Bagikan:

JAKARTA - Peristiwa Mohamed Salah yang menjepit dan dijepit Sergio Ramos, dalam pertarungan final UEFA Champions Cup 2017-18, 26 Mei, antara Real Madrid vs Liverpool, sejatinya hanya bagian dari permainan sepak bola.

Peristiwa itu biasa-biasa saja, karena kapan saja dan siapa saja bisa mengalaminya. Jika, tak ingin cedera, duduk manis saja nonton bola. Tetapi, jika ingin nonton pertarungan para gladiator lapangan hijau, wajib siap-siap jantungan, atau “mati duduk” kapan saja. Itulah sepak bola!

Sepak bola punya cerita tentang kegembiraan, tentang tragedi, tentang dunia santet – hipnotis, tentang kesedihan, tentang perang, tentang konspirasi dan tentunya tentang keberuntungan.

Kini, sepak bola, sebagai ‘agama baru” pun, bicara tentang perasaan manusia, yang mewakili negaranya. Bahkan, ketika Italia dan Belanda, yang pernah menemukan taktik legend, Catenaccio dan Total Football pun, harus menjadi penonton, di Piala Dunia Russia 2018. Dan, Italia justru meraih hattrick gagal tiga kali berturut-turut, 2018, 2022 dan Piala Dunia 2026. Itulah wajah sepak bola!

Mercedes Benz Stadium di Atlanta yang akan menjadi salah satu arena pergelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. (MLS)

Pele bukanlah seorang peramal yang baik, tetapi dia tidak pernah kapok melakukannya. Setiap usai pengundian grup Piala Dunia, “Sang Raja” cepat-cepat memunculkan jagonya. Tetapi sudahkah, hebat di lapangan, bukan berarti tidak otomatis menjadikannya ulung sebagai forecaster bukan?

Legenda Jerman, Frans Beckenbauer pun, boleh punya jago, tetapi bukan berarti tim yang ada di kantongnya lantas muncul sebagai pemenang. Saya percaya, para tokoh sekaliber dua maestro, sadar tentang kelenturan sebuah perkiraan. Atau, pada saat-saat tertentu butuh berbasa-basi, berdiplomasi, atau apa pun modelnya. Ya, karena mereka adalah duta-duta sepak bola.

Saya yang punya hobi baru, memprediksi dari ilmu metafisik “Primbon Jawa” pun, tak lepas dari kesalahan demi kasalahan, saat menebak siapa yang yang menang dan siapa yang juara. Ramal meramal, atau prediksi memprediksi, atau taruhan di rumah judi, adalah bagian dari sepak bola, di luar lapangan hijau, yang sudah memiliki insting budaya purba.

Bukan Jaminan

Prediksi, ramalan, atau apa pun namanya, dengan analisis matematis atau pendekatan fisika dan bioritmik sekali pun, kini tidak lagi menjamin menghasilkan sebuah kebenaran solid.

Kesiapan atau kesialan suatu tim, sangat ditentukan oleh kemampuan memelihara "irama" menjelang, pada saat, dan sesudah pertandingan. Faktornya sangat kompleks, apalagi dalam tingkat persaingan yang makin sengit seperti zaman now – turnamen raksasa bertajuk, Piala Dunia FIFA.

Real Madrid, yang di kancah domestik terengah-engah di hadapan Barcelona musim ini pun, bukan berarti jelek di level Eropa. Atau Turki dan Korea Selatan yang jelas, tidak masuk dalam orbit unggulan, ternyata bisa terangkat ke percaturan semifinal Piala Dunia 2002. Atau, Kamerun 1990 yang dianggap “ayam sayur” pun, masuk delapan besar Piala Dunia, sebagai negara pertama dari “Benua Hitam”.

Kejutan demi kejutan tim pinggiran, "penguburan" demi "pemakaman" tim mapan, bagaimana pun menjadi bagian dari romantisme turnamen. Perkara hasil nanti dulu, yang penting elemen-elemen kompetisi dipenuhi, sistem diregulasi dan disepakati, dan apa pun output-nya tidak, dapat digugat sebagai sebuah kesalahan.

Timnas Italia, juara tiga kali Piala Dunia yang tiga kali berturut-turut tidak lolos ke putaran final Piala Dunia, yaitu 2018, 2022, dan 2026. (Wikipedia)

Sang juara, suka atau tidak suka, harus diakui sebagai "kebenaran" hasil suatu kompetisi, kendati masih juga ada yang sering menghibur diri dengan mengetengahkan istilah "juara tanpa mahkota" seperti Belanda yang 3 kali jadi runner up Piala Dunia, 1974, 1978 dan 2010.

Bicara “magic” pun, sepak bola itu gudangnya semua bentuk ilmu sihir atau pun “voodoo” dari biangnya di benua Afrika. Masih ingat peristiwa saat, Kosta Rika, negeri kelas “sudra”, mampu menaklukan Skotlandia dan Swedia, di Piala Dunia 1990, dari banyak sumber koran-koran jaman itu, menyudutkan Kosta Rika gunakan ilmu “voodoo” – ilmu santet.

Saat Brasil juara dunia 1970, pelatih Mario Zagallo, didatangi kakek-kakek (katanya tukang sihir) untuk titip agar, pemain yang diturunkan di final menghadapi Italia, adalah pemain-pemain yang di klubnya gunakan kaos bernomor punggung 10.

Seperti Pele di klub Santos nomor 10, Rivelino di Corienthians nomer 10, Tostao di Cruseiro nomor 10, dan Gerson di Sao Paolo juga nomor 10. Hanya satu, yang tetap gunakan nomor 7, yaitu Jairzinho di klub Botofogo mau pun timnas Brasil.

Mimpi Kecil Firaun

Di Stadion Borg El Arab, Alexandria – Mesir, 8 Oktober 2017, koran-koran Mesir, sudah menuliskan tentang “Mimpi Kecil Firaun” yang diberikan kepada Mohamed Salah.

Pertandingan Mesir vs Kongo saat itu, adalah pertandingan penentuan. Apakah Mesir lolos ke Piala Dunia 2018 Rusia atau tidak? Dan, saat perpanjangan waktu 5 menit, wasit Bakary Gassama dari Gambia, memberi hadiah penalti, saat kedudukan masih 1-1. Mohamed Salah diberi tugas melaksanakan “Mimpi Kecil Firaun”, pada menit 90+4. Dan, hasilnya Mesir unggul 2-1, otomatis melenggang ke putaran final Piala Dunia Russia 2018.

Masih urusan “klenik” dan para dukun-dukun dunia. Lagi-lagi Brasil yang kena tuahnya. Yaitu, saat final Piala Dunia Prancis 1998. Suasana kamar tempat Brasil menginap, di The Chateau de Grande Romaine, pinggiran kota Paris, Ronaldo yang satu kamar dengan Roberto Carlos, ujug-ujug teriak-teriak gaduh, akibat striker termahal saat itu, kejang-kejang perutnya.

Dari cerita dan rumor yang beredar, The Chateau de Grande Romaine itu, punya cerita dihuni 100 hantu. Juga, ada cerita, bahwa Ronaldo, yang saat itu berusia 21 tahun, kena guna-guna atau disantet dukun Prancis.

Penyerang andalan Timnas Mesir, Mohamed Salah. (Reuters)

Yang lebih gila lagi, ceritanya Ronaldo stres berat, akibat permintaan sponsor Nike, agar tidak menjadi triker utama, saat menghadapi final lawan tuan rumah Prancis. Namun, ratusan media Brasil menuding dengan tulisan besar-besar, bahwa “Tim Brasil Menjual Piala Dunia”.

Cerita-cerita klenik, santet, dukun atau “voodoo” dalam sepak bola, selalu menjadi sangat super menarik. Bahkan, saat itu hampir 4 miliar penduduk dunia, di layar kaca, yang menonton partai final Perancis vs Brasil, tidak percaya – jika Brasil bisa kalah telak 0-3 dari Prancis, gara-gara semua pemain skuad Brasil di bawah asuhan Mario Zagallo itu, tidak fokus akibat Ronaldo “kejang-kejang” misterius, yang masih diinvestigasi oleh FIFA, sampai hari ini.

Saya pernah nonton film bertajuk UNITED, yang bertutur nyata tentang “Tragedi Manchester United”, tanggal 6 Februari 1958, yang menewaskan nyaris sebagian besar pemain skuad inti klub pesohor dan terkaya di jagat raya ini.

Salah satu, pemain yang hidup dalam kecelakaan tersebut namanya, Bobby Charlton dan “tuhan”-nya Man-U, Matt Busby. Dalam format klub, tragedi itu, sebetulnya “jal tol” tim nasional Inggris, meraih gelar juara dunia 1966.

Pasalnya, setelah Bobby Charlton tegar mentalnya, ikut mempersembahkan Man-U juara Champions Cup 1968, dan dua tahun sebelumnya Bobby Charlton, menjadi salah satu penentu Inggris meraih gelar juara Jules Ripet Trophy 1966, di depan publiknya sendiri.

Andres Escobar dan Diego Maradona

Tragedi Man-U itu, hanya di luar lapangan hijau. Namun, yang di dalam stadion sepak bola. Ada dua persitiwa yang sangat tragis dan sangat fenomenal.

Pertama, saat Diego Armando Maradona, menggunakan tangannya, untuk mencetak gol, menit 51, saat pertandingan Argentina vs Inggris, 18 Juni di Stadion Azteca, Meksiko - 8 besar Piala Dunia 1986.

Sampai hari ini, yang namanya “wasit” sebagai “tuhan”-nya sepak bola sepanjang 90 menit, kalah dengan “gol tangan Tuhan” dari tangan kirinya Maradona. Beruntung, belum ada wasit VAR.

Kedua, di stadion Rose Bowl, Pasadena, saat pertandingan tuan rumah Amerika Serikat vs Kolombia, 22 Juni 1994, tidak ada tanda-tanda pertandingan ini, berakhir tragis atau pun brutal. Partai itu asyik-asyik saja. Kebetulan, saya memulai hobi baru, mendapat pekerjaan membuat program highlights di RCTI, dengan nama “Fokus Amerika’94”, ikutan nonton sepanjang 90 menit.

"Gol Tangan Tuhan" Diego Maradona ke gawang Inggris yang dikawal Peter Shilton dalam Piala Dunia 1986 Meksiko di Stadion Azteca. (Wikipedia/El Grafico)

Namun, pada menit 35, terjadi ketidaksengajaan kaki kanan Andres Escobar menyapu bola dari tendangan bola gelandang Amerika, John Harkes, justru disapu ke arah gawangnya sendiri yang dikawal Oscar Cordoba. Bolanya tidak kencang, tapi menipu posisi Cordoba, dan masuk ke jalan Kolombia, yang membuat akhirnya Kolmbia kalah 1-2, dan pulang lebih cepat ke negerinya, gagal lolos 16 besar.

Tengah malam 1 Juli, di sebuah bar klub malam El Indio, kawasan El Poblado di Medellín, Pablo Escoba mengajak temen-temennya untuk leyeh-leyeh sambil minum. Kira-kira pukul 3 dini hari (2 Juli 1994), Escoba pulang mengambil mobil di parkiran, tib-tiba didatangi 3 orang, sambil adu mulut. Dua orang diantaranya keluarkan pistol kaliber 38, dan menembak enam kali ke tubuh Escobar.

Ketiganya berteriak mengeluarkan kata-kata “gol…..gol…..gol”, seperti menirukan komentator radio Kolombia, saat tayangkan siaran langsung partai Amerika Serikat vs Kolombia, di penyisihan grup A, putaran final FIFA Piala Dunia 1994.

Tragedi Andres Ecobar itu, disambut sangat menyedihkan, oleh 120 ribu yang mengantarkan Escobar ke kuburan. Padahal, Ecsobar di Medellin dan timnas Kolombia dijuluki The Gentleman. Salah satu pembunuhnya, anggota kartel narkoba Medellin, Kolombia - Humberto Castro Muñoz, dihukum 11 tahun, gara-gara kalah taruhan, dan akhirnya membunuh Escobar.

Gol bunuh diri pemain Kolombia, Andres Escobar di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat yang berujung pada tragedi pembunuhan dirinya di Medelin, Kolombia. (Romeo Gacad/AFP)

FIFA Piala Dunia 2026, yang akan berlangsung 11 Juni hingga 19 Juli nanti, tinggal 11 hari lagi. Bagi saya, hanya bisa mengulas, mengupas dan memberi inspirasi, bahwa formasi taktik strategi, keberuntungan, dunia santet menyantet “voodoo”, dan tragedi adalah bagian penting dalam sepak bola, yang menjadi tontontan, yang nyaris ditonton 7 miliar penghuni bumi ini.

Mudah-mudahan, cerita di atas, menjadi awal tulisan yang asyik-asyik saja, di pesta olah raga cabang termegah di kolong langit ini.

J. Erwiyantoro

(Kolumnis Sepak Bola)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+