JAKARTA – Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, 23 September 2025 menjadi babak baru dalam arah kebijakan politik luar negeri Indonesia, khususnya mengenai Timur Tengah.
Setelah 80 tahun merdeka dengan tujuh kali ganti presiden, Indonesia tidak pernah secara terbuka tentang keberadaan Israel. Namun di New York hari itu, Prabowo memulainya.
Berbicara dengan penuh percaya diri di podium, Prabowo menyatakan komitmen Indonesia terhadap perdamaian di Gaza. Bahkan dia berjanji untuk mengirimkan 20 ribu pasukan penjaga perdamaian di wilayah yang sedang dilanda perang itu.
Tanpa diduga Prabowo juga meminta pemimpin dunia untuk menjaga keamanan Israel, sebelum akhirnya menutup pidato dengan kata “shalom”. Salam khas Yahudi itu sebenarnya melanggar tradisi solidaritas pro-Palestina yang selalu digaungkan Indonesia.
“Sebagai penutup, saya ingin menegaskan kembali dukungan penuh Indonesia terhadap Solusi Dua Negara di Palestina. Kita harus memiliki Palestina yang merdeka, namun juga harus mengakui dan menjamin keamanan serta keselamatan Israel. Hanya dengan demikian kita dapat mencapai perdamaian sejati: perdamaian tanpa kebencian, perdamaian tanpa kecurigaan,” ujar Presiden ke-8 Indonesia itu dalam pidatonya yang disampaikan dalam Bahasa Inggris.

Rumor Kunjungan ke Israel
Pidato Prabowo itu tak hanya menuai pujian dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang selama ini dihujat banyak pemimpin dunia juga melontarkan pujian atas pidato Prabowo itu.
Atas pidato tersebut lantas tersebar rumor bahwa Prabowo akan mengunjungi Israel, seperti yang diberitakan beberapa media di negara itu.
"Presiden Indonesia Prabowo Subianto akan tiba di Israel besok, menandai kunjungan pertama kepala negara dari Jakarta ke Israel, menurut sumber yang mengetahui rincian tersebut," demikian laporan Times of Israel pada 14 Oktober 2025.

Tetapi Kementerian Luar Negeri RI melalui Menlu Sugiono buru-buru membantah rumor soal rencana kunjungan Prabowo ke sana.
“Tidak benar. Sesuai rencana awal Presiden akan kembali ke tanah air setelah acara di Mesir selesai," ujar Sugiono usai mendampingi Prabowo dalam KTT Perdamaian Gaza di Sharm El-Sheikh, Mesir, 13 Oktober 2025.
Dan memang Prabowo dan rombongan akhirnya tiba kembali di Indonesia, melalui Bandara Halim Perdanakusuma pada 14 Oktober 2025.
Dua Faktor Pendorong
Dikutip dari analisis Ahmad Rizky M Umar, mahasiswa program doktor di Aberystwyth University di Wales, Inggris, ada dua faktor pendorong yang membuat Prabowo terlihat dekat dengan Israel. Terlebih ketika dia pada 22 Januari lalu menandatangani keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian untuk Gaza hasil bentukan Presiden AS, Donald Trump.
Pertama, keteribatan Prabowo dengan Israel yang sebenarnya sudah dijalin cukup lama. Kedua, ambisi untuk mempertahankan hubungan dekat dengan Trump.
Kedekatan Prabowo dengan Israel sudah menjadi rahasia umum. Media Israel, The Jerusalem Post, pada 2022 memberitakan Prabowo telah berupaya menggunakan kerja sama pertanian sebagai sarana normalisasi. Dalam kapasitas sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo dilaporkan bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Eyal Hulata, dan kuasa usaha di Bahrain, Itay Tagner.
Keterpilihan Trump sebagai Presiden AS, memberikan insentif lebih lanjut bagi ambisi Prabowo untuk memainkan peran yang lebih besar dalam politik internasional. Prabowo menemui Trump ketika ia mengunjungi Amerika Serikat pada 2024 sebelum pelantikan Presiden AS. Trump memuji Prabowo atas kefasihannya berbahasa Inggris.

Meskipun Prabowo tidak meninggalkan keterlibatan Indonesia dengan China, ia melihat peluang untuk terlibat dengan aliansi sayap kanan baru Trump, yang juga mencakup Netanyahu.
Namun, masih belum jelas apakah ambisi kebijakan luar negeri Prabowo yang baru akan membuahkan hasil. Meskipun Indonesia secara bertahap memasuki lingkaran negosiasi Gaza, perannya masih terbatas. Mesir dan Qatar masih memainkan peran kunci, bersama dengan AS.
Janji Prabowo untuk mengirim 20.000 pasukan penjaga perdamaian juga tidak pasti, karena Israel dan Hamas masih saling baku tembak hingga saat ini.
Kesampingkan Urusan ASEAN
Sejak era Soeharto, Indonesia secara konsisten memprioritaskan isu-isu regional dengan memposisikan ASEAN sebagai inti kebijakan luar negeri Indonesia.
Soal urusan dengan negara-negara Timur Tengah, Indonesia memang berinteraksi. Tetapi biasanya menggunakan organisasi regional dan internasional untuk melakukannya, khususnya Organisasi Konferensi Islam (OKI). Indonesia merupakan anggota terkemuka di organisasi itu.
Dalam pidatonya sebagai Capres RI di forum diskusi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, 13 November 2023, Prabowo menguraikan pendekatan kebijakan luar negerinya sebagai “kebijakan bertetangga baik”. Ia menggunakan slogan, “seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak”.
BACA JUGA:
Manifesto kampanye Prabowo dan Partai Gerindra menguraikan pendekatan kebijakan luar negeri “pasca-ASEAN” yang lebih ambisius. Mereka menganggap ASEAN sebagai kerangka kebijakan luar negeri yang ketinggalan zaman dan terbatas, dan bercita-cita untuk kebijakan luar negeri yang lebih kuat guna melindungi keamanan dan kedaulatan nasional di luar kawasan Indonesia.
Prabowo mengambil risiko dengan tidak fokus pada ASEAN, untuk memproyeksikan peran global bagi Indonesia. Namun secara realistis, Indonesia tidak memiliki kredibilitas atau kemampuan untuk peran tersebut, terutam karena Prabowo juga berupaya menghabiskan triliunan rupiah untuk mendanai kebijakan populis yang mahal seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam tatanan internasional yang semakin tidak pasti, ada kemungkinan bahwa pertaruhan Prabowo Subianto pada akhirnya akan membuahkan hasil. Asal Trump mengakui Indonesia sebagai mitra baru. Tetapi jika ia gagal mewujudkannya, itu dapat berdampak serius pada kedudukan Indonesia di ASEAN.