JAKARTA – Popularitas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melonjak tajam berkat gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos. Belakangan, namanya dihubungkan dengan Partai Amanat Nasional (PAN).
Sosok Menkeu Purbaya belakangan ini sedang menjadi kesayangan publik. Gaya komunikasinya yang terkenal lugas, mudah dimengerti, bahkan bagi sebagian kalangan disebut koboi, justru menjadi daya tarik sendiri.
Purbaya Yudhi Sadewa masuk Kabinet Merah Putih menggantikan Sri Mulyani pada 8 September 2025. Pada tiga hari pertama menjadi bendahara negara, Purbaya mendapat sentimen negatif dari warganet mencapai 55 persen.
Namun pandangan tersebut berangsur berbalik. Mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu kini justru sedang menjadi figur kesayangan masyarakat. Namanya pun mulai dikaitkan dengan dunia politik.
Awal yang Sulit
Sejak ditunjuk Presiden Prabowo Subianto menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, nama Purbaya langsung menjadi sorotan. Bukan saja soal tugas berat yang dibebankan kepadanya, di tengah situasi ekonomi Indonesia yang sedang tak baik-baik saja, tapi masyarakat juga dikejutkan dengan pernyataan Purbaya di awal masa tugasnya.
Pada hari pelantikan saja, pria kelahiran 1 Juli 1964 ini sudah menuai hujatan, karena menggunakan frasa “rakyat kecil” saat jumpa pers. Belum lagi unggahan Yudo Sadewa, anak Purbaya, tentang “agen CIA” di akun instagramnya.
Namun tak lama setelah itu, Purbaya justru sukses menarik hati rakyat. Salah satu momen yang mendapat respons positif ketika ia mendadak menelepon Kring Pajak 1500200 untuk menguji langsung kualitas layanan dan kesiapan petugas menjelaskan sistem perpajakan pada 19 September lalu.
BACA JUGA:
Aksi ini jelas menjadi buah bibir, sekaligus menggeser anggapan bahwa gaya Purbaya “koboi” yang sebelumnya bermakna negatif, kini justru menjadi positif.
Dukungan kembali diberikan publik kepada Purbaya setelah Menkeu menegaskan menolak membayar utang Whoosh menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ditambah soal pernyataan Purbaya soal tingginya dana milik pemerintah daerah yang mengendap di bank dan kas daerah, sementara perekonomian nasional membutuhkan dorongan belanja untuk memperkuat daya beli masyarakat. Soal dana daerah yang mengendap ini, Purbaya sempat adu data dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution.
Popularitas Melejit
Serangkaian kinerja Purbaya selama kurang dari dua bulan menjabat Menkeu membuat popularitasnya terus merangkak. Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menempatkan Purbaya sebagai menteri dengan raihan persepsi positif dari public paling tinggi dibanding pejabat lain di KMP.
Survei tersebut dilakukan pada 9-17 Oktober dan melibatkan 1.200 responden. Hasilnya, sebanyak 17, persen responden mempersepsikan Purbaya sebagai menteri dengan kinerja terbaik. Ia mendapat posisi tertinggi di antara menteri kabinet lain, yang rata-rata hanya memperoleh persepsi positif di bawah 15 persen.
Menurut pantauan Litbang Kompas melalui Kompas Monitoring terhadap aktivitas warganet di lima platform media sosial, seperti TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan X periode 8 September sampai 13 Oktober 2025, sentimen positif terhadap Purbaya mencapai 47 persen, diikuti suara netral 25 persen, dan negatif 28 persen.
Tak hanya itu, nama Purbaya juga melesat dalam survei elektabilitas calon presiden dan wakil presiden. Lembaga survei IndexPolitica yang dilakukan pada 1-10 Oktober 2025 kepada 1.610 responden menunjukkan bahwa bendahara negara itu meraih elektabilitas 22,50 persen atau hanya kalah dari Presiden Prabowo Subianto (40,12 persen).
Dalam survei yang sama, Purbaya mengungguli sejumlah tokoh politik seperti dua mantan gubernur yang juga kandidat capres pada Pilpres 2024, yaitu Anies Baswedan (13,40 persen) dan Ganjar Pranowo (7,12 persen), serta Wapres Gibran Rakabuming Raka sebesar 4,8 persen.
Namun ketika ditanya soal peluangnya dirinya menjadi cawapres, Purbaya menjawab lugas, “Baru juga sebulan kerja, gila lu!”
Mantan Ketua LPS ini juga sempat dikaitkan dengan salah satu parpol. Wakil Ketua Umum DPP PAN Eddy Soeparno mengakui Purbaya memiliki elektabilitas tinggi, meski ia tidak terlihat tertarik sepenuhnya dengan dunia politik.
Bukan Elektabilitas, tapi Parpol Penguasa
Direktur IPO Dedi Kurnia Syah menuturkan, Menkeu Purbaya sebaiknya tidak diganggu dengan propaganda elektabilitas menyambut kontestasi politik 2029 dalam menjalankan tugasnya.
“Purbaya akan baik jika tidak diganggu dengan propaganda elektabilitas, tetapi perlu diberi evaluasi kinerja,” kata Dedi melalui pesan singkat.
Toh selama ini, ucap Dedi, Purbaya tidak terkesan membuat kegiatan populis dan selalu konsisten bicara tentang keuangan dan anggaran.
Nama Purbaya yang viral di kalangan masyarakat pun dbandingkan dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, eks Gubernur Jakarta Anies Baswedan, dan Wapres Gibran. Namun menurut Dedi, langkah Purbaya berbeda dengan ketiga nama tersebut.
“Purbaya selalu bicara soal keuangan dan anggaran, berbeda dengan Dedi Mulyadi, Anies, bahkan Gibran yang memang banyak lakukan gimik,” ungkapnya.
Dedi tidak menampik bahwa sekarang ini sosok Purbaya Yudhi Sadewa sedang diminati publik. Namun ia menilai masih terlalu dini membahas elektabilitas dalam konteks Pilpres 2029 karena dinamika politik nasional yang tidak stabil.
"Itu lebih banyak, karena faktor kinerja dan gaya kepemimpinan Purbaya, sehingga mungkin saja Purbaya masuk dalam radar, meskipun dia sendiri cenderung belum terlihat tertarik karena mengesankan sibuk bekerja," ujar dia.
Dedi melanjutkan, elektabilitas tinggi seseorang tak terlalu berpengaruh dalam kontestasi politik saat ini, yang dikuasi oleh parpol. Ia pun menyinggung status Gibran saat menyambut Pilpres 2024, yang tidak masuk dalam tiga besar untuk elektabilitas. Meski begitu, putra sulung Presiden Ketujuh RI Joko Widodo ini tetap menjadi cawapres mendampingi Prabowo dengan elektabilitas tinggi.
"Gibran diajukan, tentu faktor kekuasaan, bukan karena kapasitas ataupun elektabilitas," ungkapnya.