JAKARTA - UEFA resmi menggandeng Alibaba Group dalam kerja sama jangka panjang di bidang kecerdasan buatan atau AI, layanan komputasi awan, dan e-commerce. Kesepakatan ini menunjukkan arah baru sepak bola Eropa: pertandingan tetap di lapangan, tetapi perebutan perhatian penggemar makin banyak terjadi di layar.
Dikutip dari Xinhua, Minggu, 31 Mei, UEFA mengumumkan kerja sama itu di Budapest, Jumat, 30 Mei. Alibaba akan menjadi mitra resmi eksklusif untuk AI, komputasi awan, dan e-commerce bagi Liga Champions UEFA, Liga Europa, dan Liga Konferensi UEFA.
Kerja sama itu berlaku mulai musim 2027/2028 hingga 2032/2033. Alibaba juga menjadi mitra untuk UEFA EURO 2028.
UEFA menyebut kemitraan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan digital, memperluas keterlibatan penggemar global, dan memperbaiki pengalaman menonton pertandingan.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengatakan keahlian Alibaba di bidang AI, komputasi awan, dan e-commerce sesuai dengan arah UEFA untuk mendorong inovasi.
“Bersama Alibaba, kami akan membawa penggemar lebih dekat dengan permainan melalui cara-cara yang lebih baru dan lebih bermakna,” kata Ceferin.
BACA JUGA:
Ia mengatakan kompetisi UEFA diharapkan menjadi lebih menarik, mudah diakses, dan lebih imersif, tanpa meninggalkan tradisi dan emosi sepak bola Eropa.
“Imersif” berarti pengalaman menonton yang terasa lebih dekat dan hidup. Penonton bukan hanya melihat skor, tetapi juga bisa mendapat tayangan ulang, data, dan informasi pertandingan dengan cara lebih interaktif.
Selama masa kerja sama, Alibaba akan memakai teknologi AI miliknya, termasuk Qwen, model bahasa besar buatan Alibaba. Teknologi ini akan digunakan untuk mendukung interaksi penggemar, pengelolaan konten media, dan komunikasi acara.
Alibaba juga akan memanfaatkan jaringan komputasi awan global dan platform e-commerce miliknya untuk mendukung layanan digital UEFA.
Ketua Alibaba Group Joe Tsai mengatakan minat UEFA pada pertemuan olahraga dan teknologi menjadi salah satu alasan utama kerja sama tersebut.
“AI sedang mengubah olahraga, dan AI juga mengubah pengalaman penggemar,” kata Tsai.
Ia mencontohkan penggunaan teknologi tayangan ulang 360 derajat berbasis AI di Olimpiade Paris dan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina. Menurut dia, teknologi itu bisa membuat pengalaman menonton terasa lebih dekat.
Tsai mengatakan kerja sama ini akan membawa kemampuan komputasi awan, AI, dan e-commerce global Alibaba ke kompetisi utama UEFA. Cakupannya antara lain layanan media, keterlibatan penggemar, dan infrastruktur digital.
“Bagian yang paling membuat saya antusias adalah kemungkinan menggunakan AI untuk mengubah pengalaman penggemar,” ujar Tsai.
Ia menyebut Qwen dapat membantu penggemar mengakses informasi tentang sepak bola, klub, dan pemain dengan cara yang lebih interaktif.
Dalam sepak bola modern, langkah UEFA ini mudah dibaca. Klub dan kompetisi besar tidak cukup lagi hanya menjual pertandingan. Mereka juga mengelola siaran, konten pendek, statistik, data penggemar, dan penjualan merchandise dalam satu ekosistem.
Bagi penggemar di Indonesia, dampaknya kemungkinan terasa pada cara menikmati Liga Champions dan kompetisi UEFA lain. Informasi pertandingan bisa lebih cepat. Konten bisa lebih personal. Pengalaman menonton juga bisa lebih kaya, sepanjang layanan itu benar-benar dibuka dan berjalan baik di tiap pasar.
Xinhua mencatat, UC3, perusahaan patungan UEFA dan Asosiasi Klub Eropa, berperan mengelola hak komersial kompetisi klub UEFA.
Masih menurut Xinhua, kerja sama ini memperpanjang jejak Alibaba dalam digitalisasi olahraga global. Alibaba menjadi Mitra Olimpiade Dunia pada 2017 dan sejak itu mendukung transformasi digital Komite Olimpiade Internasional.
Pada Olimpiade Tokyo 2021, penyiaran berbasis komputasi awan digunakan dalam skala besar. Di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, sistem inti Olimpiade untuk pertama kalinya sepenuhnya dipindahkan ke komputasi awan.
Pada Olimpiade Paris 2024, siaran berbasis komputasi awan untuk pertama kalinya melampaui transmisi satelit sebagai metode utama penyiaran. Sementara pada Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026, IOC memperkenalkan model bahasa besar resmi Olimpiade pertama berbasis teknologi Qwen milik Alibaba.
Sepak bola Eropa tetap hidup karena sejarah, rivalitas, dan fanatisme. Kini UEFA menambahkan AI di belakang layar. Tantangannya sederhana: teknologi itu harus membuat penonton makin dekat dengan sepak bola, bukan hanya makin dekat dengan layar.