Bagikan:

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan soal potensi bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Indonesia. Cuaca ekstrem di sejumlah wilayah dan perubahan fungsi lingkungan disebut sebagai penyebab bencana hidrometeorologi.

Pekan lalu, publik dihebohkan dengan video yang viral di media sosial. Video tersebut menggambarkan angin kencang yang merobohkan pepohonan, menggulingkan mobil, hingga menerbangkan material bangunan.

Angin kencang ini berdampak terhadap lima kecamatan di Jawa Barat. Mengutip Antara, bencana angin kencang yang terjadi Rabu sore (21/2/2024) di Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung telah merusak 534 bangunan, mulai dari rusak ringan sampai berat.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan fenomena yang terjadi di Rancaekek tersebut dianggap sebagai tornado, yang kemungkinan baru pertama kali terjadi di Indonesia.

BPBD Kota Serang evakuasi warga terdampak banjir di Komplek Untirta, Kota Serang, Banten, Rabu (28/2/2024). (Antara/Desi Purnama Sari)

Namun, pendapat berbeda disampaikan BMKG, yang menyatakan fenomena angin berputar itu sebagai puting beliung.

Bencana puting beliung kembali di Jawa Barat, tepatnya di Ciamis pada Senin (26/2/2024). Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat sebanyak 158 rumah yang tersebar di lima kecamatan rusak akibat bencana angin puting beliung.

Cuaca ekstrem yang terjadi di beberapa daerah, tidak hanya di Jawa Barat, belakangan ini menjadi perhatian banyak pihak. BMKG juga memperingatkan sejumlah wilayah bakal mengalami cuaca ekstrem hingga awal Maret 2024.

Akibat cuaca ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi.

Bencana Hidrometeorologi Terus Meningkat

Meski terdengar awam, istilah hidrometeorologi sebenarnya sudah sering digunakan BMKG dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip laman BMKG, bencana hidrometeorologi adalah suatu fenomena bencana alam atau proses merusak yang terjadi di atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), atau lautan (oseanografi). Sederhananya, bencana hidrometeorologi dipengaruhi oleh hal-hal yang berkaitan dengan meteorologi seperti angin, curah hujan, kelembapan, dan temperatur.

Bencana ini dapat menimbulkan kerugian materi maupun imateri. Bencana hidrometeorologi dapat menyebabkan hilangnya nyawa, cedera atau dampak kesehatan lainnya, kerusakan harta benda, hilangnya mata pencaharian dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan.

Bentuk bencana hidrometeorologi bisa berupa hujan ekstrem, angin kencang, kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puting beliung, gelombang dingin, hingga gelombang panas.

Petugas BPBD Ciamis menanggulangi pemukiman rumah warga yang rusak terdampak bencana alam angin puting beliung di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. (Antara/HO-BPBD Ciamis)

Menurut BMKG, bencana hidrometeorologi tertinggi adalah banjir. Hal ini ditegaskan oleh catatan BNPB yang mencatat kejadian banjir di Indonesia mencapai 14.235 kali, diikuti puting beliung di posisi kedua dengan 11.456 kali.

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menuturkan sampai November 2021 telah terjadi 2.431 bencana dan 98 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi.

“Frekuensi bencana hidrometeorologi pada tahun 2020 lalu, mengalami kenaikan hampir delapan kali lipat dibandingkan tahun 2005 silam,” demikian mengutip laman Kemenko PMK.

Penyebab Bencana Hidrometeorologi

Mengutip BPBD Bogor, bencana hidrometeorologi disebabkan oleh perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Indonesia sendiri termasuk yang sering mengalami perubahan cuaca dan iklim secara mendadak dan ekstrem, yang berujung pada bendana hidrometeorologi, menurut situs Ilmu Geografi.

Namun faktor terjadinya bencana hidrometeorologi bukan hanya karena cuaca ekstrem, tapi juga beralih fungsinya lingkungan, kondisi demografi, dan kemampuan penanggulangan bencana. Hal ini diungkapkan peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Didi Setiadi.

“Penyebab kejadian bencana tidak hanya satu, tapi komplikasi semuanya,” kata Didi pada 28 Desember 2022.

Beralihnya fungsi lingkungan juga diduga menjadi penyebab terjadinya bencana hidrometeorologi berupa angin puting beliung di Rancaekek. Dahulu, kawasan tersebut adalah perkebunan jati yang hijau yang membuat lingkungan relatif sejuk dan bersih. Sekarang daerah itu telah berubah menjadi kawasan industri dan pemukiman padat.

"Fenomena itu hanya local effect, bukan global effect," ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan, mengutip Antara.

Eddy menjelaskan, jika angin puting beliung di Rancaekek terjadi akibat perubahan iklim, maka kejadiannya tidak hanya terjadi di satu tempat tetapi hingga ke pantai utara Pulau Jawa.