Pembangunan MRT Fase 2 Dimulai, Lalu Lintas Jalan MH Thamrin Direkayasa
Ilustrasi (Angga Nugraha/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Pembangunan moda raya terpadu (MRT) fase 2 dimulai, Jumat 24 Juli, di sepanjang Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Dinas Perhubungan DKI melakukan rekayaksa lalu lintas pada paket pembangunan CP201 tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Syafrin Liputo menyebut, rekayasa lalu lintas pembangunan MRT paket CP201 akan berjalan hingga 30 Maret 2021. Meski masih bisa dilalui, Syafrin memberi saran supaya pengendara mencari jalan lain untuk mengurangi kepadatan.

"Diimbau kepada para pengguna jalan agar menghindari ruas tersebut dan dapat menyesuaikan pengaturan lalu lintas yang ditetapkan, mematuhi rambu, serta mengutamakan keselamatan di jalan," kata Syafrin dalam keterangannya, Jumat, 24 Juli.

Rinciannya, pengerjaan konstruksi MRT di Jalan MH Thamrin dimulai dari stasiun MRT Bundaran HI sampai bundaran air mancur Monumen Nasional (Patung Kuda Arjuna Wiwaha).

Pada stage pertama, ada pembuatan detour atau pelebaran Jalan MH Thamrin sisi meter di depan gedung Sinarmas dan sisi timur mulai dari depan gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sampai Gedung Bank Indonesia.

Selaina itu, jalur Transjakarta juga digeser penempatannya. Ada pembongkaran halte Transjakarta Bank Indonesia. Akan ada halte pengganti sementara di sekitarnya.

"Terjadi pengurangan satu lajur sepanjang area pengerjaan mulai dari 24 Juli hingga 30 November 2020," ungkap Syafrin.

Selanjutnya pada stage dua, ada area pekerjaan menggunakan median jalur tengah dan jalur Transjakarta sepanjang area kerja. Pelayanan Halte Transjakarta Bank Indonesia akan dipindahkan ke sisi timur gedung Bank Indonesia dan di depan Wisma Mandiri.

Kemudian, jalur bus Transjakarta akan bercampur dengan jalur reguler kendaraan umum. Bus akan berpindah ke lajur paling kiri, menyesuaikan lokasi halte sementara tersebut.

"Detour atau pelebaran Jalan MH Thamrin sisi barat dan timur sudah bisa digunakan untuk lalu lintas," sebut dia.

Sementara, pihak yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan pengguna jalan di lokasi pekerjaan adalah Shimuzu dan Adhi Karya (joint venture) selaku pelaksana pekerjaan konstruksi MRT.

Pengerjaan MRT fase 2 menelan biaya sebesar Rp22,5 triliun. Awalnya, pengerjaan MRT fase 2 diharapkan seleasi pada tahun 2024. Namun ada penundaan proyek akibat pandemi COVID-19, sehingga saat ini kemungkinan pengerjaan selesai pada 2025.

Proyek ini memiliki 7 paket kontrak, terdiri dari CP200 hingga CP206. CP200 melingkupi konstruksi struktur gardu induk. Paket CP201 sampai CP203 merupakan pembangunan stasiun MRT Sarinah hingga Kota.

Kemudian, CP204 merupakan pembangunan pekerjaan sistem railways, CP205 pembangunan sistem perkertaapian, signaling, dan telekomunikasi, lalu CP206 merupakan pengadaan kereta MRT.

Rinciannya, rute MRT sepanjang 5,8 kilometer ini punya tujuh stasiun yang semuanya berada di bawah tanah, yaitu Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. 

Meski tak sepanjang MRT fase satu yang memiliki rute sepanjang 15,7 kilometer dengan 13 stasiun, pembangunan MRT fase dua bakalan lebih rumit dan memiliki kendala lebih. Secara teknis, pengerjaan terowongan berada di bawah sungai, yakni Sungai Batang Hari di Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk.

Adanya sungai dalam rute MRT fase dua ini membuat pembangunan terowongan yang melewati kawasan Sawah Besar dan Mangga Besar dibangun bertingkat. Di kawasan ini, kedalaman terowongan bisa mencapai lebih 30 meter di bawah permukaan tanah. 

Tak hanya itu, kendala lain yang mesti diperhatikan dalam MRT fase dua adalah pembangunannya bakal melewati kawasan di sekitar Kota Tua dengan banyak cagar budaya.