Bagikan:

JAKARTA - Berita tentang bayi yang tertukar di Bogor mencuri perhatian publik. Kasus ini bermula dari seorang ibu atas nama Siti Mauliah (37) asal Ciseeng, Kabupaten Bogor, mengaku bayi laki-lakinya tertukar usai melahirkan di rumah sakit pada 18 Juli 2022. Siti Mauliah merasakan kejanggalan saat masih di Rumah Sakit Sentosa, Bogor, tempat dia melahirkan anak keempatnya secara operasi caesar.

Tak sekadar mengandalkan feeling seorang ibu, Siti Mauliah juga makin yakin bahwa putranya tertukar karena gelang identitas yang melingkar di bayinya ternyata atas nama pasien lain, bukan dia. Setelah satu tahun Siti berjuang keras memastikan kebenaran anak kandungnya, termasuk penolakan tes DNA dari ibu lainnya, akhirnya ia bisa bernapas lega. Hasil tes DNA menyatakan 99,99 persen tertukar.

“Ditemukan memang fix 99,99 persen berdasarkan data yang diberikan oleh Kapuslabfor yang diwakili oleh beliau bahwa anak tersebut memang tertukar,” ujar Kapolres Bogor AKBP Rio Wahyu Anggoro dalam jumpa pers di Bogor, Jumat (25/8/2023).

Ibu DP (kiri) dan ibu Siti Mauliah (kanan) bersama anak mereka yang telah tertukar selama setahun saat bersua di Polres Bogor, Jumat (25/8/2023). (Dok. Keluarga Siti Mauliah).

Kasus bayi tertukar di Kabupaten Bogor menjadi perhatian publik. Kasus ini diklaim pertama kali terjadi di Indonesia.

“Ini adalah kejadian pertama di Republik Indonesia, sehingga kami mencoba menyelesaikan ini di luar penyelidikan tersebut yang dilaporkan oleh Ibu S terhadap Ibu D,” Rio Wahyu menjelaskan.

Seiring dengan ramainya kasus bayi tertukar di Bogor, pembahasan mengenai DNA juga ramai diperbincangkan. Apakah tes DNA hanya dilakukan untuk membuktikan garis keturunan? Jawabannya ternyata tidak. 

Bayi Tertukar adalah Masalah Serius

Meski masalah bayi yang tertukar dinyatakan telah usai, namun tahapan mengembalikan kedua bayi tersebut ke orang tua masing-masing membutuhkan waktu. Ada dampak psikologis yang harus dijaga. Tidak hanya dua bayi, tapi juga kedua orang tua kandung tersebut. Apalagi, salah satu orang tua juga diketahui menanti cukup lama untuk mendapatkan anak pertama mereka.

“Anak tidak seperti properti yang kita bayangkan, butuh tahapan kurang lebih satu bulan. Mudah-mudahan satu bulan ini interaksi dua keluarga menjadi keluarga yang tent uke depannya, kita berharap dengan kejadian ini silaturahminya jadi keluarga besar,” ucap Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra.

Setelah terbukti melalui tes DNA bahwa bayi mereka tertukar, pihak korban berencana menempuh jalur hukum kepada Rumah Sakit Sentosa. Menurut Kuasa Hukum Siti Mauliah, Rusydiansyah Nur Ridho, pihak rumah sakit telah terbukti melakukan kesalahan fatal dengan membuat bayi tertukar sampai satu tahun.

Tes DNA memiliki beragam fungsi, tidak hanya dilakukan untuk mengetahui hubungan biologis. (Unsplash/Louis Reed)

Pengamat hukum pidana Farizal Pranata Bahri mengatakan pihak korban bisa menempuh jalur hukum untuk menuntut rumah sakit, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 44 Pasal 46 Tahun 2009 yang menyatakan, “Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit.”

“Pihak rumah sakit bisa dituntut secara pidana. Harus dilihat apakah rumah sakit atau suster atau bidan yang melakukan kelalaian. Jika terbukti, bisa dilakukan tuntutan perdata meminta ganti rugi materiil dari korban kepada pihak rumah sakit,” demikian dijelaskan Farizal kepada VOI.  

Beragam Kegunaan Tes DNA

Deoxyribonucleic Acid (DNA) adalah molekul yang membawa informasi genetic untuk perkembangan dan fungsi organisme, demikian dikutip National Human Genome Research Institute. Adalah ahli biokimia asal Swiss, Frederich Miescher, yang pertama kali mengamati DNA pada akhir tahun 1800-an. Namun, hampir satu abad berlalu sejak penemuan itu hingga para peneliti mengungkap struktur molekul DNA dan menyadari pentingnya hal tersebut bagi biologi.

Pentingnya DNA menjadi jelas pada 1953 berkat karya James Watson, Francis Maurice, dan Rosalind Franklin. Dengan mempelajari pola difraksi sinar-X para ilmuwan menemukan struktur heliks ganda DNA, sebuah struktur yang memungkinkannya membawa informasi biologis dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagi kebanyakan orang, tes DNA ini dilakukan hanya untuk mengetahui garis keturunan. Apalagi, ribut-ribut soal tes DNA bukan kali ini saja terjadi. Dorongan tes DNA untuk membuktikan garis keturunan juga sedang ramai dibahas di kalangan selebriti.

Ini terjadi setelah Denny Sumargo kembali diminta melakukan tes DNA oleh DJ Verny Hasan. Sebelumnya, mantan pebasket nasional ini juga pernah melakukan tes DNA pada 2019 untuk membuktikan apakah dia ayah biologis dari anak yang dilahirkan Verny Hasan dan hasilnya tidak cocok.

Sebenarnya, tes DNA memiliki manfaat yang jauh lebih besar dari itu, dari segi kesehatan maupun untuk kepentingan uji forensik. Bagi pasangan yang merencanakan kehamilan melalui program bayi tabung atau pasangan yang berisiko memiliki anak dengan kelainan genetik dapat melakukan tes DNA sebagai uji praimplantasi.

Tes DNA juga digunakan dalam uji forensik, salah satunya dengan menggunakan sidik jari. (Unsplash/Immo Wegmann)

Tes DNA juga dapat dilakukan untuk mendeteksi mutasi atau kelainan genetik pada kromosom janin. Manfaat lain dari tes DNA adalah untuk mengetahui apakah seseorang memiliki gen atau kondisi tertentu yang mungkin akan diturunkan kepada anak-anaknya.

Tak hanya berkaitan dengan kesehatan, tes DNA juga memiliki andil besar dalam uji forensik. Serangkaian tes DNA digunakan untuk mengidentifikasi seseorang untuk kepentingan hukum. Beberapa contoh tes DNA yang dilakukan pada uji forensik adalah tes darah untuk menentukan darah korban atau pelaku pelanggaran hukum, tes sidik jari, dan proses identifikasi bagian tubuh korban kejahatan.

“Setiap orang memiliki profil DNA yang unik sehingga sangat berguna untuk mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam suatu kejahatan. Satu-satunya pengecualian untuk hal ini adalah kembar identik,” demikian dikutip Science Learning Hub.

Hasil profil DNA dapat digunakan di pengadilan, contohnya sampel yang dikumpulkan dari TKP mungkin cocok dengan DNA tersangka. Ini bisa menjadi bukti bahwa tersangka telah hadir di TKP, namun bukan berarti menjadi bukti tunggal bahwa tersangka melakukan tindak pidana tersebut.

Dalam uji forensik, tes DNA juga dilakukan dalam peristiwa tertentu seperti kebakaran maupun kecelakaan pesawat. Tes DNA dilakukan dengan mengambil sampel darah atau jaringan tubuh, seperti kulit atau rambut. Sebagian besar sampel menggunakan darah dari pembuluh darah, tapi ada pula yang memanfaatkan sampel air liur.

Terkini, tes DNA juga digunakan untuk membuktikan kematian pemimpin Grup Wagner Yevgeny Prigozhin dan Dmitry Utkin, demikian dilaporkan kantor berita milik Rusia RIA Novosti pada 27 Agustus. Prigozhin dan Utkin termasuk di antara penumpang jet pribadi yang jatuh di Oblast Tver pada 23 Agustus.