JAKARTA - Tim Nasional Italia menjadi satu-satunya juara Piala Dunia yang gagal melaju ke putaran final selama tiga periode beruntun menyusul kekalahan dari Bosnia Herzegovina di babak playoff.
Gol Esmir Bajraktarevic di babak adu penalti memastikan Bosnia melaju ke perhelatan sepak bola terakbar dunia untuk kedua kali sepanjang sejarah mereka. Edin Dzeko dan kolega selanjutnya bergabung di Grup B bersama tuan rumah Kanada, Qatar, dan Swiss.
Sebaliknya, bagi Italia, malam itu di Stadion Bilino Polje, Zenica, menjadi mimpi buruk yang berulang untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Bek Italia Leonardo Spinazzola dengan mata berkaca-kaca mengatakan, "Saya berada di timnas selama sembilan tahun dan belum pernah bermain di Piala Dunia. Ini buruk sekali. Bagi Italia. Bagi kita semua."

Penurunan Drastis Sang Juara Dunia
Tak satu pun rekan setim Spinazzola bicara kepada wartawan selepas pertandingan, termasuk kapten Gianluigi Donnarumma. Perasaan marah dan kecewa menjadi satu. Sementara itu, pelatih Gennaro Gattuso bilang, kekalahan ini "sangat menyakitkan" dan "pukulan yang sulit dicerna".
Italia menjadi satu-satunya negara di peringkat 19 besar dunia yang absen di putaran utama Piala Dunia 2026. Selain itu, untuk pertama kalinya, tim yang pernah juara gagal tampil di Piala Dunia untuk ketiga kali secara beruntun.
Padahal sebelum ini, Italia adalah kiblat sepak bola. Kompetisi Serie A bahkan disebut sebagai liga terbaik dunia di era 1990-an hingga 2000-an, dengan sederet bintang, baik dari dalam maupun luar negeri.

Namun sejak menjadi kampiun untuk keempat kali pada Piala Dunia 2006, prestasiGli Azzurrimengalami penurunan tajam. Italia harus pulang lebih dulu seusai gagal di babak grup Piala Dunia 2010 dan 2014.
Italia kemudian gagal melaju ke putaran final edisi 2018 yang digelar di Rusia. Dan, meski sempat mengangkat trofi Euro 2020 usai menekuk Inggris di laga puncak, Italia terus mengalami kesulitan di panggung internasional.
Terbukti dari kegagalan mereka tampil di Piala Dunia Qatar dua tahun berikutnya.
Akademi Pemain dan Modernisasi Stadion Gagal
Ada banyak faktor yang disebut sebagai penyebab keterpurukan sepak bola Italia. Salah satunya adalah pembinaan pemain yang dalam beberapa tahun ke belakang memang menjadi masalah laten di Italia.
Julien Laurens, pakar sepak bola Eropa, kepadaBBC Sportsmengatakan: "Akademi-akademi di Italia tidak menghasilkan cukup banyak pemain, atau pemain yang siap bermain di tim utama. Cara mereka membelanjakan uang juga bukan seperti yang biasa kita lihat dari klub-klub Italia."
Selain itu, banyak klub Italia juga gagal memodernisasi stadion mereka. Hal ini tentu berdampak pada pendapatan komersial. Mantan penyerang Juventus dan Italia Alessandro Del Piero pernah juga menyinggung tentang masalah ini.
Pendapatan klub-klub Serie A yang terus merosot memilih mendatangkan pemain asing yang mulai melewati usia keemasaannya, dan direkrut secara gratis seperti Luka Modric dan Kevin De Bruyne.

Rentetan masalah ini membuat klub Italia tak lagi mampu menurunkan tim yang kompetitif, terutama di level Eropa. Dalam 16 tahun terakhir, tidak ada tim Italia yang juara Liga Champions.
Di musim ini, Atalanta menjadi satu-satunya wakil Serie A yang melaju ke babak 16 besar, sebelum dihancurkan 10-2 oleh Bayern Munchen dalam dua leg.
"Masalahnya? Stadion. Kita tahu Anda harus tampil lebih baik di luar lapangan (untuk meningkatkan) itu. Sistem pembinaan pemain muda juga (harus lebih baik),” ujar Del Piero, bicara mengenai masalah sepak bola Italia sebelum lagaplayoff.
Siapa Harus Bertanggung Jawab?
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab atas kemunduran sepak bola Italia?
Kembali ke Agustus 2010. Sepekan setelahAzzurrifinis di posisi buncit penyisihan grup Piala Dunia yang diisi Paraguay, Slovakia, dan Selandia Baru, Arrigo Sacchi ditunjuk sebagai koordinator timnas junior dan Roberto Baggio menempati sektor teknik di FIGC. Ia bertugas mempelajari dan menyebarkan latihan terbaik untuk perkembangan pelatih dan pemain.
Sacchi, yang dua kali memenangi Piala Eropa sebagai pelatih AC Milan, mendesak klub-klub Italia berinvestasi pada akademi mereka sambil mencoba mengalihkan fokus pada kelompok usia muda terhadap hasil dan taktik, untuk memberi individu lebih banyak ruang bersenang-senang dan mengasah insting mereka.
BACA JUGA:
Baggio, salah satu mantan penyerang legendaris Italia, bekerja sama dengan sekitar 50 kolaborator untuk menyusun dokumen setebal 900 halaman berjudul "Memperbarui Masa Depan".
Ia mengusulkan perombakan ambisius terhadap jalur pengembangan bakat, termasuk standarisasi metode pelathan, jaringan pencarian bakat yang lebih terstruktur, serta basis data digital bersama untuk mengukur kemampuan pemain.
Tapi ia memutuskan mundur pada Januari 2013, karena proyek garapannya disebut sama sekali tidak berjalan setelah selama setahun.
Kegagalan Berulang
Alessandro Del Piero tak dapat menyembunyikan kekecewaannya usai Italia dipastikan gagal mentas di Piala Dunia 2026.
"Pertama kali (gagal) pada 2018 kami terkejut, yang kedua kali terasa seperti mimpi buruk, dan ini yang ketiga mulai terasa memalukan," tegas Del Piero.
"Kami adalah kekuatan yang sangat besar dan mendapati diri kami berada di sini untuk ketiga kalinya sungguh luar biasa," lanjutnya.

Terkait usaha menelurkan pemain muda, Del Piero mendapati masalah fundamental dalam pengembangan. Menurutnya, sepak bola Italia terlalu kaku memberi tahu pemain muda apa yang harus dilakukan, sehingga ini membunuh kreativitas mereka,"
"Mereka mahir dalam menjalankan instruksi, tapi begitu keluar dari sistem itu, mereka membuat kesalahan dan dicap sebagai pemain buruk. Ini tidak benar," Del Piero melanjutkan.
Tiga kali gagal secara beruntun jelas sebuah pukulan telak bagi Italia. Dan, yang paling menyedihkan dari kegagalan terbaru Italia adalah ini bukan lagi akhir dari masa kejayaan, melainkan lagu sedih yang diputar berulang.