JAKARTA - Penyakit Kawasaki merupakan salah satu penyakit radang pembuluh darah yang menyerang anak-anak dan kerap luput dikenali karena gejalanya menyerupai infeksi biasa.
Padahal, penyakit ini dapat berdampak serius terutama pada jantung, jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Kawasaki dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah koroner yang berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang hingga mengancam nyawa.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Kawasaki pada anak. Tanpa penanganan yang optimal, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi berat pada pembuluh darah jantung.
Dokter spesialis anak dan kardiologi anak sekaligus Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed), menjelaskan penyakit Kawasaki merupakan peradangan pembuluh darah sistemik yang dapat menyerang berbagai organ tubuh.
Namun, dampak paling berbahaya terjadi ketika peradangan mengenai arteri koroner yang berfungsi memasok darah ke jantung.
"Komplikasi yang paling kita khawatirkan adalah pelebaran atau aneurisma arteri koroner. Kalau tidak diobati, risikonya bisa terjadi pada sekitar 15 sampai 25 persen pasien," kata Najib dalam seminar daring IDAI bertema Kawasaki pada anak yang diikuti dari Jakarta, seperti dikutip ANTARA.
Arteri koroner memiliki peran vital dalam menyalurkan darah dan oksigen ke otot jantung. Bila pembuluh ini mengalami pelebaran atau gangguan aliran, kondisi tersebut dapat memicu pembentukan bekuan darah yang berisiko menyebabkan serangan jantung, bahkan pada usia anak.
BACA JUGA:
Penyakit Kawasaki pertama kali dilaporkan di Jepang pada tahun 1967 oleh dokter Tomisaku Kawasaki. Hingga kini, penyebab pasti penyakit ini belum diketahui. Namun, sejumlah penelitian menduga keterkaitannya dengan faktor infeksi serta predisposisi genetik.
"Ini adalah vaskulitis sistemik atau peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh. Bisa mengenai banyak bagian, tapi yang menentukan keselamatan pasien adalah keterlibatan pembuluh darah jantung,” ujar profesor yang juga dikenal sebagai Bapak Kawasaki Indonesia itu.
Secara global, Najib menyebutkan bahwa lebih dari satu juta kasus penyakit Kawasaki telah tercatat. Di Indonesia sendiri, ia mulai melakukan sosialisasi dan penanganan sejak 1999 dan telah menangani lebih dari 2.000 kasus.
Sebagai bagian dari Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI, Najib menilai penyakit Kawasaki kerap dianggap sebagai penyakit langka. Padahal, jumlah kasusnya cukup signifikan dan berpotensi tidak terdiagnosis, terutama jika anak datang berobat dalam kondisi sudah mengalami kelainan pada arteri koroner akibat keterlambatan penanganan.
Ia menambahkan, pemberian terapi sejak fase awal penyakit terbukti mampu menurunkan risiko kelainan arteri koroner secara signifikan hingga sekitar dua sampai tiga persen. Karena itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal Kawasaki serta perlunya rujukan cepat ke dokter spesialis anak dan kardiolog anak.