Bagikan:

JAKARTA - Indonesia dan Singapura telah membangun kemitraan dengan kepercayaan strategis, selama menjalin hubungan diplomatik yang akan genap berusia 60 tahun pada 2027 mendatang, kata Menteri Luar Negeri Sugiono dalam keterangan pers bersama timpalannya dari Negeri Singa Vivian Balakrishnan usai pertemuan bilateral, Hari Selasa.

Pertemuan yang diadakan di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta tersebut merupakan bagian dari persiapan 'Leaders’ Retreat Indonesia–Singapura 2026' serta menuju peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2027.

"Selama enam dekade terakhir ini saya pikir Indonesia dan Singapura tela membangun kemitraan yang sangat kuat yang ditandai dengan kepercayaan strategis, saling menguntungkan dan tujuan bersama," kata Menlu Sugiono, seperti dikutip Selasa (12/5).

"Saya menyukai singkatan yang saya sebutkan tadi, Rising 60, Republik Indonesia Singapura 60," tandasnya.

Mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto, Menlu RI mengatakan "kita ditakdirkan untuk menjadi tetangga, kita tidak bisa memilih. Secara geografis kita terletak bersebelahan dan itu menuntut kemitraan dan kolaborasi yang lebih besar antara kita berdua."

menlu sugiono dan menlu vivian
Menlu Sugiono bersama Menlu Vivian saat memberikan keterangan pers di Kementerian Luar Negeri RI. (Sumber: Kemlu RI)

"Menjelang RISING 60, kita ingin re-energise kemitraan, membuatnya semakin relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat kedua negara," ujar Menlu Sugiono.

Dalam pertemuan bilateral kali ini kedua Menlu menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama di sektor prioritas, termasuk transisi energi, pengembangan energi terbarukan, dan interkoneksi listrik lintas batas.

Kementerian Luar Negeri mengatakan inisiatif ini diharapkan mendorong efisiensi energi sekaligus memperkuat konektivitas kawasan.

Di bidang ketahanan pangan, kedua negara mendorong kemitraan agribisnis yang lebih erat untuk memperkuat rantai pasok kawasan. Kerja sama ekonomi juga terus diperluas, antara lain melalui penguatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta pengembangan kawasan industri berkelanjutan.

Dalam konteks kawasan, kedua Menlu menekankan pentingnya menjaga persatuan dan sentralitas ASEAN di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Ketidakpastian global, termasuk tekanan terhadap jalur energi dan perdagangan strategis, menuntut ASEAN untuk tetap solid dan responsif. ASEAN harus terus menjadi jangkar stabilitas, sekaligus memastikan kawasan tetap terbuka, stabil, dan terhubung.

Dikatakan, pertemuan ini menegaskan kembali komitmen Indonesia dan Singapura untuk memperdalam kemitraan strategis yang adaptif, berorientasi masa depan, dan berkontribusi pada stabilitas serta kemakmuran kawasan.

Diketahui, Singapura adalah investor asing terbesar bagi Indonesia (17,4 miliar dolar AS pada 2025) dan salah satu mitra dagang utama di ASEAN (32,86 miliar dolar AS).

Selain itu, kunjungan wisatawan Singapura yang mencapai 1,52 juta pada 2025 juga mencerminkan kuatnya konektivitas kedua negara.