Boyer mengatakan teknologi seperti kacamata khusus malam hari, drone, dan sensor termal dapat membantu menentukan lokasi seseorang. Boyer mengatakan mencoba menemukan seseorang di hutan belantara ini bisa sangat sulit.

Hal yang membuat sulit menemukan Laundrie juga adalah jarak yang bisa ia tempuh sebelum pihak berwenang mulai mencarinya. Bisa saja ia sudah berjalan begitu jauh sebelum polisi mendapat laporan.

"Area pencarian mulai bertambah setiap jam dia bisa berada di dalam mobil atau berjalan kaki," kata Boyer. "Ini menjadi sangat menakutkan, jujur saja."

Selain dicurigai terlibat dalam kematian Gabby Petito, Laundrie juga didakwa karena menggunakan kartu debit secara ilegal. Surat perintah penangkapan telah dikeluarkan untuk Brian Laundrie oleh dewan juri federal.

Ia didakwa atas penggunaan kartu Capital One Bank dan nomor identifikasi pribadi seseorang untuk melakukan penarikan tidak sah senilai lebih dari 1.000 dolar AS selama periode di mana Petito menghilang. Surat dakwaan tidak mengatakan siapa pemilik kartu itu dan sifat dakwaannya belum diungkapkan.

*Baca Informasi lain soal BERITA INTERNASIONAL atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

BERNAS Lainnya