Bagikan:

JAKARTA - Namanya prediksi dan analisis, maka siapa pun berhak menilai. Saya mencoba menuntun para pembaca yang gila sepak bola, khususnya Piala Dunia 2026. Semua, berdasarkan subjektifitas penulis. Makanya, suka atau tidak suka, silakan digugat, diperdebatkan, atau pun mungkin dicuekin.

Ada lima negara menurut saya memiliki kualitas pemain di atas rata-rata, yang memiliki kuartet lini tengah, atau pun minimal ada tiga pemain, yang mampu menguasai lini tengah. Maka, merekalah yang memiliki peluang paling besar, meraih gelar juara Piala Dunia 2026, yang akan berlangsung, 11 Juni-19 Juli 2026.

Itu pun, semua negara yang dipanggil masuk skuad negaranya, dalam kondisi siap tempur. Konsep penilaiannya, berdasarkan, penampilan yang konsisten, di setiap klub masing-masing. Dan, saya tidak membeberkan analisisnya. Bukan dari angka-angka statistik. Pasalnya, semua pemain yang terpilih, dipastikan sudah memiliki data statistik para pelatih dan asistennya.

Pertanyaannya, mengapa harus yang memiliki peluang, hanya negara yang memiliki kualitas kuartet lini tengah, yang dianggap paling besar, meraih gelar juara Piala Dunia ke-23?

Dari tujuh negara, yang pernah meraih gelar juara Piala Dunia, yaitu Uruguay, Brasil, Argentina, Jerman, Inggris, Prancis dan Spanyol, ada tiga negara yang dominan di posisi gelandang untuk mampu meraih gelar juara. Mereka adalah Brasil 1970, Prancis 1998 dan Spanyol 2010.

Vancouver Stadium, salah satu arena Piala Dunia 2026 di Kanada. (Vancouver Whitecaps FC)

Panggung sepak bola terakbar di kolong langit, sejak digelar 1930, ada sembilan (9) kali digelar, menjadi milik Brasil (1958, 1962, 1970), Uruguay (1930, 1950), Italia (1934, 1938), Jerman Barat (1954), serta Inggris (1966), memboyong gelar Jules Rimet Trophy, sebelum diganti Piala Dunia FIFA (1930 – 1970). Jules Rimet 1942 dan 1946 tidak bisa digelar FIFA, akibat Perang Dunia I dan II.

Saat diganti bernama Piala Dunia FIFA, trofi sudah digelar 12 kali, yaitu sejak 1974 – 2022. Jerman Barat (1974, 1990) berganti nama Jerman (2006), Italia (1982, 2014), Brasil (1994, 2002), Prancis (1998, 2018), serta Spanyol (2010).

Jejak Lini Tengah

Ada empat karakter kuartet lini tengah yang dianggap tonggak sepak bola modern. 1. Pemain yang punya karakter destroyer (perusak). Yaitu, merusak konsentrasi pemain lawan, saat membawa bola. 2. Berperan sebagai dinamo, yaitu menstabilkan dan mengatur permainan. 3. Playmaker, mengatur irama permainan sepanjang 90 menit. 4. Memposisikan sebagai sebagai gelandang sayap, untuk memberi umpan akurat, kepada peyerang, atau yang di depan sekitar gawang sebagai pencabik gawang.

Brasil 1970

Brasil 1970, saat diarsiteki Mario Zagallo, menggunakan formasi 4-3-3. Wilson Piazza, nomor punggung 3, terlalu sempurna sebagai destroyer. Nyaris, semua serangan, saat di penyisihan Grup C, mampu mengawal semua gelandang lawan. Clodoaldo Tavares, sebagai dynamo, menghidupkan serangan setiap jengkal lebar lapangan. Gerson Nunes, sebagai gelandang bertahan. terkesan sangat flamboyant, memerankan pujangga garis tengah Brasil, satu gol di final lawan Italia, adalah akurasi presisinya.

Sedangkan, Roberto Rivelino, memiliki ketrampilan istimewa. Gerakan men-dibble bolanya dinamakan “flip-flap.’ Gaya tersebut, dikemudian hari ditiru, Romario, Ronaldo Rozario, Ronaldinho, dan Cristiano Ronaldo.

Prancis 1998

Kilas balik, tentang kuartet lini tengah di luar jejak Piala Dunia. Yaitu, ada kuartet gelandang yang sangat fenomenal, saat Prancis menjadi juara Piala Eropa 1984. Kuartet “Les Blues” tersebut, diperankan Alain Giresse (destroyer), Jean Tigana (dynamo), Michael Platini (playmaker), dan Luis Fernandez (gelandang sayap).

Prancis 1998, adalah titisan Prancis 1984. Bahkan, pasukan Aime Jacquet, bertebaran pemain yang berperan sebagai gelandang kreatif. Ada delapan (8) pemain yang dipanggil tim “Ayam Jantan Benua Biru”. Seperti Patrick Vieira, Youri Djorkaeff, Didier Deschamps, Zinedine Zidane, Robert Pires, Alan Boghossian, Emmanuel Petit dan Christian Karembu.

Namun, formasi yang diterapkan Aime Jacquuet selama Piala Dunia 1998 di depan publiknya sendiri, terkesan formasi agak unik, 3-5-2. Dan, ada lima gelandang yang diterjunkan, lebih dari kuartet yang dijelaskan di atas.

Zinedine Zidane, bintang timnas Prancis di Piala Dunia 1998. (Dusan Vranic/AP)

Ada dua gelandang bertahan diperankan kapten Didier Deschamps dan Christian Vieira, sebagai destroyer, dinilai sangat menakutkan. Djorkaeff, mengendalikan mesin lini lengah secara stabil dan konsisten, sebagai dinamo. Zinedine Zidane, berperan pengatur serangan yang mirip Michael Platini. Sedangkan Emmanuel Petit, dinilai sangat ikonik melakoni gelandang serang dari sayap. Hanya menyisakan satu striker murni, Thierry Henry.

Bahkan, tiga diantara gelandangnya, Emmanuel Petit, Zinedine Zidane dan Djarkaeff mampu cetak gol. Yang luar biasa, tiga pemain belakang Prancis, ikutan menyumbang gol, seperti Laurent Blanc, Bixente Lizarazu, dan Lilian Thuram.

Spanyol 2010

Gaya permainan tim nasional Spanyol identik dengan “miniatur” Barcelona. Bayangkan saja, di Barcelona, ada Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, Cesc Fabregas (Bercelona junior), dan Pedro (gelandang sayap). Serta, hanya menyisakan satu gelandang bertahan, Xabi Alonso dari Real Madrid.

Vicente Del Bosque, sangat beruntung mendapatkan skuad “berlian” dari Luis Aragones, Ketika tim “matador” mencetak gelar Euro 2008. Formasinya, tidak banyak berubah. Dari pengamatan saya, taktik Del Bosque, 4 – 5 – 1. Karakternya, keturunan “tiki-taka” yang terbiasa dipraktikan Barcelona, dari ilmu “total football” Johan Cruyff, Frank Rikjaard dan Josep Guardiola.

Namun, tetap memiliki kedalaman lebih dari kartet lini tengah yang brilian dan jenius. Khususnya, dalam sosok Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Dikombinasikan dua gelandang destroyer, yang diperankan Xabi Alondo dan Sergio Busquet. Duet Barca lainnya, adalah, Xavi, tetap tak tergantikan sebagai playmaker, bareng Andres Iniesta, yang terlalu cantik jika memerankan second striker. Tim “matador” menyisakan satu striker bergantian, antara David Silva atau Fernando Torres.

Satu gelandang “gantung”, yang mirip dengan Emmanuel Petit (Prancis 1998), atau Roberto Rivelino (Brasil 1970) di timnas Spanyol, menyisakan Pedro Ledesmas. Pemain asal Barcelona, punya determinasi menstabilkan penguasaan bola, dengan dribble dan kecepatannya yang selalu doyan meliuk-liuk dari garis pinggir lapangan. Tujuannya, merobek gawang lawan. Ini mengingatkan, antar pemain Barca, adalah keindahan yang selalu layak ditonton berlama-lama.

Dari cerita tentang, siapa saja negara-negara yang dijadikan referensi, untuk Piala Dunia 2026, yang akan berlangsung di tiga negara Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat. Bagi penggemar bolamnia dunia, khusus edisi Piala Dunia ke-23 kali ini, adalah pertama kalinya FIFA memutuskan, negara peserta putaran final, tidak lagi 32 negara. Melainkan, 48 negara. Total, pemirsa di Indonesia bisa nonton 104 pertandingan, sampai final.

Maka, saya memilih empat (4) negara kandidat mampu meraih gelar Piala Dunia 2026, satu “underdog” dan satu lagi sebagai “kuda hitam.” Yang memiliki kualitas terjamin, memiliki pasukan lini tengah yang teruji di klubnya masing-masing. Mereka, adalah Portugal, Spanyol, Argentina, dan Prancis. Sedangkan, Inggris dan Jepang, bisa sangat menakutkan, dan siap menyihir 16 stadion di tiga negara.

Portugal

Roberto Martinez, punya kesempatan menjadi pelatih pertama untuk pasukan “Selecao” mempersembahkan gelar di ajang turnamen paling bergengsi di dunia – Piala Dunia 2026. Portugal memiliki lima sampai enam pemain berbakat, di posisi gelandang, sebagai salah satu syarat memenangkan event yang digelar ke-23 kalinya, sejak 1930.

Yang yang paling menawan dan spetakuler, dalam skuad barisan Portugal. Nyaris, semua pemainnya, mampu berperan sebagai destroyer, jembatan katalisator. Sangat aduhai, memerankan karakter playmaker. Dan, punya budaya gelandang sayap. Pelatih Portugal, Roberto Martinez, sangat percaya diri, punya skuad lini tengah yang serba bisa.

Lihat saja, Bruno Fernandes (Manchester United), Vitinha dan Joao Neves (Paris Saint-Germain), Matheus Nunes dan Bernando Silva (Manchester City), Joao Palhinha (Tottenham Hotspurs), Francisco Trincao (Sporting CP). Jika, Diogo Dalot (Manchester United), menjadi starter, maka semakin jadi momok bagi bek kiri lawan. Portugal, baru sekali ini, punya bek sayap, yang doyan overlapping.

Ketika, Portugal membangun superteam, melebihi “the dream team” jebolan Portugal 1991, dalam sosok Luis Figo, Fernando Cuoto, Rui Costa, Joao Pinto dan Jorge Costa. Menurut saya, Portugal paling pantas jadi negara ke-8 peraih Piala Dunia, setelah Uruguay, Brasil, Argentina, Jerman, Inggris, Prancis dan Spanyol.

Bruno Fernandes, gelandang serang Manchester United andalan timnas Portugal di Piala Dunia 2026. (Sky Sports).

Spanyol

Nama besar dua pelatih sebelumnya Luis Aragones dan Vicente Del Bosque, yang mempersembahkan gelar juara Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, dianggap sangat inspiratif, bagi peelatih timnas Luis de la Fuente. Spanyol sangat beruntung, punya “generasi emas” kedua, setelah Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergei Bosquets, Xabi Alonso.

Ketika Spanyol meraih juara Euro 2024, De la Fuente, sudah memiliki kerangka kasar formasi 4-5-1. Kelima lini tengah tim “Matador” dihuni, Rodri (Mancheters City), Fabian Ruis (PSG), Dani Olmo ( RB Leipzig), Nico William (Athletic Bilbao), dan Lamine Yamal (Barcelona).

Namun, saat menuju Piala Dunia 2026, Spanyol menambah para playmaker, seperti Martin Zubimendi (Arsenal), Pedri dan Ferran Lopes (Bercelona). Bahkan, jika tidak ada halangan atau cedera, kuartet barisan tengah Barcelona, akan mengisi pasukan “La Roja” menyongsong gelar Piala Dunia keduanya, setelah 2010.

Argentina

Nikmatnya, setiap nonton tim nasional Argentina. Mayoritas para pemainnya, tidak memiliki postur tinggi badan ideal, seperti rata-rata pemain Eropa. Lihat saja, dua legendanya, Maradona dan Messi, hanya punya tinggi di bawah 170 Cm. beruntung, arsitek Argentina, Lionel Scaloni, tidak merasa minder, dengan skuadnya.

Argentina dalam lima tahun terakhir, memiliki bakat-bakat di lini tengah, yang melebihi semua negara yang lolos ke Piala Dunia. “Pasukan the White and Sky Blue” terlalu ribet menentukan siapa yang pantas mengisi kuartet tengah, jika menggunakan formasi 4-4-2, atau 3-4-3 yang dianut Scaloni.

Saat ini, ada Alexis Mac Allister (Liverpool) dan Enzo Fernandez (Chelsea) yang sulit digusur oleh siapa pun. Keduanya, mampu berperan sebagai destroyer, dinamo sekaligus playmaker. Kedua pemain tersebut, terbiasa tidak merasa rendah hati, dengan postur tubuhnya, sekitar 170-an centimeter.

Pilihan berikutnya, Leandro Paredes, pindah dari AS Roma ke Boca Junior dan Rodrigo De Paul (Inter Miami), akan rebutan posisi dengan “young guns” yang sudah naik kelas di skuad Argentina. Yaitu, Nico Paz (Como/21 tahun) dan anaknya Diego Simeone, Giuliano Simeone (Atletico Madrid/23 tahun). Kedua anak muda, ini mampu membawa klubnya masing-masing ke puncak prestasi yang mengejutkan.

Argentina sangat konsisten, sejak juara Copa America 2021, 2024, dan tentunya sebagai juara bertahan Piala Dunia 2022 di Qatar, memiliki kualitas pemainnya, yang sangat energik, menakutkan dan percaya diri. Jam terbangnya sudah teruji. Mentalnya, mental juara.

Bintang muda timnas Argentina asal klub Como 1927 di Liga Serie A Italia, Nico Paz. (ESPN/Getty Images)

Prancis

Prancis punya Didier Deschamps,yang merasakan Piala Dunia 1998, sebagai jawara. Deschamps, juga menjadi salah satu motor lini tengah “Les Blues” saat juara. Sebagai pelatih, Deschamps, sudah menorehkan Prancis sebagai juara Piala Dunia 2018, dan runner up Piala Dunia 2022.

Sejak tulisan awal, saya sudah pernah memberi contoh. Jejak kuartet lini tengah yang sangat legendaris, dalam sosok Alain Giresse, Jean Tigana, Michael Platini dan Luis Fernandez, saat Prancis juara Piala Eropa 1984. Kemudian, titisannya diturunkan ke Didier Deschamps, Patrick Vieira, Djouri Djaorkaeff, Zinedine Zidane, dan Emmanule Petit (1998).

Di Piala Dunia 2018, Prancis lagi-lagi memiliki kuartet “epic” dalam sosok Paul Pogba, N’golo Kante, Blaise Mutuidi, Antoine Griezmann, serta Samuel Umtiti, yang ujug-ujug ditarik sebagai destroyer, berduet bareng Kante. Mereka, terbiasa mampu menstabilkan irama serangan. Prancis, hanya meninggalkan dua penyerang, Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele di depan sendirian.

Kombinasi kuartet baru Prancis 2026 masih tetap menjadi momok bagi siapa pun. Mengingat, kuartet tengah Prancis, menjelma sebagai “hantu” di Piala Dunia 2022, sebagai finalis.

Kali ini, Prancis hanya sisakan gelandang asal Real Madrid, Aurelien Tchouameni, sedangkam Eduardo Camavinga, dicoret karena mentalnya jelek. Kalaupun saat ini, Prancis mempertahankan N’golo Kante, serta Deschamps menambah daya jelajahnya, punya kuartet lini tengah, wajib memberi peran kepada Warren Zaire-Emery dan Desire Douo (PSG), yang sukses mengantarkan PSG juara UEFA Champions League, kedua kalinya.

Inggris (Underdog)

Sejak saya meliput Piala Dunia 1990 di Italia. Selalu menjuluki Inggris, sebagai “spesialis underdog” Padahal, sejak semifinalis Piala Dunia 1990, kemudian gagal lolos di USA’94. “The Three Lions” memiliki nama-nama selebritas sepak bola dunia saat berlaga di Piala Dunia 1998, 2002, 2006, 2010, 2014, 2018 dan 2022.

Apakah julukan “underdog” akan tetap bertahan, semenjak semifinalis 2018 dan finalis Euro 2020?

Barisan lini tengah Inggris, sejatinya sangat menakutkan, musim Piala Dunia 2026 nanti. Thomas Tucel, sebagai pengatur taktik strategi, selain bingung, siapa yang pantas terpilih menggunakan nomor 9 dan 10. Juga super pusing tujuh keliling, dengan para pengatur serangan.

Di skuad Inggris, kebanyakan pemain yang berkarakter sebagai playmaker, dalam diri Declan Rice dan Eberechi Eze (Arsenal). Cole Palmer (Chelsea), dan Phil Foden (Manchester City), Kobbie Mainoo (Manchester United), Morgan Rogers (Aston Villa) dan Jude Bellingham (Real Madrid).

Mungkin, masih ada Elliot Anderson dan Morgan Gibbs-White (Nothingham Forest), Jordan Henderson (Brentford), James Garner (Everton), Curtis Jones (Liverpool) juga siap dan mampu sebagai destroyer.

Pertanyaannya, apakah Thomas Tucel, punya keberuntungan meracik formasi kuartet lini tengah? Setelah Cole parmer dan Phil Foden dicoret? Jika dengan materi yang baru, dianggap cocok, Inggris bisa sampai finalis. Namun, jika kocar-kacir memasak pasukannya. Maka, masuk 32 besar saja sudah pasrah.

Selama ini, tagline “Coming Home” sejak didengungkan di Euro 96 sampai Piala Dunia 2022 belum dianggap keramat. Maka, di Piala Dunia 2026 nanti, tim nasional Inggris, sudah dibekali lagu karya The Beatles, bertajuk “Come Together.” Mampukah, genjot spirit dan motivasi pemain?

Jepang (Kuda Hitam)

Ambisi membangun tim nasional, mencapai puncaknya di Piala Dunia 2026, adalah tekad, misi visi pelatih dan jajaran, serta semua pemainnya. Arsitek Hajime Moriyasu, inginkan prestasi puncaknya di Stadion Metlife, East Rutherford, 19 Juli 2026, menuju ambisi partai puncak event paling sangar di dunia ini.

Sejak 1998, Jepang tak pernah absen di putaran final Piala Dunia, hingga 2026. Prestasi terbaiknya, empat (4) kali masuk babak 16 Besar, di 2002, 2010, 2018 dan 2022.

Pantaskah, Jepang juara Piala Dunia 2026? Jawabnya, sangat pantas, sebagai “kuda hitam.” Dua negara yang pernah juara Piala Dunia, di pertandingan persahabatan dikalahkan. Brasil, 2-3, Inggris kalah 0-1.

Kualitas pemainnya, khususnya di barisan lini tengah, punya 10 pemain, yang belum semuanya bisa terpilih. Keito Nakamura (Reims), Kaoru Mitoma (Brighton & Hove Albion), Kaishu Sano (NEC Nijmegen), Ritsu Doan (Eintracht Frankfurt), Junya Ito (Genk), Daichi Kamada (Cristal Palace), Takumi Minamino (Monaco), Takefusa Kubo (Real Sociedad), Junnosuke Suzuki (Copenhagen), dan Ao Tanaka (Leed United). Dan, tentunya kapten Jepang, Wataru Endo (Liverpool), yang sudah pulih dari cedera.

Jika, banyak negara Afrika, yang sudah berkibar sebagai tim yang mampu menginspirasi, seperti Kamerun, Nigeria, Senegal, Ghana, dan Maroko.

Timnas Jepang untuk Piala Dunia 2026. (nippon.com)

Maka, “Samurai Biru” satu-satunya, yang punya peluang sebagai “kuda hitam” menggugurkan semua ambisi kandidat jawara di kolong langit. Pesta cabang paling populer, yang siap disaksikan sekitar 4 miliar penduduk dunia, menjadi saksi bisu tim “Samurai” Jepang.

Jika Anda bertanya, mengapa Brasil dan Jerman, tidak diunggulkan? Dari pengamatan saya, selama nonton Bundesliga, atau pun, memperhatikan pemain Brasil di banyak liga-liga elit Eropa. Kok, rasa-rasanya miskin para pemain berkarakter destroyer, dinamo-stabilisator, playmaker. Gelandang kreatifnya, tidak sehebat kandidat lainnya. Begitupula, Belanda yang pernah tiga kali sebagai runner up, di Piala Dunia 1974, 1986 dan 2010. Sami mawon!

Belgia

Rudi Garcia, sebagai pengatur strategi, punya misi dan visi, mengkombinasikan pemain berpengalaman, dan junior. Skuad lini tengahnya, sudah terpilih, yaitu Kevin De Burye (Napoli), Amadou Onana (Aston Villa), Nicolas Raskin (Glasgow Rangers), Youri Tielemans (Aston Villa), Hans Vanaken (Club Brugge), Axel Witsel (Girona), dan Jeremy Doku (Manchester United).

Brasil

Carlo Ancelotti, sudah memilih para pemain lini tengahnya. Bahkan, pelatih asal Italia ini hanya membawa lima pemain di barisan pengoper bola di barisan tengahnya. Seperti Bruno Guimaraes (Newcastle United), Casemiro (Manchester United), Danilo (Botafogo), Fabinho (Al-Ittihad), Lucas Paqueta (Flamengo).

Belanda

Apakah Ronald Koeman, bisa membangun skuad tim, dengan empat pemain asal Liverpool? Atau, memperkuat kuartet lini tengah, yang dihuni Ryan Gravenbergh (Liverpool), Jerdy Schouten (PSV Eindhoven), Tijjani Reijnders (Manchester City), Kees Smit (AZ Alkmaar), Quinten Timber (Marseille), Luciano Valente (Feyenoord), Zavi Simons (Tottenham Hotspur), Teun Koopmeiners (Juventus), dan Jeremie Frimpong (Liverpool).

Jerman

Sebagai pemilik DNA event turnamen terbesar, Jerman, memiliki peluang besar, setelah di Piala Dunia 2014 di Brasil mampu menggulung raja-raja Amerika Selatan, Brasil dan Argentina. Hanya saja, pelatih Julian Nagelsmann, mampu mengkombinasikan lini tengahnya, sebagai tim “Panzer” yang dulu selalu diperhitungkan.

Nagelsmann memanggil 26 pemain masuk skuad Jerman, pasti memiliki skenario terselubung. Minimal, Joshua Kimmich, sebagai kapten, dibantu Jamal Musiala, keduanya berasal dari klub yang sama, Bayern Muenchen, dibantu Florian Wirts (Liverpool), akan menjadi momok DNA spesialis turnamen.

Jika ada pemain sayap, yang ditugaskan mengarungi kedalaman di posisi gelandang gantung. Maka, Nagelsmann, akan memilih Leroy Sane (Galatasaray) atau Leon Goretzka (Bayern Muenchen).

Bagaimana, dengan tim favorit Anda? Jawabnya, silakan pilih sendiri, dan bisa sebutkan nama-nama kandidat kuartet tengahnya. Hukumnya, wajib diperdebatkan.

J. Erwiyantoro

(Kolumnis Sepak Bola)