Bagikan:

JAKARTA – Kasus COVID-19 kembali naik belakangan ini. Sebagian masyarakat terkesan abai dengan peningkatan kasus ini, tapi tidak sedikit pula yang masih trauma setelah pandemi virus corona yang menghantam seluruh penjuru dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan terjadi peningkatan kasus sebesar 52 persen pada periode 20 November-17 Desember 2023. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan dua warga DKI Jakarta meninggal dunia akibat COVID-19 paada Desember 2023. Ini menjadi kematian pertama akibat COVID-19 Ibu Kota setelah selama dua bulan berturut-turut nihil.

Petugas menyiapkan vaksin COVID-19 penguat (booster) kedua di Rumah Sakit Haji Medan, Sumatera Utara, Senin (30/1/2023). (Antara/Yudi/foc)

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta Ngabila Salama mengatakan, kasus kematian COVID-19 terakhir pada September 2023, yakni tiga kasus. Sementara pada Oktober dan November 2023 tidak ada kasus kematian akibat COVID-19.

Melonjaknya kasus COVID-19 di Indonesia berbarengan dengan peningkatan serupa di dua negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Meski demikian, masyarakat Indonesia terkesan lebih santai menghadapi kabar lonjakan kasus COVID-19 sekarang ini.

Penyebaran Misinformasi yang Masif

Virus corona pertama kali ditemukan di Wuhan pada Desember 2019. Saat itu, kabar soal penyebab utama munculnya virus corona masih simpang siur.

Muncul kabar bahwa penyebaran virus corona pertama kali terjadi di salah satu pasar hewan liar di kota Wuhan, China. Sebagian ahli mengatakan COVID-19 merupakan penyakit zoonosis yang artinya ditularkan dari hewan ke manusia.

Ketika pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa virus corona telah masuk pertama kali pada 2 Maret 2020, masyarakat mulai merasakan kepanikan. Saat itu, hampir semua supermarket dan pasar dibanjiri pembeli yang memborong barang-barang kebutuhan sebelum pemerintah mengumumkan lock down.

Tapi di antara ketakutan yang luar biasa, tak sedikit pula masyarakat yang tidak peduli bahkan terkesan ‘menantang’ COVID-19.

Masifnya penyebaran informasi yang keliru atau hoaks mengenai COVID-19 menjadi salah satu penyebab mengapa penyakit ini dianggap sebagai mitos atau akal-akalan elite global dengan tujuan tertentu.

Seorang petugas mempersiapkan peralatan untuk tindakan medis pasien terinfeksi virus corona Wuhan di ruang isolasi instalasi paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Kota Dumai, Riau, Sabtu (25/1/2021). (Antara/Aswaddy Hamid)

Di era serba canggih sekarang ini, informasi keliru seringkali ditemukan di berbagai media sosial, dari Facebook sampai pesan WhatsApp. Termasuk soal COVID-19. Dan ironisnya, bukan tidak mungkin penyebar bahkan pembuat berita palsu ini muncul dari kalangan public figure hingga orang-orang terpelajar.

Survey dari YouGov dan The Economist pada Maret 2020 memperlihatkan bahwa 13 persen orang Amerika percaya bahwa COVID-19 adalah hoaks, sedangkan 49 persen percaya pandemi ini buatan manusia.

Padahal, berita palsu semacam ini bisa membuat publik abai pada panduan pemerintah, yang ujung-ujungnya membuat situasi lebih sulit terkendali.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Satria Aji Imawan pada 26 Juni 2021 mengatakan, permasalahan penanganan virus corona di Indonesia banyak dipengaruhi hoaks dan perilaku pejabat hingga public figure.

Menurut Satria, sektor kesehatan merupakan salah satu sektor hoaks paling tinggi. Sejak awal terjadinya pandemi, isu konspirasi sudah menyebar di Indonesia.

Drummer Superman is Dead, Jrinx termasuk salah satu public figure yang meyakini bahwa COVID-19 adalah konspirasi. (Instagram/@true_jrx)

Penyanyi Anji, drummer Superman is Dead (SID) Jerinx, Deddy Corbuzer dan Young Lex termasuk di antara artis Indonesia yang tidak percaya COVID-19 di awal kemunculannya.

Mereka ini memiliki banyak pengikut, sehingga apa yang dikatakan hampir pasti diyakini juga oleh para pengikut mereka.

Ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto yang mengatakan, orang mudah percaya pada berita hoaks adalah karena mereka lebih senang mendengar berita yang sesuai keinginan. Kasandra mengatakan, orang cenderung percaya hoaks jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki, bahkan hingga mengabaikan fakta yang sebenarnya.

 “Jika seseorang sudah menyukai kelompok tertentu dan memiliki opini yang kuat terhadap suatu objek, maka masyarakat lebih nyaman dengan berita yang mengafirmasi sikap maupun opini serupa meski kebenarannya belum tentu benar,” kata Kasandra menjelaskan.

Trauma Masa Lalu Picu Kekhawatiran

Tapi, sikap skeptis dari para artis terhadap COVID-19 tidak hanya terjadi di Tanah Air. Influecer kesehatan Ukraina, Dmitriy Stuzhuk (33), sempat menganggap COVID tidak ada sampai akhirnya ia mempercayai setelah terpapar virus tersebut.

Dmitriy Styzhuk tertular virus corona dalam perjalanan ke Turki dan dirawat di rumah sakit di Ukraina. Ia sempat dipulangkan dari rumah sakit, tapi kembali dilarikan ke sana beberapa jam kemudian karena kondisinya memburuk, hingga meninggal dunia.

“Saya ingin berbagi bagaimana saya sakit dan untuk memperingatkan semua orang. Saya orang yang mengira COVID itu tidak ada, sampai saya sakit,” tulis pria 33 tahun ini saat ia dinyatakan terpapar virus corona.

Kini, saat kasus COVID-19 kembali melonjak di tengah masa libur Natal dan Tahun Baru, sebagian besar masyarakat mengabaikan kabar tersebut. Menurut psikolog anak, remaja dan keluarga Sani Budiantini Hermawan, secara psikologi masyarakat Indonesia saat ini sudah lebih siap menghadapi COVID-19.

Influencer kesehatan asal Ukraina, Dmitriy Styzhuk, sempat tidak percaya COVID-19 sampai dirinya terpapar dan meninggal dunia pada 2021 lalu. (Instagram/@Styzhuk_Dmitriy)

Status yang berubah dari pandemi menjadi endemi, efektivitas vaksin COVID-19 yang baik membuat publik lebih percaya diri menghadapi COVID-19 sehingga terkesan cuek.

“Sekarang ini masyarakat lebih siap menghadapi COVID-19 karena menganggap itu sudah seperti flu pada umumnya, dengan gejala yang diketahui,” kata Sani kepada VOI.

“Selain itu vaksin COVID-19 juga membuat masyarakat lebih siap menerima kasus sekarang,” imbuhnya.

Tapi, menurut Sani, tidak menutup kemungkinan sebagian masyarakat juga masih takut dengan kenaikan kasus COVID-19 sekarang karena adanya trauma yang mendalam.

Perasaan cemas dan khawatir dikatakan Sani, tidak lepas dari pengalaman buruk di masa lalu. Misalnya, saat COVID-19 sedang parah-parahnya terjadi di Indonesia bahkan dunia, banyak yang kehilangan orang tersayang. Hal inilah yang membuat sebagian masyarakat lainnya tidak begitu saja mengabaikan fakta bahwa lonjakan kasus COVID-19 adalah hal mengerikan.

“Tapi tidak semua orang juga mengabaikan COVID-19 karena mungkin ada trauma dan masih terbayang-bayang peristiwa di masa lalu, sehingga bagi sebagian orang COVID-19 menakutkan,” tandasnya.