Bagikan:

JAKARTA - Di bawah terik matahari Jakarta dan di antara deru klakson kawasan yang padat, ribuan pekerja helm kuning terus berkejaran dengan waktu. Di sela-sela ruang kerja yang sempit, mereka memotong besi, menuang beton, dan merajang rute masa depan transportasi ibu kota: LRT Jakarta Fase 1B.

Namun, di balik target megah menghubungkan kota, ada satu angka yang jauh lebih berharga daripada persentase beton yang tertanam. Angka itu adalah 6.405.252 jam kerja. Sebuah durasi panjang yang berhasil dilewati tanpa satu pun tetes darah atau air mata akibat kecelakaan kerja (zero accident).

Bagi proyek infrastruktur sebesar ini, angka tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sebuah kepastian bahwa ribuan pekerja bisa pulang ke rumah menemui keluarga mereka dalam kondisi utuh setiap malam.

Pengerjaan MRT fase 1B terkadang hingga larut malam. (IST)
Pengerjaan MRT fase 1B terkadang hingga larut malam. (IST)

Bukan Sekadar Pajangan, Jaga Nyawa Jadi Budaya

Membangun jalur kereta layang di tengah jalur padat lalu lintas Jakarta ibarat menenun benang di lubang jarum. Risiko mengintai dari segala sisi—baik bagi para pekerja di atas perancah, maupun bagi warga yang melintas di bawahnya.

Itulah mengapa dua standar keselamatan ketat, SMK3 nasional dan standar internasional ISO 45001:2018, diterapkan bukan sebagai formalitas pajangan. Keduanya menjadi "pelindung gaib" yang mewajibkan audit ketat dan transparansi total di lapangan.

"Keselamatan bukan hanya bagian dari prosedur proyek, tetapi menjadi budaya kerja yang terus kami bangun bersama seluruh mitra dan pekerja di lapangan," ujar Ramdani Akbar, Direktur Proyek LRT Jakarta Fase 1B.

"Kami ingin memastikan pembangunan berjalan produktif, aman, dan tetap memperhatikan kenyamanan warga."

Bagi Jakpro dan seluruh mitra, keselamatan kerja adalah bentuk memanusiakan para pekerja. Proyek ini bahkan telah menjadi rumah sementara dan sumber penghidupan bagi 1.160 tenaga kerja yang menggantungkan dapurnya dari pembangunan ini.

Menuju Garis Akhir yang Ramah Lingkungan

Memasuki minggu pertama Mei 2026, wajah baru transportasi Jakarta ini sudah semakin nyata. Progres fisik proyek telah menyentuh angka 92,67%. Sedikit lagi, jalur ini akan siap beroperasi.

Saat nanti kereta pertama mulai meluncur, lintasan ini tidak hanya akan memangkas waktu tempuh warga Jakarta, tetapi juga menjadi monumen pengingat: bahwa sebuah mahakarya transportasi modern bisa dibangun tanpa harus mengorbankan keselamatan jiwa para pekerjanya.

Melalui kolaborasi, keringat, dan disiplin tinggi, LRT Jakarta Fase 1B membuktikan bahwa kemajuan kota dan perlindungan manusia bisa berjalan beriringan, seirama menuju masa depan yang lebih hijau.