Bagikan:

JAKARTA – Beberapa daerah di Indonesia, terutama Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mengalami perubahan cuaca ekstrem dalam beberapa pekan ke belakang. Akibatnya, kondisi kesehatan sebagian besar masyarakat pun terpengaruh.

Cuaca panas terik sejak pagi hingga siang hari, seringkali berubah menjadi hujan deras pada sore hingga malam. Di tengah perubahan cuaca yang ekstrem, sebagian besar masyarakat mengeluhkan kondisi kesehatan yang menjadi mudah sakit.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, kasus influenza dan gangguan saluran napas mulai meningkat pada awal Oktober 2025, di mana musim penghujan mulai datang.

Mengutip data Kemenkes, pada pekan ke-38 atau sekitar awal Oktober 2025 terjadi peningkatan kasus influenza sampai 38 persen. Adapun subtype virus yang mendominasi adalah influenza A.

Kasus Influenza Meningkat

Pergantian musim, dari panas ekstrem kemudian hujan, menyebabkan perubahan suhu dan kelembapan udara yang memengaruhi daya tahan tubuh serta penyebaran virus dan bakteri.

Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya paparan sinar matahari selama musim hujan sehingga dapat menurunkan produksi vitamin D yang berperan penting alam mendukung daya tahan tubuh. Sekarang ini, salah satu penyakit yang banyak menyerang adalah influenza.

Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 sepanjang Oktober-19 sepanjang Oktober 2025 tercatat ada 115 kasus influenza dengan rincian flu A (H1N1) 13 kasus, flu A (H3N2) 86 kasus, dan flu B (Victoria) 16 kasus. Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, yang hanya mencatat 54 kasus influenza.

Warga berjalan dengan menggunakan payung saat hujan di Depok, Jawa Barat, Jumat (22/3/2024). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/tom/pri)

Influenza A merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan bagian atas, termasuk hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Virus ini memiliki beberapa subtipe seperti H1N1, H5N1, dan H3N2—yang saat ini tengah mendominasi daerah Asia.

Dokter Zakiyah Wirda Sari, dokter fungsional DD Klinik Ciputat, menuturkan, influenza adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari kelompok Orthomyxovirus yang terdiri dari tiga tipe, yaitu A, B, dan C. Influenza tipe A dinilai paling berisiko karena mudah bermutasi dan dapat menular antarspesies, termasuk dari hewan seperti burung dan babi ke manusia.

Nah, tipe A ini dia memiliki variasi genetik yang sangat banyak. Terus kemudian dia juga sifatnya labil, mudah bermutasi, dia mempunyai reservoir atau tempat hidup tidak hanya pada manusia, bisa ditemukan pada hewan seperti burung dan babi, sehingga itu memudahkan influenza tipe A terutama, mudah menyebar dan berpotensi untuk menyebarkan pandemi,” ujar dr. Zakiyah dalam webinar yang diselenggarakan Kamis (30/10/2025).

Influenza Tipe A. (ANTARA/Handout)

Penularan influenza A juga dapat terjadi secara langsung melalui percikan droplet ketika seseorang batuk atau bersih, serta secara tidak langsung melalui benda yang terkontaminasi. Dokter Zakiyah menuturkan, hampir semua orang berisiko terkena influenza A, namun pada usia tertentu memiliki risiko lebih tinggi, yaitu pada anak terutama di bawah usia 5 tahun dan usia lanjut. Karena pada usia tersebut sistem kekebalan mereka sudah menurun.

Selain itu, dr. Zakiyah juga menjelaskan perbedaan antara influenza dan common cold yang sering dianggap sama oleh masyarakat. Menurutnya, keduanya memang disebabkan oleh virus dan memiliki gejala mirip, namun bisa dibedakan dari tingkat keparahan dan gejala dominannya.

“Influenza ini biasanya demamnya lebih tinggi, dan keluhan nyeri ototnya lebih dominan dibandingkan dengan common cold. Terkadang batuk disertai dengan sakit tenggorokan, jadi memberikan gambaran seperti faringitis. Sedangkan, common cold atau salesma, dia lebih dominan dengan keluhan hidung tersumbat, bersih-bersih, atau hidung meler,” ia menjelaskan.

Vaksinasi Influenza dan Pola Hidup Sehat

Dalam kesempatan yang sama, Plh Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Prima Yosephine menjelaskan, data pemantauan surveillance menunjukkan adanya peningkatan kasus di berbagai wilayah di Indonesia dan lonjakan tersebut didominasi oleh subtipe influenza A (H3).

“Tipe ini (Influenze A) yang paling banyak dan kelihatan memang naik secara signifikan, dan ini polanya masih sesuai dengan pola influenza yang musiman, sehingga memang ini bisa kami nyatakan bahwa tidak akan jatuh ke dalam keadaan pandemi, tetapi memang kita perlu melakukan langkah-langkah untuk bisa tidak memperluas dari penularan influenza ini,” tutur dr. Prima.

Dia mengatakan, strategi penanggulangan influenza di Indonesia terdiri dari pencegahan, deteksi, dan penanganan. Pencegahan, ucap dr. Prima, dapat dilakukan mulai dari edukasi, pengendalian indikator risiko, dan imunisasi.

Petugas medis menyuntikkan imunisasi kepada anak di salah satu Pusat Perbelanjaan, Jakarta, Minggu (4/9/2022). (ANTARA/Asprilla Dwi Adha)

"Sementara, deteksi dapat kita lakukan survei, penguatan di pintu masuk negara dan penguatan di laboratorium, dan penanganan terdiri dari standarisasi penanganan kasus, pelayanan faskes dan sistem rujukan, peningkatan kapasitas SDM kesehatan, penyediaan logistik, dan komunikasi risiko,” terangnya.

Dokter Prima, yang juga Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, mengatakan pihaknya akan membuat berbagai kajian agar dapat memasukkan vaksin influenza sebagai bagian dari program imunisasi nasional.

Saat ini, kata dr. Prima, vaksin influenza memang telah memiliki izin edar namun belum masuk dalam program imunisasi nasional. Pelaksanaan vaksinasi influenza masih dilakukan secara mandiri melalui fasilitas kesehatan swasta.

Meski demikian, dr. Prima menganjurkan masyarakat, khususnya kelompok rentan mendapatkan vaksin influenza setiap tahun supaya mendapat perlindungan spesifik terhadap penyakit tersebut.

Selain vaksinasi influenza, pola hidup yang bersih dan sehat, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, serta termasuk memakai masker, dapat membantu mencegah penyebaran penyakit influenza A.

"Menggunakan masker bagi masyarakat yang memang sudah ada batuk, ada flu, pakai masker, kemudian menerapkan etika batuk dan bersin ketika kita berada di tengah-tengah keramaian, lalu memang sudah ada imunisasinya atau vaksinasinya untuk influenza ini," katanya

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+