Bagikan:

JAKARTA - Diskusi menarik bergulir di Twitter. Kali ini opini yang mengemuka adalah "normalisasi terhadap orang-orang yang tak suka anak kecil." Ya, terserah saja. Tapi jika anak gede boleh tak suka anak kecil, apa hak itu berlaku sebaliknya? Toh, akui saja, bagaimanapun, anak gede pasti lebih menyebalkan, bahkan lebih berbahaya untuk anak kecil.

Diskusi ini bermula dari kicauan @gevantgrady. Menurut dia tak semua orang sanggup bersabar menghadapi anak kecil dengan berbagai tingkahnya, termasuk mendengar jeritan yang mengganggu. Opini ini ditanggapi pro dan kontra.

Akun @UlarNegeri meresponse, "Grow up!"

"I don’t like kids either but why bother to normalize the hatred?" tulis akun @saturnatives.

 

Lainnya, akun @upeastern32 menulis, "This is me kecuali sama ponakan sendiri. I literally don't care about other children that has no relation to me."

 

Akun @littlesonmama mengatakan, "This is a public discourse, chill bro."

Tentu saja ini diskursus menarik. Yang diungkap @gevantgrady dan teman-teman seopininya juga realita. Banyak orang tak suka anak kecil. Spesifik dalam konteks tidak nyaman karena keberisikan, hal ini normal terjadi.

 

Psikolog anak, Ratih Zulhaqqi menjelaskan banyak faktor yang menyebabkan rasa tak nyaman bagi seseorang berada di dekat anak kecil yang berisik. "Aku ambil case dari klien-klienku, biasanya latar belakangnya masalah sensory," katanya, dikutip Detik, Selasa, 4 Januari.

Sistem sensory merupakan sistem yang menghantarkan rangsangan dari reseptor ke pusat otak. Dengan stimulus, sistem sensory menyalurkan informasi ke bagian otak yang berfungsi mengolah informasi.

Manusia sendiri memunyai tujuh sistem sensory, mulai dari peraba, keseimbangan, gerak antarsendi, penglihatan, pengecapan, penciuman, serta pendengaran. Dalam prosesnya, sistem sensory bekerja menerima rangsangan dari lingkungan internal ataupun eksternal. 

"Jadi ketika kaitannya dengan anak berteriak, itu kayaknya sensory auditory (pendengaran) enggak sanggup menerima teriakan anak kecil itu dan mengganggu dia."

"Jadi ketika ada stimulus yakni tangisan anak kecil, otak langsung menerjemahkan itu sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan."

Ketika otak menerjemahkan suara bising dari anak sebagai hal tak menyenangkan, di situlah reseptor dalam pusat otak jadi tak seimbang atau balance. "(Saat tidak balance) jadi muncul lah perasaan suka, tidak suka tadi," tambah Ratih.