JAKARTA - Indonesia dipastikan akan kembali mengirim pasukan perdamaian PBB di bawah bendera United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL), guna memenuhi amanat Konstitusi dan komitmen pada perdamaian.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, Indonesia akan mengirimkan 780 pasukan perdamaian untuk misi UNIFIL di Lebanon selatan.
"Tanggal 22 (Mei) rencananya 780 orang (prajurit TNI yang akan diberangkatkan ke Lebanon)," kata Menlu Sugiono usai pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (12/5).
Kemarin, Menlu Sugiono menghadiri Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian (TKMPP) di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI, Sentul.
"Sebagai salah satu kontributor terbesar Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB, Indonesia terus menjalankan amanat konstitusi dan politik luar negeri bebas aktif dalam mendukung perdamaian dunia, termasuk melalui penugasan Satgas Kontingen Garuda di UNIFIL (Lebanon)," tulis Menlu Sugiono di akun Instagra Menluri.
"Di tengah dinamika kawasan dan global yang tidak menentu, saya tegaskan negara akan selalu hadir untuk memastikan keselamatan dan pelindungan peacekeepers Indonesia," lanjutnya.
Sementara itu, Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengatakan, pengiriman sebagai bagian dari rotasi pasukan Indonesia yang bertugas di UNIFIL ini, merupakan amanat Konstitusi dan komitmen Indonesia terhadap perdamaian.
Empat putra terbaik Indonesia, Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) Nur Ichwan Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon dan Kopda (Anm) Rico Pramudia yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL, tewas akibat dua insiden terpisah pada 29-30 Maret.
Kopda (Anm) Farizal tewas saat sebuah proyektil meledak di dekat fasilitas UNIFIL di Adchit Al Qusayr pada 29 Januari. Selain itu, tiga prajurit TNI lainnya, Kopda (Anm) Rico, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan terluka dalam peristiwa tersebut.
Belakangan, Kopda (Anm) Rico diumumkan menghembuskan nafas terakhir akibat luka-lukanya setelah mendapatkan perawatan selama hampir satu bulan.
Pada 30 Maret, ledakan yang mengenai konvoi kendaraan pasukan UNIFIL di dekat Bani Hayyan menewaskan Mayor (Anm) Zulmi dan Serka (Anm) Nur Ichwan.
"Insiden itu kita sesalkan dan kita kutuk untuk yang pertama. Ini (pengiriman pasukan perdamaian PBB) amanat Konstitusi kita, komitmen kita terhadap perdamaian tetap jalan," tegas Yvonne.
Menlu Sugiono mengatakan PBB terus melakukan investigasi atas tewas dan terlukanya prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian di Lebanon selatan.
BACA JUGA:
"Kita perlu akuntabilitas," tandasnya, menegaskan Indonesia terus mendorong akuntabilitas dalam penanganan kasus tersebut.
Sedangkan Yvonne mengatakan, seiring dengan keluarnya hasil investigasi awal, "Indonesia terus mendesak PBB melakukan investigasi menyeluruh, komprehensif dan transparan."
"Itu akan kita kejar," tandasnya, menambahkan Perwakilan Tetap RI untuk PBB di New York terus berkomunikasi secara erat PBB."