JAKARTA - Kementerian Luar Negeri RI menekankan, keselamatan dan keamanan prajurit TNI yang menjalankan tugas pasukan perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak bisa dinegosiasikan.
Ini dikatakan Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang, menyusul rencana Indonesia kembali memberangkatkan pasukan perdamaian di bawah bendera United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan pekan depan.
Diketahui, empat prajurit terbaik TNI yang tengah bertugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon selatan tewas dalam dua insiden terpisah yang terjadi akhir Maret lalu. Sedangkan dua prajurit lainnya terluka.
"Safety and security pasukan kita tidak bisa dinegosiasikan, tidak bisa ditawar, itu sudah pasti," Yvonne menekankan, saat berbicara dengan media di Kementerian Luar Negeri RI, Selasa (12/5).
"Cara kita memastikan hal tersebut tidak terulang, memastikan kesiapan pasukan kita. Saya tidak bilang pasukan kita tidak siap, ini kan serangan, semua apa pun yang terjadi di lapangan kita tidak pernah tahu. Kita memastikan kesiapan penuh pasukan kita, itu yang disampaikan Pak Menlu (Sugiono) di PMPP (Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI). Pasukan kita di sana untuk mmenjaga perdamaian," tandasnya.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono memastikan Indonesia akan kembali mengirim pasukan perdamaian di bawah bendera UNIFIL.
"Tanggal 22 (Mei) rencananya 780 orang (prajurit TNI yang akan diberangkatkan ke Lebanon)," kata Menlu Sugiono usai pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (12/5).
Kemarin, Menlu Sugiono menghadiri Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian (TKMPP) di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI, Sentul.
"Sebagai salah satu kontributor terbesar Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB, Indonesia terus menjalankan amanat konstitusi dan politik luar negeri bebas aktif dalam mendukung perdamaian dunia, termasuk melalui penugasan Satgas Kontingen Garuda di UNIFIL (Lebanon)," tulis Menlu Sugiono di akun Instagram Menluri.
"Di tengah dinamika kawasan dan global yang tidak menentu, saya tegaskan negara akan selalu hadir untuk memastikan keselamatan dan pelindungan peacekeepers Indonesia," lanjutnya.
Yvonne mengungkapkan, saat menemui prajurit TNI yang akan menjalani misi PBB, Menlu Sugiono mengatakan "Saya sangat bangga bertemu teman-teman di sini dan akan lebih bangga lagi bertemu kembali lagi ke sini dengan selamat."
Menlu, menurut Yvonne, dalam kesempatan tersebut juga meminta PMPP sebagai tempat pelatihan bagi pasukan Indonesia untuk memberikan pelatihan yang komprehensif dan dari segala aspek.
"Karena pergi ke negara konflik itu berbeda, banyak yang harus mereka pelajari," tandasnya.
Pemerintah, tambah Yvonne, melalui PTRI New York selalu menekan kan dalam berbagai rapat pasukan perdamaian PBB, pentingnya untuk memastikan keselamatan pasukan di lapangan karena misi mereka menjaga perdamaian.
Empat putra terbaik Indonesia, Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) Nur Ichwan Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon dan Kopda (Anm) Rico Pramudia yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL, tewas akibat dua insiden terpisah pada 29-30 Maret.
Kopda (Anm) Farizal tewas saat sebuah proyektil meledak di dekat fasilitas UNIFIL di Adchit Al Qusayr pada 29 Januari. Selain itu, tiga prajurit TNI lainnya, Kopda (Anm) Rico, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan terluka dalam peristiwa tersebut.
Belakangan, Kopda (Anm) Rico diumumkan menghembuskan nafas terakhir akibat luka-lukanya setelah mendapatkan perawatan selama hampir satu bulan.
Pada 30 Maret, ledakan yang mengenai konvoi kendaraan pasukan UNIFIL di dekat Bani Hayyan menewaskan Mayor (Anm) Zulmi dan Serka (Anm) Nur Ichwan.
UNIFIL berdasarkan hasil penyelidikan awal pada awal bulan ini mengumumkan sebuah proyektil yang menewaskan seorang penjaga perdamaian PBB di Lebanon pada 29 Maret ditembakkan oleh tank militer Israel.
また読む:
Berdasarkan analisis lokasi benturan dan pecahan yang ditemukan di posisi tersebut, UNIFIL mengatakan peluru tersebut adalah proyektil persenjataan utama tank 120mm yang ditembakkan oleh tank Merkava Israel dari timur, ke arah Ett Taibe, dikutip dari Anadolu.
UNIFIL mencatat, mereka telah memberikan koordinat semua posisi dan fasilitasnya kepada militer Israel pada tanggal 6 Maret dan sekali lagi pada tanggal 22 Maret, beberapa minggu sebelum insiden tersebut, dalam upaya untuk mengurangi risiko terhadap personelnya.
Sedangkan terkait ledakan pada 30 Maret, Dujarric seperti dikutip dari pernyataan yang dibagikan Pusat Informasi PBB di Indonesia mengatakan berdasarkan bukti, analisis lokasi ledakan, serta IED kedua yang ditemukan dekat lokasi kejadian di hari yang sama, ledakan disebabkan IED yang diaktifkan oleh korban (tripwire). IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.