JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio pada Hari Minggu menuduh kelompok militan Hizbullah berusaha menjerumuskan Lebanon "kembali ke dalam kekacauan."
Rubio mengecam apa yang disebutnya sebagai "seruan sembrono Hizbullah untuk menggulingkan Pemerintahan Lebanon yang terpilih secara demokratis" dan mengatakan milisi pro-Iran itu "secara aktif berusaha menyeret Lebanon kembali ke dalam kekacauan dan kehancuran."
Pemerintah Lebanon berada di bawah tekanan AS untuk mengambil tindakan terhadap perusahaan tersebut, seiring Washington meningkatkan tekanan terhadap Hizbullah yang didukung Iran.
"Ancaman kekerasan dan penggulingan Hizbullah tidak akan dibiarkan berhasil," kata Menlu Rubio, melansir Al Arabiya dari AFP (25/5).
"Era di mana kelompok teroris menyandera seluruh bangsa akan segera berakhir," tandasnya.
Sebelumnya, Sekjen Hizbullah Naim Qassem mengatakan "rakyat memiliki hak untuk turun ke jalan dan menjatuhkan pemerintah" sebagai tanggapan terhadap serangan Israel dan sanksi AS terhadap lembaga keuangan al-Qard al-Hassan.
Al-Qard al-Hassan berafiliasi dengan Hizbullah dan menyediakan pinjaman tanpa bunga terutama kepada komunitas Muslim Syiah yang menghadapi kesulitan keuangan di tengah krisis ekonomi Lebanon.
"Agresi terhadap al-Qard al-Hassan adalah agresi terhadap ratusan ribu orang miskin dan mereka yang berpenghasilan terbatas," kata Qassem.
AS sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, dengan sebuah laporan di Axios yang menunjukkan draf nota kesepahaman antara kedua pihak berisi bahasa yang "menjelaskan perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon akan berakhir."
Pada Minggu pagi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan di X, Presiden bahwa Trump, dalam sebuah panggilan telepon, "menegaskan kembali hak Israel untuk membela diri terhadap ancaman di setiap lini, termasuk Lebanon."
Qassem menyatakan harapan akan adanya kesepakatan antara Iran dan AS, dengan Lebanon akan menjadi bagian dari persyaratan kesepakatan tersebut.
Namun, ia kembali menyerukan kepada Pemerintah Lebanon untuk meninggalkan negosiasi langsung dengan Israel. Sedianya, putaran keempat pembicaraan dijadwalkan pada tanggal 2 dan 3 Juni di Washington, AS
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada tanggal 17 April dan baru-baru ini diperpanjang selama beberapa minggu, Israel terus menyerang apa yang mereka sebut sebagai target Hizbullah pro-Iran di Lebanon. Sementara, Hizbullah sendiri terus melakukan serangan terhadap target Israel di selatan negara itu.