Seberapa Besar Dana yang Digelontorkan AS untuk Israel dan Digunakan untuk Apa?
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Sudah menjadi rahasia umum kalau Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu negara penyokong terbesar Israel, terutama dari segi dana dan peralatan militer. Tapi berapa besar sebenarnya dana yang digelontorkan Negera Abang Sam untuk Israel? Dan dipakai untuk apa saja anggarannya?

Presiden AS Joe biden mendapat pertanyaan dari beberapa politisi Demokrat tentang jumlah bantuan yang dikirim AS ke Israel. Persoalan ini juga turut disoroti Senator Bernie Sanders yang mengatakan AS harus melihat dengan cermat bagaimana uang itu digunakan. Isu bantuan AS untuk Israel ini lantas menjadi bola saju dalam beberapa waktu terakhir.

Berapa banyak?

Seperti dikutip BBC, pada 2020, AS memberikan 3,8 miliar dolar AS (sekitar Rp54,4 triliun) ke Israel. Anggaran ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang tahunan yang dianggarkan pemerintah Obama. Hampir semua bantuan ini digunakan untuk militer. 

Dukungan ini datang sebagai bagian dari perjanjian yang ditandatangani mantan Presiden Barack Obama pada 2016. Total bantuan yang dianggarkan waktu itu sebesar 38 miliar dolar AS (sekitar Rp544,5 triliun) untuk satu dekade yakni dari 2017-2028.

Anggaran ini meningkat sekitar 6 persen dari bantuan pada dekade sebelumnya. Selain itu, tahun lalu AS memberikan 5 juta dolar AS (sekitar Rp72 miliar) untuk pemukiman para migran Israel. AS memang sudah lama menerapkan kebijakan zionisme ini.

Israel Defense Force (IDF) (Sumber: Wikimedia Commons)

Untuk apa dananya?

Selama bertahun-tahun, bantuan AS telah membantu Israel mengembangkan alutsista militernya sehingga menjadi salah satu yang paling maju di dunia. Berkat anggaran itu pula Israel mampu membeli peralatan militer canggih dari AS. 

Sebagai contoh, Israel telah membeli 50 pesawat tempur F-35 yang dapat digunakan untuk meluncurkan serangan rudal. Sejauh ini 27 pesawat yang masing-masing berharga 100 juta  dolar AS (sekitar Rp1,4 triliun) sudah dikirim ke Israel. 

Tahun lalu juga Israel membeli delapan Boeing 'Pegasus' KC-46A seharga sekitar 2,4 miliar dolar AS (sekitar Rp34,3 triliun). Pesawat ini mampu mengisi bahan bakar pesawat seperti F-35 di udara. 

Dari 3,8 miliar dolar AS yang diberikan kepada Israel pada 2020, 500 juta dolar AS (sekitar Rp7,1 triliun) dialokasikan untuk rudal pertahanan termasuk Iron Dome, sistem rudal pertahanan penjegal rudal musuh. Sejak 2011, total dana AS yang diinvestasikan untuk Iron Dome ini sebesar 1,6 miliar dolar AS (hampir Rp23 triliun). 

Sebagai tambahan, Israel yang berkolaborasi dengan AS telah menghabiskan jutaan dolar AS dalam pengembangan teknologi militer. Misalnya saja pengembangan sistem untuk mendeteksi terowongan bawah tanah yang digunakan untuk menyusup ke Israel. 

Iron Dome Israel (Sumber: Wikimedia Commons)

Di balik bantuan AS

Ada sejumlah alasan mengapa AS menggelontorkan banyak dana kepada Israel. Salah satunya karena komitmen bersejarah AS yang mendukung penuh pembentukan negara Yahudi pada 1948. 

Selain itu, Israel dipandang AS sebagai sekutu penting di Timur Tengah. Karena Israel menjadi salah satu negara yang berkomitmen dalam menjunjung nilai-nilai demokrasi. 

Menurut Badan Riset Kongres AS, bantuan luar negeri AS telah menjadi komponen utama dalam memperkuat hubungan tersebut. "Pejabat AS dan banyak anggota parlemen telah lama menganggap Israel sebagai mitra penting di wilayah tersebut," tertulis. 

Selain itu, bantuan dari AS juga dianggap bisa menjadi "perlindungan" Israel dari potensi ancaman regional. "Bantuan AS ditujukan untuk memastikan Israel aman untuk mengambil langkah-langkah bersejarah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan damai dengan Palestina dan perdamaian dengan regional secara komprehensif," tulis Badan Bantuan Luar Negeri AS.

Memastikan Israel bisa mempertahankan diri dari ancaman regional telah menjadi pijakan kebijakan luar negeri AS baik presiden yang berasal dari partai Demokrat maupun Republik. Kebijakan itu telah berlangsung selama beberapa dekade. 

 

BERNAS Lainnya