Meningkatnya Beban Mental Mahasiswa karena <i>e-Learning</i> dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi foto (Frank Romero/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Belajar di rumah dengan metode e-learning ternyata dapat meningkatkan beban mental bagi mahasiswa di Indonesia. Lantas bagaimana cara mengurangi beban mental tersebut?

Akibat pandemi COVID-19, hampir seluruh mahasiswa Indonesia belajar di rumah sejak pertengahan Maret. Oleh karenanya, semua kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara daring. Salah satunya menerapkan pembelajaran e-learning. 

Sayangnya, penelitian terbaru yang dibuat dosen Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Ari Widyanti dan timnya mengungkapkan belajar menggunakan e-learning dapat meningkatkan beban mental mahasiswa. Penelitian yang bertajuk e-Learning and Perceived Learning Workload among Students in an Indonesian University itu dipublikasikan oleh jurnal internasional Knowledge Management & E-Learning.

Ari, dalam tulisannya yang dikutip ITB menjelaskan, e-learning adalah sistem pembelajaran daring interaktif yang telah diterapkan oleh pendidikan tinggi. Dalam penerapannya, e-learning lebih banyak fokus pada metode belajar mandiri (self-learning). Lewat e-learning, mahasiswa biasanya hanya mengakses materi atau mengunggah tugas dan berdiskusi dengan dosen pengampu mata kuliah tertentu. 

Menurut Ari, sistem pembelajaran ini punya kelemahan, yaitu mengurangi proses sosialisasi antarindividu karena berkurangnya proses komunikasi tatap muka. Hal ini yang menjadi faktor terbesar mengapa e-learning menambah beban mental mahasiswa. 

Beban mental didefinisikan sebagai kemampuan kognitif seseorang menghadapi beban pekerjaan tertentu. Sementara, ketika seseorang merasa beban kerjanya melampaui kapasitas kognitif mereka, otomatis beban mental yang mereka alami akan tinggi. 

Untuk mengukur beban mental mahasiswa, Ari menggunakan tiga parameter dengan tiga instrumen berbeda. Pertama, tingkat kesiapan (readiness), kemudian rasa kantuk (sleepiness), dan terakhir menghitung persepsi beban mental subjektif. Parameter itu lalu dibandingkan antara pembelajaran e-learning dengan tatap muka langsung di kelas. 

Parameter tingkat kesiapan digunakan untuk mengukur seberapa tinggi beban mental mahasiswa ketika mengoperasikan teknologi untuk mengakses e-learning. Pada parameter ini Ari mengungkapkan hasilnya tidak ada perbedaan tingkat kesiapan para responden baik yang belajar e-learning maupun di kelas. Pasalnya mahasiswa pada umumnya sudah mahir menggunakan teknologi untuk e-learning

Kemudian, parameter kedua yakni tingkat kantuk. Dari hasil penelitan tersebut menunjukkan pada proses pembelajaran e-learning lebih jauh mengundang kantuk daripada di kelas. Dan hasil akhirnya beban mental mahasiswa lebih tinggi saat pembelajaran e-learning dibandingkan di kelas. 

Ari Widiyanti menjelaskan beban mental yang tinggi bisa karena ketidakhadiran dosen di kelas. Dengan adanya dosen, mahasiswa bisa langsung tahu mana materi yang paling penting untuk diulas. Sedangkan, ketika belajar dengan e-learning, mahasiswa harus menentukan secara mandiri materi yang perlu dipelajari dan yang tidak. Hal inilah yang menambah beban mental mereka. 

Selain itu, orang Indonesia lebih senang berkomunikasi langsung daripada dengan menulis maupun secara virtual. Sehingga, "orang Indonesia cenderung untuk melakukan pembelajaran secara langsung dibandingkan melalui e-learning," ungkap Ari.

 

Blended learning

Sementara itu, dosen yang menjabat sebagai Lektor Kepala di Fakultas Teknologi Industri ITB Ari Widiyanti menjelaskan ada cara untuk mengatasi kelemahan pembelajaran e-learning. Di antaranya, ia mengusulkan untuk menerapkan pembelajaran blended learning. 

Pembelajaran blended learning, kata Ari merupakan pembelajaran e-learning yang dilakukan secara interaktif. Seiring berkembangnya waktu, penggunaan blended learning dan e-learning terus berkembang karena fleksibilitasnya yang bisa menyesuaikan tempat, waktu, dan kecepatan pembelajaran. 

Sehingga para pengajar diharapkan tidak monoton dalam menerapkan pembelajaran e-learning. Pengampu seharusnya bisa membuat proses belajar lebih interaktif seperti misalnya dengan memanfaatkan teknologi multimedia yang lain. Salah satu contohnya video streaming.