Bagikan:

JAKARTA – Moda transportasi kereta api ringan Lintas Rel Terpadu (LRT) digadang-gadang menjadi salah satu solusi kemacetan di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Tapi yang terjadi, bagi sebagian orang layanan LRT tidak sesuai ekspektasi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengoperasikan secara komersial LRT Jabodebek pada 28 Agustus 2023. Kehadiran LRT disambut positif, karena bisa menambah alternatif transportasi publik.

Penumpang berada di dalam gerbong kereta ringan atau LRT Jabodebek saat jam sibuk, Senin petang (18/9/2023). (Antara/Indrianto Eko Suwarso/Spt)

Namun belum dua bulan resmi beroperasi, LRT menerima banyak keluhan. Mulai dari pintu kereta sampai waktu tunggu menjadi sorotan publik yang mulai beralih ke LRT.

"Belakangan ini sudah masuk 2 minggu nih jadwal operasional LRT Jabodebek sangat gak friendly guys. Meskipun kadang ada 15 menit sekali kadang tiba-tiba bisa cuman datang 30 menit sekali. Dan parahnya itu terjadi di rush hour gitu. Ini kan sama saja dengan lu gak support dan gak membantu mobilitas orang bekerja," keluh pemilik akun TikTok @cerita_arr.

Setumpuk Masalah LRT

Di awal pengoperasian, pintu LRT dianggap kurang tinggi sehingga tidak nyaman bagi para penumpang dengan tinggi di atas 160 cm. Selain itu, beberapa kali pintu kereta juga tak bisa ditutup dan fasilitas pendingin ruangan (AC) yang mati ikut dikeluhkan pengguna.

Lama kelamaan, masalah operasional LRT kian bertambah. Terkini, pengguna LRT mengeluhkan waktu tunggu yang sangat lama, bahkan sampai satu jam. Padahal, penggunaan LRT diharapkan bisa membantu mempersingkat waktu perjalanan.

Manager Public Relations LRT Jabodebek Kuswardoyo angkat bicara soal headway atau jarak keberangkatan antarkereta LRT Jabodebek yang sangat lama.

Deretan kereta LRT Jabodebek di depo Bekasi. (Dok. Humas KAI)

Ia menjelaskan hal ini terjadi karena adanya pengurangan perjalanan di luar jam sibuk. Dan hal tersebut diperparah karena 18 trainset yang harus masuk ruang perawatan untuk pembubutan roda.

"Saat ini ada 18 yang antri bubut roda, dan headway jadi 30-40 menit," ungkap Kuswardoyo.

"Kondisi keausan roda yang sudah memasuki masa pembubutan mengharuskan sejumlah trainset untuk dilakukan perawatan agar keamanan perjalanan tetap terjaga," imbuhnya.

Akibat serangkaian masalah tersebut, KAI Divisi LRT Jabodebek hanya mengoperasikan sembilan trainset. Inilah yang membuat waktu tunggu LRT Jabodebek di luar jam sibuk bisa sampai satu jam. Padahal di laman resmi LRT disebutkan penumpang hanya perlu menunggu 10 menit untuk kedatangan kereta.

Perpanjang Masa Ujicoba

Padahal antusiasme masyarakat terhadap LRT cukup tinggi. Sejak diresmikan Presiden Jokowi pada 28 Agustus 2023, LRT Jabodebek telah mengangkut lebih dari 2,4 juta pelanggan.

Rentetan masalah yang dialami LRT tentu sangat disayangkan, mengingat moda ini menjadi harapan masyarakat untuk bisa memecah kemacetan ibu kota.

Menurut pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai pemerintah terlalu buru-buru menaikkan status ujicoba menjadi layanan komersil pada LRT. Menurut Djoko, masa ujicoba sebaiknya diperpanjang hingga satu tahun.

“Meskipun sudah dioperasikan, meski suda diresmikan presiden, menurut saya mestinya ini tetap dimasukkan dalam ujicoba,” kata Djoko kepada VOI.

“Nah, tahapan ujicoba ini seharusnya belum selesai, tapi sudah buru-buru dinaikkan tarifnya,” Djoko menambahkan.

Stasiun LRT Jabodebek di Halim yang terkoneksi dengan Stasiun KCIC Halim. Keterlambatan jadwal LRT bakal berpengaruh terhadap perjalanan Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung dari Stasiun Halim, Jakarta Timur. (

Djoko membandingkan tahapan ujicoba LRT dengan MRT. Sebelum mulai beroperasi untuk publik pada Maret 2019, kereta MRT mulai melakukan serangkaian ujicoba sejak Agustus 2018.

Padahal menurut Djoko, jika masa ujicoba LRT diperpanjang dan dengan tarif, masyarakat akan ‘lebih memaklumi’ masalah-masalah yang dihadapi.

“Dengan adanya masalah roda aus, waktu tunggu yang lama, serta masalah-masalah lainnya, seharusnya ini menjadi pembelajaran,” Djoko mengimbuhkan.

“Antusiasme dan ekspektasi publik terhadap LRT sudah tinggi, tapi sayangnya pada kenyataannya tidak sesuai harapan. Masyarakat lupa bahwa masa ujicoba belum selesai.

“Di masa ujicoba ini sederet masalah nanti kelihatan, sehingga ketika ada yang tidak sesuai ekspektasi masyakarat masih bisa memaklumi karena ini masih dalam tahap ujicoba,” tegasnya.

Permasalahan LRT sejauh ini sudah seharusnya menjadi pembelajaran supaya operasional LRT lebih baik ke depannya. Pasalnya, LRT memiliki cita-cita besar untuk memecah kemacetan Jakarta yang makin hari makin parah.

Selain itu, LRT juga terintegrasi dengan Kereta Cepat Indonesia Cina rute Jakarta-Bandung yang sedang digembar-gemborkan pemerintah saat ini.

Jika terus bermasalah, utamanya terkait waktu tunggunya, maka LRT bisa turut andil gagal mengoptimalisasi pengoperasian KCIC.