JAKARTA – Gaya komunikasi Menteri Ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa terus menjadi sorotan. Belum lama ini gaya komunikasinya dikomentari Komisaris Pertamina, Hasan Nasbi.
Hasan Nasbi ini mengkritik gaya komunikasi Purbaya yang dinilai berpotensi melemahkan kekompakan pemerintah. Menurut mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (sekarang Badan Komunikasi Pemerintah), Purbaya justru terkesan menyentil pejabat lain.
“Kalau kita bicara dalam konteks pemerintah, sesama anggota kabinet, sesama pemerintah enggak bisa baku tikam terus-menerus di depan umum. Karena itu akan melemahkan pemerintah,” kata Hasan dalam video yang diunggah di kanal Youtube pribadinya.
Pernyataan Hasan Nasbi, yang pernah dikritik akibat komentarnya terkait kiriman kepala babi terhadap jurnalis Tempo Francisca Christy Rosana, menuai reaksi beragam. Pakar komunikasi politik Hendri Satrio menilai gaya koboi Purbaya dapat mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintah, yang sempat melemah belakangan ini.
Tapi dari sudut pandang ekonom, Menkeu Purbaya mesti memperbaiki gaya komunikasinya karena itu berhubungan dengan sentimen pasar.
Menghadirkan Optimisme
Sejak ditunjuk Presiden Prabowo Subianto menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, komunikasi Purbaya mendapat sorotan. Awalnya, ia mendapat sentimen negatif dari masyarakat karena menganggap tuntutan 17+8 seusai rangkaian demonstrasi Agustus lalu hanyalah suara sebagian kecil rakyat.
Namun dengan cepat Purbaya berhasil memikat hati publik lewat gebrakan-gebrakannya. Tak jarang ia menyentil pejabat lain di lingkungan pemerintahan. Purbaya bahkan sempat menyinggung progam unggulan presiden, Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengancam akan mengambil anggaran yang tidak terserap dalam program tersebut.
Tapi gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos disukai masyarakat. Setidaknya, ini tergambar dari Data Litbang Kompas yang melaporkan bahwa Menkeu Purbaya mendapat peningkatan sentimen positif masyarakat selama sebulan menjabat.
Sentimen warganet terhadap Menkeu Purbaya naik dari 23 persen menjadi 47 persen pada periode 8 September-13 Oktober 2025.
Purbaya bukan pejabat pertama dengan gaya komunikasi ceplas-ceplos. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mendapat tingkat kepuasan publik 30,7 di 12 bulan awal pemerintahannya, dibandingkan Megawati Soekarnoputri dengan 26,7.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang selain ceplas-ceplos juga galak, mendapat tingkat kepuasan kinerja sebesar 75 persen dari Saiful Mujani Research Center (SMRC) dan 63 persen dari Poltracking di 2016.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai gaya komunikasi yang ditampilkan Purbaya justru menghadirkan optimisme di kalangan masyarakat, meski ia mendapat kritik dari Hasan Nasbi.
Bahkan menurut Hendri, komentar buruk soal gaya komunikasi Purbaya tak lebih dari orang yang memang tidak suka dengan penerus Sri Mulyani tersebut.
BACA JUGA:
“Justru dalam ilmu komunikasi, apa yang disampaikan Pak Purbaya itu dekat dengan teori yang namanya konsistensi kognitif. Jadi masyarakat sekarang ini memang membutuhkan sebuah optimisme baru untuk kehidupan mereka dan Purbaya memberikan itu," kata Hendri Satrio.
Karena komunikasinya yang ceplas-ceplos, Menkeu Purbaya disebut memiliki gaya koboi. Hendri menilai, gaya tersebut justru menunjukkan bahwa Menkeu memosisikan diri setara dengan rakyat. Menurutnya, gaya komunikasi Purbaya dapat meningkatkan optimisme terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
"Saya rasa Purbaya masih ingat dirinya pada saat dia jadi rakyat. Jadi apa yang disampaikan itu seperti mencerminkan, mencitrakan dirinya pada saat dia jadi rakyat," kata Hendri, yang merupakan pendiri lembaga survei KedaiKOPI.
"Komplain tentang endapan dana yang dilakukan oleh pemerintahan provinsi, kan rakyat akhirnya kesal juga," tegasnya.
Pengaruhi Sentimen Pasar
Sebelum dikritik Hasan Nasbi, Menkeu Purbaya sempat disentil Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun untuk memperbaiki komunikasi politik dan membangun tim ekonomi yang solid. Salah satu yang diserap ketika Purbaya mengomentari pemotongan anggaran MBG yang tidak diserap.
“Pak Purbaya harus berhenti terlalu sering mengomentari kebijakan kementerian lain. Fokuslah pada desain ekonomi besar yang ingin dia bangun untuk mendukung visi Presiden,” ujar Misbakhun, Selasa (14/10/2025).
Komentar Purbaya lainnya yang menjadi sorotan adalah ketika ia menyebut ada 15 daerah yang menyimpan dana bukan di bank pembangunan daerahnya, termasuk Jawa Barat.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat disebut Purbaya menyimpan deposito sebesar Rp4,17 triliun. Selain Jawa Barat, Purbaya juga menyebut Pemerintah Provinsi Jakarta menyimpan deposito Rp14,68 triliun dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur Rp6,8 triliun.
Purbaya menjelaskan data tersebut dari Bank Indonesia yang mengungkap dana yang mengendap di rekening kas daerah mencapai Rp233 triliun, meliputi simpanan pemerintah kabupaten sebesar Rp134,2 triliun, simpanan pemerintah provinsi Rp60,2 triliun, dan simpanan pemerintah kota Rp39,5 triliun.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menuturkan, sebagai Menteri Keuangan, Purbaya mesti memperbaiki gaya komunikasinya. Purbaya, kata Huda, adalah orang nomor tiga di Indonesia karena posisinya yang strategis sebagai bendara negara.
“Ini harus diperbaiki gaya komunikasi yang lebih tertata, dengan siapa berbicara harus diatur, ini yang saya rasa sebenarnya harus diperbaiki,” kata Huda.
Bagi Huda, gaya komunikasi ceplas-ceplos yang menjadi ciri khas Menkeu Purbaya tidak jadi soal. Yang terpenting memang berisi karena sebagai Menkeu, ucapan Purbaya Yudhi Sadewa tentu memiliki pengaruh besar terhadap sentimen pasar.
“Yang paling penting adalah isi dari apa yang disampaikan Pak Purbaya, jangan sampai investor sektor riil ragu terhadap pengelolaan fiskal kita, maka yang harus dilakukan adalah membuktikan bahwa Pak Purbaya pilihan tepat Presiden Prabowo untuk mengelola keuangan, mengelola fiskal kita,” ujar Huda menyudahi.