Hasil Penyelidikan Terbaru Penghancuran Masjid dan Situs Suci Muslim Uighur oleh Pemerintah China
Muslim Uighur di China (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Satu dekade lalu, berziarah ke situs religius adalah hal lumrah bagi komunitas Muslim Uighur di sebelah barat China. Kala itu para peziarah dapat berpergian dengan bebas, termasuk mengunjungi situs Imam Asim yang jadi tujuan utama banyak peziarah. Namun, kondisi hari ini berbeda. China kini telah menghancurkan banyak situs vital Muslim Uighur, termasuk sejumlah masjid.

Imam Asim adalah ulama besar yang begitu dihormati Muslim Uighur secara turun-temurun. Imam Asim adalah tokoh yang menumbangkan kerajaan Buddha yang lama berkuasa di kawasan tersebut. Dilansir The New York Times, Jumat, 25 September, para pengikut Imam Asim masih setia mengikuti festival tahunan untuk memuja Sang Ulama.

Festival itu biasanya dimanfaatkan para pengikut untuk berdoa demi berbagai tujuan, mulai dari panen, rezeki, hingga kesehatan. Ada sejumlah ritual yang biasa dilakukan dalam festival. Salah satunya adalah membawa pesan doa ke tiang kayu yang berada di sekitar situs suci Imam Asim. Selain itu, para peziarah juga dapat menikmati berbagai hiburan di sekitar situs suci, seperti sulap, gulat, mendengar cerita pendongeng, hingga mendengar alunan musik yang tersaji.

“Itu bukan hanya sekedar berziarah. Ada pemain, permainan, makanan, pembacaan puisi, dan seluruh area untuk bercerita. Itu masih penuh dengan orang, dan penuh kehidupan,” ujar seorang Profesor di Middlebury College, Tamar Mayer yang melakukan kunjungan ke situs suci Imam Asim untuk penelitian pada 2008 dan 2009.

Penghancuran masif

Kini, budaya ziarah yang telah berlangsung lama mulai dibatasi. Pagar dan tiang kayu yang mengelilingi makam Imam Asim telah dirobohkan. Kondisi itu bisa dilihat dari gambar satelit yang memperlihatkan sebuah masjid yang sudah rata dengan tanah. Merujuk citra satelit itu, makam Imam Asim kini hanya tampak sebagai bangunan berbatu dan lumpur.

Lebih miris, China dilaporkan juga menghancurkan tempat suci lain Muslim Uighur, termasuk sejumlah masjid di Xinjiang. Dalam skala yang lebih luas, sejak 2014 otoritas China bahkan melarang Muslim Uighur menjalankan ibadah haji. Berbagai penghancuran masif itu meningkatkan sentimen terhadap Pemerintah China.

Penghancuran masif dilakukan China sebagai bagian dari upaya mendesak warga Uighur, Kazakh, dan anggota kelompok etnis Asia Tengah lain untuk mengikuti Partai Komunis. Bahkan, dalam upaya itu Pemerintah China juga dilaporkan menahan ratusan ribu orang.

Dikutip dari laporan terbaru milik Institut Kebijakan Strategis Australia, mereka mengungkap secara sistematis tingkat kerusakan dan perubahan pada situs keagamaan dalam beberapa tahun meningkat di Xinjiang. Mereka mencatat perkiraan bahwa sekitar 8.500 masjid di seluruh Xinjiang telah rata dengan tanah sejak 2017.

 “Apa yang ditampilkannya adalah kampanye penghancuran dan penghapusan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Kebudayaan,” kata salah seorang yang meneliti, Nathan Ruser.

Nathan menambahkan, hal ini bukan baru dilakukan China. Sejak di bawah kepemimpinan Mao Zedong, China telah banyak menghancurkan masjid dan situs keagamaan. Data mereka menunjukkan ada setidaknya 533 situs masjid di seluruh Xinjiang --dihitung menggunakan sampel acak-- yang telah dihancurkan China. Para peneliti juga memanfaatkan gambar satelit untuk menilai perubahan.

Bantahan China

Pemerintah China menepis laporan perusakan maupun pembongkaran situs keagamaan secara luas. Mereka menyebut isu itu sebagai omong kosong. Pemerintah China bahkan meyakinkan publik bahwa mereka menjunjung tinggi upaya perlindungan dan perbaikan masjid dan situs-situs Muslim lain.

Seorang pejabat China menuduh Institut Kebijakan Strategis Australia memfitnah negaranya. Mereka menyebut peran Amerika Serikat (AS) sebagai penyumbang dana bagi lembaga penelitian tersebut telah memengaruhi laporan-laporan yang diumumkan. Tuduhan itu dibantah oleh Institut Kebijakan Strategis Australia.

Lembaga itu bahkan mengingatkan publik tentang langkah pemerintah China yang memberlakukan kontrol ketat di Xinjiang. Kontrol ketat yang dimaksud termasuk pembatasan arus informasi dari dan menuju wilayah itu. Kondisi itu dikatakan Institut Kebijakan Strategis Australia sebagai tantangan yang harus mereka hadapi.

The New York Times pun melakukan verivikasi data terkait laporan Institut Kebijakan Strategis Australia. Citra satelit dianalisis. Mereka juga mencoba memverifikasi laporan itu dengan menghimpun informasi dari orang-orang yang pernah mengunjungi Xinjiang Selatan pada tahun lalu.

“Apa yang kami lihat di sini adalah penghancuran yang disengaja terhadap situs-situs yang dalam segala hal merupakan warisan orang Uighur dan warisan tanah ini,” kata seorang ahli musik dan budaya Uighur di Universitas London, Rachel Harris yang meninjau laporan tersebut.

Gambar satelit setelah penghancuran (Sumber: Maxar Technologies)
Gambar satelit setelah penghancuran (Sumber: Maxar Technologies)

 

Menurutnya, banyak tempat suci dan pemakaman yang baru-baru ini ditutup dan dihancurkan merupakan situs suci umat Islam Uighur. Dalam pandangannya, orang Uighur sering kali melakukan ziarah ke situs keagamaan lengkap dengan persembahan makanan sebagai bentuk kesalehan mereka. Bahkan, ritual itu bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu, di mana mereka akan berpergian dari satu situs sakral ke situs lainnya.

Situs suci lain yang disebut adalah situs suci Ordam. Situs suci yang sudah diziarahi semenjak 400 tahun lalu itu diyakini oleh orang Uighur sebagai makam seorang pemimpin yang membawa Islam ke wilayah tersebut.

"Jika Anda memiliki keledai dan gerobak, Anda akan mengisi makanan Anda dan menghabiskan tiga minggu untuk pergi ke situs suci. Satu-satunya tempat di mana saya melihat seorang pria Uighur dewasa menangis adalah di situs suci,” kata seorang peneliti di Universitas Nottingham yang telah mempelajari Ordam, Rian Thum.

Bukan kejadian baru

Kembali pada penghancuran masif sebagai hal yang tak baru terjadi. Pembatasan kegiatan keagaaman konon sudah menjamur sejak 1990-an. Sejak itu Pemerintah China gelisah dengan banyaknya perluasan masjid dan kebangkitan banyak tempat suci di Xinjiang. Para pejabat setempat menganggap hal itu akan menyulut fanatisme dan ekstremisme yang tak terkendali.

Tak lama kemudian, otoritas setempat mulai melarang festival dan ziarah ke Ordam dan tempat suci lainnya pada 1997. Meski begitu, antusiasme orang Uigur kepada sosok yang dipujanya membuat mereka terus berdatangan ke situs suci tersebut.

“Seorang Uighur yang berhasil mengunjungi Ordam memberi tahu beberapa penduduk desa terdekat bahwa dia pernah berkunjung. Dan mereka mulai menangis dan satu lagi meminta sedikit debu dari jaketnya. Ini memberi kesan betapa pentingnya tempat ini bagi orang-orang, bahkan ketika mereka tidak dapat berkunjung,” tambah Thum.

Kelak, pemerintah China semakin mengetatkan larangan kunjungan ke situs suci Ordam. Imbasnya, pada awal 2018, situs tersebut telah diratakan dengan tanah. Dalam artian empunya kebijakan telah mengapus situs terpenting warisan orang Uighur.

Berdasarkan gambar satelit, masjid, ruang sholat, dan perumahan sederhana tempat para penjaga situs suci tinggal telah dihancurkan. "Anda melihat nyata dan apa yang tampaknya merupakan upaya sadar untuk menghancurkan tempat-tempat yang penting bagi orang Uighur, justru karena itu penting bagi orang Uighur," kata Thum.

Dalam beberapa kasus, pemerintah China menyebut penghancuran masjid dilakukan untuk kepentingan pembangunan. Untuk melihat jejak kehancuran, wartawan Times telah mengunjungi Kota Hotan di selatan Xinjiang tahun lalu. Dirinya mendapati masjid yang tampak pada satelit masih berdiri di 2017, kala itu sudah rata dengan tanah.

Wartawan tersebut juga menemukan empat situs lain berupa masjid yang pernah berdiri telah diubah sebagai taman ataupun hanya sebidang tanah kosong. Meski begitu, masjid utama di Hotan tetap ada. Namun karena ketakutan, banyak orang tak berani beribadah langsung ke masjid. Sekalipun untuk Salat Jumat.

Tak jauh beda dengan Kota Hotan, Kashgar yang merupakan kota besar di selatan Xinjiang juga begitu. Hampir semua masjid telah ditutup. Bahkan, ada satu masjid yang telah diubah menjadi bar. “Ini seperti saya kehilangan anggota keluarga di sekitar saya karena budaya kami diambil. Ini seperti bagian dari daging kita, tubuh kita sedang dibuang,” kata seorang mahasiswa pascasarjana Uighur dari Kashgar, Mamutjan Abdurehim.

Namun, tak semua situs religius dihancurkan. Beberapa ada yang telah menjadi tempat wisata resmi, meski statusnya tak berfungsi lagi sebagai situs ziarah. Mausoleum Afaq Khoja dan pemakaman Uighur yang terkenal di Kashgar tampak masih bertahan. "Intensitas tindakan keras ini cukup mengejutkan. Banyak orang Uighur yang ingin berharap cukup pesimis, termasuk saya,” tutup Abdurehim.