Celakanya <i>Prank</i> Sampah adalah Kutukan yang Kita Ciptakan Sendiri
Ilustrasi foto (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Seorang YouTuber memancing kehebohan media sosial. Aksinya membagikan bungkus makanan berisi sampah kepada anak-anak dan transpuan di Kota Bandung dikutuk ramai-ramai oleh warganet. Reaksi waras, meski buat kami ada yang juga penting untuk disadari warganet, bahwa YouTuber berkonten prank sampah adalah kutukan yang kita ciptakan sendiri.

Kami tak akan menyebut nama si YouTuber, apalagi mengulas isi kontennya. Tak ada panggung untuk dia. Namun, merefleksi apa yang telah kita lakukan untuk menghidupkan YouTuber-YouTuber sampah macam pelaku sangat penting sekarang.

Kontennya telah dilaporkan ke polisi. Tersangka bernama T telah ditahan. Namun, seorang tersangka utama dan beberapa orang lain yang terlibat dalam pembuatan video masih dicari. Perputaran uang di balik kekonyolan yang ia lakukan jelas menggiurkan.

Eksposur namanya di dalam pemberitaan dan perbincangan media sosial dimanfaatkan sejumlah orang. Di Instagram, misalnya. Kami menemukan beberapa akun atas nama si YouTuber. Sulit memastikan mana yang asli. Yang jelas, salah satu akun diangkat jadi pemberitaan media massa karena menyatakan bakal menyerahkan diri ke polisi jika pengikutnya mencapai angka tertentu.

Kami mencoba menebak seberapa besar putaran uang dalam kanal YouTube yang bersangkutan. Merujuk situs lifepal, ada dua indikator yang bisa digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan sebuah kanal YouTube: Cost Per Mile (CPM) dan Cost Per Click (CPC). 

Kedua indikator baru bisa bekerja jika sebuah kanal telah memenuhi dua syarat, yaitu pertambahan jumlah subscriber minimal seribu dalam waktu satu tahun dan konten video di kanal tersebut harus ditonton minimal selama empat ribu jam oleh semua viewers dalam kurun waktu yang sama.

Merujuk dari situs yang sama. Di tahun 2019, angka CPM atau uang yang didapat dari sebuah kanal mencapai Rp7.000 per seribu tayangan iklan di seluruh video. Sedangkan, CPC atau nominal yang didapat sebuah kanal dari tiap klik iklan yang tayang di video berkisar Rp5.000 hingga Rp12.000.

Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

Lantas, berapa uang yang telah kita berikan pada kanal pembuat prank bingkisan sampah? Melalui situs socialblade.com, kanal tersebut tercatat telah mengumpulkan seratus ribu subscribers dengan total views mencapai 4.955.428. Angka ini diperoleh 21 video yang diunggahnya sejak 10 Desember 2019 yang lalu.

Salah satu video yang mengundang view paling banyak mencapai 1,2 juta sejak diunggah 27 April lalu. Dari video itu saja, Social Blade mencatat pemasukan sekitar 597 dolar AS hingga 4,8 ribu dolar AS atau setara dengan Rp9.002.2760 hingga Rp72.384.000 dengan kurs Rp15.080 yang berlaku hari ini.

Sementara, secara keseluruhan, kanal YouTube itu diestimasi menghasilkan uang 552 dolar AS hingga 8,8 ribu dolar AS atau setara Rp8.324.160 hingga Rp132.704.000. Atas segala catatan, akun si YouTuber bahkan terklasifikasi sebagai kanal Grade B. Sebuah capaian fantastis untuk konten-konten tak guna di dalamnya.

Sosiologis

Kami berbincang dengan sosiolog dari Universitas Islam Neger (UIN) Syarif Hidayatullah, Tantan Hermansyah soal ini. Di mata Tantan, ada reaksi menarik yang terjadi di tengah masyarakat soal prank, bagaimana masyarakat jadi rantai yang taut menaut menciptakan ilusi nikmat prank.

Dari sisi pembuat konten, kegandrungan itu adalah candu. Ia memicu hasrat luar biasa. Teori dramaturgi menggambarkan kondisi ini. Hasrat luar biasa, ditambah kompetisi di antara pengelola kanal mendorong para pembuat konten memodifikasi dan menginovasi sajian mereka.

Modifikasi dan inovasi yang sayangnya sangat banyak menjerumuskan para pembuat konten ke jurang amoral. Dorongan dramaturgi terlalu besar untuk dibendung.

"Orang lama-lama harus makin kejam atau mahal atau susah. Sebab kalau hanya repetisi tentu akan ditinggalkan. Dulu kita masih ingat tentang swafoto di tempat ekstrem. Sampai akhirnya banyak yang celaka karena selfie di tempat biasa dianggap tidak tren atau biasa saja," kata Tantan ketika dihubungi VOI, Selasa, 5 Mei.

Tantan mengusulkan penyesuaian aturan yang dapat ditetapkan oleh otoritas untuk mengendalikan wabah konten sampah. "Mengapa perlu diatur? Karena berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Masyarakat perlu hiburan. Dan para pembuat hiburan bisa meraup keuntungan dari hasil kreativitasnya," kata Tantan.

Menurut Tantan, zaman kemudahan dengan cepat membuai masyarakat pada kenikmatan-kenikmatan semu nan merapuhkan. Benar dan salah. Moral dan amoral jadi makin abu-abu. Reaksi masyarakat ramai-ramai mengutuk ciptaan mereka sendiri ini jadi gambaran jelas rapuhnya masyarakat hari ini.

"Itulah masyarakat. Dia punya hukumnya sendiri dan kadang menemukan kebenaran dengan caranya sendiri," kata Tantan.

Benar, memang. Akses hiburan makin mudah dicapai. YouTube melanggengkan konsumsi hiburan ke layar-layar gawai pribadi kita. Namun, bagaimanapun, YouTube cuma teknologi. Ia diciptakan untuk dioperasikan, bukan mengoperasikan.

YouTube bekerja dengan algoritma. Tak ada timbangan moral yang bisa menggantikan peran akal manusia. Karenanya, penting bagi kita untuk tetap pegang kendali soal hal-hal apa saja yang ingin kita pupuk dan lestarikan di dunia ini.