JAKARTA - Empat dokter Palestina dari Jalur Gaza yang ditahan di penjara Israel mengatakan mereka menderita kelaparan, menggambarkan kondisi penjara mereka sebagai "bencana," menurut kelompok hak asasi manusia Israel.
Dalam pernyataannya pada Hari Physicians for Human Rights Israel mengatakan, salah satu pengacaranya mengunjungi keempat tahanan di Penjara Negev di Israel selatan pada 11 Mei.
Organisasi tersebut mengidentifikasi para tahanan sebagai Dr. Mohammed Obeid, Dr. Hussam Abu Safiya, Dr. Murad al-Qouqa, dan Dr. Akram Abu Ouda.
Keempat dokter tersebut telah ditahan dalam waktu yang lama tanpa didakwa, menurut pernyataan tersebut, dilansir dari Anadolu (13/5).
Menurut kelompok tersebut, para tahanan mengkonfirmasi bahwa kondisi penjara belum membaik, termasuk kuantitas dan kualitas makanan yang diberikan kepada mereka, yang mereka gambarkan sebagai "sangat tidak mencukupi dan berbahaya."
Para dokter juga melaporkan penyebaran kudis di antara para tahanan di tengah kurangnya perawatan dan respons medis yang tidak memadai terhadap penyakit.
Organisasi tersebut mengatakan, keempat dokter itu telah dihadirkan di pengadilan Israel dalam beberapa bulan terakhir, yang berulang kali memperpanjang penahanan mereka tanpa dakwaan atau perwakilan hukum.
Para tahanan menggambarkan kondisi penjara mereka sebagai "bencana dari perspektif kemanusiaan dan kesehatan," menurut pernyataan tersebut.
BACA JUGA:
Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, ditangkap pada 27 Desember 2024, setelah tentara Israel menyerbu fasilitas tersebut dan memaksanya keluar dengan todongan senjata setelah menghancurkan kompleks tersebut dan membuatnya tidak beroperasi.
Diketahui, tentara Israel telah membunuh lebih dari 72.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 172.000 lainnya dalam genosida selama dua tahun di Gaza sejak Oktober 2023. Ribuan warga Palestina ditahan selama serangan tersebut.