Bagikan:

JAKARTA - Tubuh Yousef yang berusia enam minggu terbaring di meja rumah sakit di Kota Gaza, Palestina. Kulitnya meregang di atas tulang rusuk yang menonjol dan perban bekas infus yang dimasukkan ke lengannya yang mungil.

Dokter mengatakan penyebab kematiannya adalah kelaparan. Ia termasuk di antara 15 orang yang meninggal karena kelaparan dalam 24 jam terakhir di Gaza, menurut dokter yang mengatakan gelombang kelaparan yang telah menghantui wilayah kantong itu selama berbulan-bulan kini akhirnya mereda.

Sang paman, Adham al-Safadi mengatakan, keluarga Yousef tidak dapat menemukan susu formula untuknya.

"Susu tidak bisa didapatkan di mana pun, dan kalaupun ada harganya 100 dolar AS per botol," katanya sambil menatap keponakannya yang telah meninggal, melansir Reuters 23 Juli.

Tiga warga Palestina lainnya yang meninggal karena kelaparan pada hari yang sama juga anak-anak, termasuk Abdulhamid al-Ghalban (13) yang meninggal di sebuah rumah sakit di Kota Khan Younis, selatan Gaza.

Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, para pejabat Palestina mengatakan puluhan orang kini juga meninggal karena kelaparan.

kondisi di gaza
Staf UNRWA memberikan pelayanan kesehatan ke anak-anak Gaza. (Twitter/@UNRWA)

Gaza telah mengalami kehabisan stok makanan sejak Israel memutus semua pasokan ke wilayah tersebut pada Bulan Maret, sebelum kemudian mencabut blokade tersebut pada Bulan Mei dengan langkah-langkah baru yang menurutnya diperlukan untuk mencegah pengalihan bantuan ke kelompok-kelompok militan.

Setidaknya 101 orang diketahui telah meninggal karena kelaparan selama konflik tersebut, menurut para pejabat Palestina, termasuk 80 anak-anak, sebagian besar dari mereka meninggal hanya dalam beberapa minggu terakhir.

Israel, yang mengendalikan semua pasokan yang masuk ke Gaza, membantah bertanggung jawab atas kekurangan makanan. Militer Israel mengatakan pihaknya "memandang pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza sebagai hal yang sangat penting", dan berupaya memfasilitasi masuknya bantuan tersebut dengan berkoordinasi dengan komunitas internasional.

Di sisi lain, Israel menyalahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa karena gagal melindungi bantuan yang menurutnya dicuri oleh Hamas dan militan lainnya. Tuduhan ini dibantah Hamas dan kelompok militan.

Ketika dimintai komentar, seorang pejabat Gedung Putih berpihak pada posisi Israel yang menyalahkan Hamas. Pejabat tersebut mengatakan Amerika Serikat mendukung organisasi bantuan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Israel.

kondisi gaza
Anak-anak Gaza mengantre makanan. (Sumber: WAFA)

"Sungguh mengerikan Hamas terus menargetkan bantuan penting ini dan menghalangi kemampuan GHF untuk memberikan bantuan yang menyelamatkan jiwa dengan memberikan hadiah kepada pekerja bantuan, menargetkan kontraktor, dan menyebarkan disinformasi," kata pejabat tersebut.

Lebih dari 800 orang tewas dalam beberapa pekan terakhir saat mencoba mendapatkan makanan, sebagian besar dalam penembakan massal oleh tentara Israel yang ditempatkan di dekat pusat distribusi GHF.

PBB telah menolak sistem ini karena dianggap tidak aman, dan merupakan pelanggaran prinsip-prinsip netralitas kemanusiaan yang diperlukan untuk memastikan keberhasilan distribusi. Kritik terhadap GHF juga datang dari organisasi dan kelompok bantuan internasional.

Statistik militer Israel menunjukkan pada Hari Selasa, rata-rata 146 truk bantuan per hari telah memasuki Gaza selama perang. Amerika Serikat mengatakan minimal 600 truk per hari dibutuhkan untuk memberi makan penduduk Gaza.

"Rumah sakit sudah kewalahan dengan jumlah korban luka tembak. Mereka tidak dapat memberikan lebih banyak bantuan untuk gejala yang berhubungan dengan kelaparan karena kekurangan makanan dan obat-obatan," kata Khalil al-Deqran, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza.

Deqran mengatakan sekitar 600.000 orang menderita malnutrisi, termasuk setidaknya 60.000 perempuan hamil. Gejala yang dialami mereka yang kelaparan antara lain dehidrasi dan anemia, ujarnya.

Susu formula bayi khususnya sangat langka, menurut kelompok bantuan, dokter dan warga.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyebut situasi yang dialami 2,3 juta penduduk enklave Palestina sebagai "pertunjukan horor".

"Kita menyaksikan napas terakhir dari sistem kemanusiaan yang dibangun di atas prinsip-prinsip kemanusiaan," ujar Sekjen Guterres kepada Dewan Keamanan PBB.

"Sistem itu tidak lagi memiliki kondisi untuk berfungsi," tandasnya.