JAKARTA - Inisiatif Ihram Berkelanjutan menghasilkan ribuan produk hingga mengurangi emisi karbon, sejalan dengan visi Saudi 2030.
Juru bicara Pusat Nasional Pengelolaan Limbah Sultan Al-Harthi menerangkan, menjelaskan, inisiatif ini selaras langsung dengan program-program di bawah Visi Saudi 2030, khususnya Program Transformasi Nasional dan Program Kualitas Hidup.
Ia mencatat inisiatif ini memperkuat tanggung jawab sosial, mendukung keberlanjutan ekonomi nasional, dan memberdayakan sektor nirlaba melalui peningkatan partisipasi perempuan dalam kesempatan kerja dan produksi.
Inisiatif ini berkontribusi pada terciptanya lingkungan yang lebih bersih, memperkaya pengalaman jamaah, dan mendukung tujuan Program Pengalaman Jamaah, kata Al-Harthi, dikutip dari Arab News (29/5).
Mengenai dampak ekonomi, Al-Harthi menyatakan pembuatan lebih dari 5.000 produk dari ihram daur ulang telah secara langsung berkontribusi pada pengurangan biaya transportasi dan pembuangan sampah, sekaligus menghasilkan nilai tambah dari bahan yang dipulihkan.
Inisiatif ini juga menciptakan 30 peluang kerja musiman dan memberdayakan 25 penjahit dari keluarga produktif, yang selanjutnya mendukung konsep ekonomi sirkular.
Dari segi lingkungan, lebih dari 211 ton tekstil telah dialihkan dari tempat pembuangan sampah, berkontribusi pada pengurangan emisi karbon yang terukur selama musim Haji.

Di tingkat sosial, lebih dari 200.000 penerima manfaat terlibat dalam kampanye kesadaran yang menyertainya, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan meningkatkan partisipasi masyarakat di antara para jamaah.
Selama Haji, Ihram terdiri dari dua lembar kain putih bersih tanpa jahitan, yang dikenakan khusus oleh pria. Wanita mengenakan pakaian sopan biasa mereka, membiarkan wajah dan tangan mereka terbuka.
Keadaan ihram diakhiri setelah melempar Jamarat Al-Aqaba dan mencukur atau memangkas rambut pada hari ke-10 bulan tersebut, dan kemudian diakhiri sepenuhnya setelah menyelesaikan Tawaf Al-Ifadah. Pada saat itu, jemaah melepas kain ihram dan mengenakan pakaian biasa.
Al-Harthi menerangkan, sistem operasional inisiatif ini dimulai dengan pengumpulan tekstil dari titik pengumpulan yang ditentukan di seluruh tempat suci, diikuti oleh prosedur penyortiran yang ketat.
Bahan-bahan tersebut kemudian menjalani proses pembersihan dan sterilisasi khusus sesuai dengan standar kesehatan yang tepat untuk memastikan bahan tersebut bebas dari kotoran atau kerusakan sebelum digunakan kembali.
Ditekankannya, prosedur ini menjamin keamanan dan kualitas produk akhir, karena tidak ada bahan yang memasuki fase produksi sebelum menyelesaikan semua proses sterilisasi dan pengolahan.
Juru bicara tersebut juga mencatat kemitraan dengan 22 entitas telah memperkuat keberlanjutan inisiatif ini, menyoroti bahwa integrasi lintas sektor telah menjadi faktor kunci keberhasilannya.
Mengenai perubahan perilaku, Al-Harthi mengamati peningkatan berkelanjutan dalam tingkat donasi ihram setiap musim, yang mencerminkan meningkatnya kesadaran lingkungan dan penerimaan yang lebih luas terhadap praktik daur ulang di kalangan jemaah haji.
Ia menambahkan, Pusat Nasional Pengelolaan Limbah juga sedang berupaya mengubah kelebihan makanan menjadi kompos organik sebagai bagian dari arah yang lebih luas menuju perluasan ekonomi sirkular dan inisiatif pengelolaan limbah.

Pakaian ihram dalam Islam melambangkan kesetaraan dan melampaui perbedaan kelas sosial, karena semua pria mengenakan pakaian putih yang sama.
Warna putih juga melambangkan kesucian, dan mematuhi larangannya melambangkan disiplin diri.
Secara keseluruhan, Ihram mengekspresikan persatuan dan kerendahan hati selama pelaksanaan ritual.
Al-Harthi menyatakan, salah satu pelajaran penting yang dipetik adalah bahwa kemitraan yang efektif dapat mengubah limbah menjadi sumber daya yang berharga, sebuah model yang dapat direplikasi di berbagai proyek lain di seluruh Kerajaan.
Ia menegaskan kembali komitmen pihaknya untuk mengembangkan solusi pengelolaan limbah yang berkelanjutan, mencatat bahwa inisiatif Ihram Berkelanjutan merupakan model perintis untuk program-program di masa mendatang.
Pusat tersebut terus mentransformasikan tekstil haji menjadi berbagai produk, termasuk tas, bantal, selimut, dan suvenir, memaksimalkan pemanfaatan sumber daya selama setiap musim.
Pendekatan ekonomi sirkular ini menunjukkan, limbah dapat menjadi sumber daya yang berharga ketika didukung oleh sistem operasional yang jelas dan kemitraan yang efektif.
BACA JUGA:
Integrasi antara pemerintah, sektor swasta, dan nirlaba juga sangat penting dalam mencapai dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan.
Al-Harthi menyimpulkan dengan menekankan, meningkatnya jumlah jemaah haji yang menyumbangkan ihram mencerminkan pergeseran positif dalam perilaku dan kesadaran lingkungan selama musim haji.
Upaya-upaya ini menunjukkan peran kepemimpinan Pusat Nasional Pengelolaan Limbah dalam mengembangkan solusi pengelolaan limbah yang inovatif dan mengubah tantangan menjadi peluang untuk masa depan yang lebih berkelanjutan di Arab Saudi.