Pedofil Bukan Bisnis yang Bagus: Di Balik <i>Cancel Culture</i> Saipul Jamil
Saipul Jamil (Sumber: saipuljamil.com)

Bagikan:

JAKARTA - Glorifikasi kebebasan Saipul Jamil memantik cancel culture. Petisi menolak penampilan Saipul di ruang publik memancing partisipasi besar. Televisi yang menghadirkan Saipul dalam program mereka jadi sasaran kritik. Bahkan brand-brand yang mensponsori program itu jadi sorotan. Jika sudah begini, apa Saipul masih bisnis yang bagus untuk industri hiburan?

Petisi itu pertama kali muncul Jumat, 3 September, beberapa jam setelah Saipul bebas dan glorifikasi pemberitaannya masif dipertontonkan media massa, khususnya infotainment. Petisi yang digagas Lets Talk and Enjoy itu berjudul BOIKOT SAIPUL JAMIL, MANTAN NARAPIDANA PEDOFILIA TAMPIL DI TELEVISI NASIONAL DAN YOUTUBE.

"Jangan biarkan mantan narapidana pencabulan anak usia dini (pedofilia) masih berlalu-lalang dengan bahagia di dunia hiburan, sementara korbannya masih merasakan trauma ... Sungguh sangat berharap stasiun televisi melakukan hal yang sama dengan memboikot mantan narapidana pencabulan anak di usia dini (pedofilia) muncul. Semoga petisi ini membuahkan hasil yang memuaskan," tertulis dalam petisi.

Partisipasi publik dalam petisi itu sangat luas. Hingga artikel ini disusun Senin siang, 6 September, pukul 14.48 WIB, petisi yang menargetkan 500 ribu partisipasi ini telah mengumpulkan 406.556 tanda tangan. Tak cuma petisi. Resistensi terhadap eksistensi Saipul di ruang publik juga disuarakan banyak figur publik.

Angga Dwimas Sasongko, misalnya. Founder sekaligus CEO Visinema membatalkan semua proses kesepakatan distribusi film Nussa dan Keluarga Cemara di stasiun-stasiun televisi yang menghadirkan Saipul. Sikap ini diambil Visinema sebagai upaya sadar betapa destruktif eksposur apalagi glorifikasi sosok Saipul di ruang publik.

"Menyikapi hadirnya Saipul Jamil di televisi dengan cara yang tidak menghormati korban, maka kami memberhentikan semua pembicaraan kesepakatan distribusi film Nussa dan Keluarga Cemara dengan stasiun TV terkait karena tidak berbagi nilai yang sama dengan karya kami yang ramah anak ... Ini menjadi kesadaran bersama pentingnya media-media yang menghargai anak-anak kita," kata Angga melalui akun Twitter @anggasasongko, Minggu, 5 Sepetember.

Kicauan Angga Sasongko diunggah di tengah derasnya protes terhadap Trans TV dan Trans7, dua televisi yang menghadirkan Saipul dalam program-program andalan mereka: Kopi Viral dan BTS. Belakangan, Trans TV menyampaikan permintaan maaf resminya. Trans TV juga berjanji menjadikan kasus Saipul momentum mengevaluasi kebijakan tayangan mereka.

"Kami menerima kritik dan masukan terkait program Kopi Viral yang tayang di TRANS TV pada hari Jumat, 3 September 2021 dengan bintang tamu Saipul Jamil," tulis akun Instagram @transtv_corp, Senin, 6 September.

"Kami mohon maaf aras tayangan tersebut. Hal ini menjadi perhatian khusus dan telah melakukan evaluasi menyeluruh untuk menjadi pembelajaran dan perbaikan ke depannya. Terima kasih atas perhatiannya," tertulis dalam keterangan.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by TRANS TV (@transtv_corp)

Efek berantai kehancuran brand

Tak berhenti di Trans TV, sejumlah brand yang mensponsori dua program bermasalah di atas juga jadi sasaran. Akun Twitter, @tilehopper mengunggah daftar brand tersebut. Beberapa di antaranya adalah Unilever, Wings Group, Procter & Gamble (P&G), Tempo Scan, serta Mayora.

Selain itu ada juga PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale), Kapal Api, serta L'Oreal , Bank Mega, PT Sarihusada Generasi Mahardika (SGM), PT Nutricia Indonesia (Nutrilon Royal), Danone (AQUA), Mondelez Indonesia (Biskuat, Oreo), Shopee Indonesia, Indofood, PT Heinz ABC, Nestle, GlaxoSmithKline (GSK-Sensodyne).

Analis bisnis dan pemasaran, Yuswohadi mengamati peristiwa ini sebagai efek berantai hancurnya sejumlah brand akibat keterkaitan mereka dengan entitas bermasalah, dalam hal ini Saipul, yang merupakan personal brand. Dalam perspektif ini Saipul bukan lagi bisnis yang bagus.

Sebagai personal brand, Saipul mengalami apa yang disebut Yuswohadi sebagai kehancuran reputasi. Sebuah brand pada dasarnya dibangun dengan trust atau kepercayaan. Ketika faktor itu tak lagi dimiliki Saipul sebagai sebuah brand, habislah dia.

Saipul Jamil (Sumber: www.saipuljamil.com)

"Artis itu brand. Ada identitas atau reputasi brand ... Ketika kemudian brand itu sudah enggak ada kredibilitas, otomatis brand itu jadi kayak mati. Jatuh. Walau terkenal tapi dia buruk, untuk bisnis itu dia tidak akan laku," tutur Yuswohadi kepada VOI, Senin, 6 September.

"Jadi sebenarnya ketika satu produk atau stasiun TV, dia meng-hire selebritas atau personal brand, itu kan sebenarnya kayak kolaborasi. Antara brand product dengan personal ini. Kalau salah satu jelek, salah satunya kena. Kalau bagus, saling menguatkan," tambahnya.

Bukan tanpa alasan Yuswohadi memilih kata "habis." Melihat iklim industri, Yuswohadi memprediksi ini sebagai akhir dari karier Saipul di dunia hiburan, yang secara spesifik adalah televisi. Dan ini andil dari gerakan resistensi publik yang terjadi secara organik.

"Sanksi sosial itu untuk brand sudah sulit sekali untuk dikembalikan. Trans TV pun juga kena reputasi jelek dia kayak mendukung. Itu katakan dua brand yang bersatu, itu Trans TV akan kena. Nah ketika dia tahu kena, maka dia akan menghindari," Yuswohadi

"Ini yang terjadi berikutnya semua brand akan enggak pakai Saipul Jamil. Ini kayak dihambat kariernya. Bisa dikatakan mati. Sudah enggak punya reputasi. Brand reputationnya itu hancur sudah kalau dalam teori reputasi," tamah dia.

KPI janji awasi kemunculan Saipul di televisi

Saipul Jamil dalam program televisi (Instagram/@saipuljamilreal)

Apa yang dikatakan Yuswohadi bagai ditegaskan dengan pernyataan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nuning Rodiyah. Dihubungi VOI, Senin, 6 September, Nuning berjanji pihaknya akan mengawasi kemunculan Saipul secara ketat di stasiun-stasiun televisi

"Pertama sikap KPI atas keresahan publik menilai bahwa 300ribu petisi yang disampaikan petisi oleh publik ini sesuatu yang harus diperhatikan. Ini bukan persoalan main-main. Ini keresahan publik yang harus direspons," tuturnya.

Menurut Nuning KPI telah menyurati seluruh lembaga penyiaran, baik televisi ataupun radio untuk berhenti mengamplifikasi narasi-narasi yang mengglorifikasi sosok Saipul. Nuning juga berjanji tak akan membiarkan Saipul muncul di televisi kecuali untuk beberapa alasan.

Saipul hanya boleh muncul di televisi jika muatan-muatan yang disiarkan mengandung kontemplasi positif atau bersifat produk jurnalistik berisi fakta. "Yang harus ditunjukkan pada publik adalah perilaku kejahatan seksual tidak boleh dianggap sesuatu yang lumrah."

"Jadi masyarakat harus dipastikan, misalnya, satu berita tentang keluarnya Saipul Jamil, tidak kemudian glorifikasinya yang harus di-highlight. Ini adalah sesuatu yang salah ketika mantan narapidana kejahatan seksual diglorifikasi seakan-akan pahlawan, misalnya."

*Baca Informasi lain soal PELECEHAN SEKSUAL atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya