Bagikan:

JAKARTA - Kasus penyakit Kawasaki pada anak di Indonesia diperkirakan mencapai ribuan per tahun, dengan sebagian besar belum terdiagnosis. Dalam banyak asus, Kawasaki tidak dikenali sejak awal karena gejalanya sering disangka penyakit lain.

Penyakit kawasaki merupakan inflamasi atau peradangan yang terjadi pada arteri atau pembuluh darah yang sering dialami oleh anak usia di bawah lima tahun. Inflamasi cenderung muncul pada arteri koroner yang memasok darah ke otot jantung. Hal inilah yang bisa menyebabkan penyakit jantung di kemudian hari.

Prof. Dr. D. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio (K), M.Med (Paed) meyakini jumlah kasus penyakit kawasaki pada anak mencapai ribuan per tahun, namun sebagian besar belum terdiagnosis.

Tidak diketahui pasti apa penyebab kawasaki, namun penyakit ini memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lain sehingga seringkali sulit diidentifikasi.

Banyak Kasus Tak Teridentifikasi

Penyakit kawasaki pertama kali ditemukan di Jepang oleh dr. Tomisaku Kawasaki pada 1967. Penyakit ini adalah sindrom vaksulistis sistemik yang belum diketahui penyebabnya secara pasti dan paling sering ditemukan pada anak atau bayi.

Penyakit kawasaki kebanyakan ditemukan di kawasan Asia Pasifik. Prevalensi di Amerika Serikat adalah 19 dari 100.000 anak sedangkan di Jepang 175 dari 100.000 anak. Di Indonesia, dr. Najib mulai melakukan sosialisasi dan penanganan sejak 1999 dan telah menangani lebih dari 2.000 kasus.

Hingga kini, kejadian penyakit kawasaki diperkirakan mencapai 5.000 kasus baru setiap tahun, namun hanya sekitar empat persen atau kurang dari 200 kejadian yang dapat terdiagnosa dan terdokumentasikan.

Dokter Najib Advani menuturkan, banyak kasus kawasaki tidak dikenali sejak awal karena gejalanya sering disangka penyakit lain. Keterlambatan diagnosis inilah yang dapat meningkatkan risiko komplikasi serius pada anak-anak penderita penyakit kawasaki.

Tangkapan kayar saat Dokter spesialis anak dan kardiologi anak Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed) menjelaskan penyakit kawasaki pada anak dalam Seminar Media daring Ikatan Dokter Anak Indonesia bertema Kawasaki pada Anak, Selasa (10/2/2026). (VOI/Dewi)

“Kalau tidak diobati, 15-20 persen anak itu akan menderita arteri koroner,” kata dr. Najib dalam seminar daring bertema Kawasaki pada Anak yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Keterlambatan diagnosis, dr. Najib menambahkan, membuat anak dalam kondisi sudah terjadi pelebaran arteri koroner yang meningkatkan risiko serangan jantung dan tindakan lanjutan seperti operasi pintas pembuluh darah jantung.

Najib menambahkan, penyakit Kawasaki paling sering menyerang anak di bawah usia lima tahun, terutama usia satu sampai dua tahun, dan lebih terjadi pada anak laki-laki dibanding perempuan.

Waspadai Gejala Awal

Penyebab penyakit Kawasaki masih belum diketahui secara pasti dan masih diteliti lebih lanjut. Dokter Najib menuturkan, penyakit Kawasaki pada anak sering tidak dikenali sejak awal karena gejalanya mirip dengan penyakit infeksi lain.

Secara umum, penyakit Kawasaki ditandai demam tinggi yang berlangsung setidaknya selama lima hari dan tidak membaik dengan antibiotik. Beberapa tanda klinis khas dapat dilihat dari mata, mulut, kulit, dan kelenjar getah bening.

"Gejala utamanya demam menetap. Lalu mata merah tanpa kotoran (belek), bibir merah dan pecah, lidah tampak seperti stroberi, ruam di kulit, serta telapak tangan dan kaki tampak merah dan bengkak,” kata Najib.

Pembesaran kelenjar getah bening di leher juga kerap muncul pada pasien, tapi tanda-tanda tersebut tidak selalu hadir secara bersamaan sehingga diagnosis bisa terlewat pada pemeriksaan awal.

“Gejalanya bisa muncul bertahap, tidak selalu sekaligus. Hari ini demam, besok muncul ruam, lalu mata merah. Karena itu perlu pemantauan,” dr. Najib menambahkan.

Bekas suntikan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) di lengan yang tampak kembali merah dan meradang bisa menjadi salah satu tanda penyakit kawasaki. (Tangkapan layar media briefing IDAI)

Pada sejumlah kasus kawasaki pada anak, banyak yang menduga sebagai campak, inveksi virus, hingga radang usus buntu karena nyeri keluhan nyari perut dan diare.

Selain itu, dr. Najib juga menyoroti tanda khas lain yang sering terlewat, yaitu bekas suntikan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) di lengan yang tampak kembali merah dan meradang saat fase akut kawasaki.

"Bekas BCG bisa menjadi merah dan aktif lagi. Itu petunjuk penting yang bisa dilihat langsung tanpa pemeriksaan rumit," kata Najib.

Kawasaki sering dianggap sebagai penyakit langka. Meski diyakini dapat membaik dengan sendirinya, tetap diperlukan penanganan untuk mencegah terjadinya berbagai kondisi lain maupun komplikasi yang membahayakan.

Dokter Najib, yang terhimpun dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI mengingatkan, dengan terapi yang diberikan lebih awal, risiko kelainan arteri koroner dapat ditekan hingga sekitar dua sampai tiga persen. Untuk itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal serta rujukan cepat kepada dokter anak dan kardiolog anak.