JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchimenegaskan tidak ada solusi militer untuk krisis politik dan memperingatkan Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk tidak meningkatkan eskalasi lebih lanjut di Selat Hormuz.
"Peristiwa di Hormuz memperjelas tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Dengan adanya pembicaraan yang mengalami kemajuan lewat upaya baik Pakistan, Amerika harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam kubanganoleh pihak-pihak yang berniat buruk; begitupula UEA," kata Araghchi di platformX. Selasa, 5 Mei dilansir ANTARA dari Sputnik.
Araghchi juga menolak rencana "Proyek Kebebasan" Washington(ProjectFreedom) untuk mengawal kapal dagang keluar dari Selat Hormuz,dengan mengatakan proyek itu adalah proyek buntu.
Iran melancarkan serangan balasan pada Senin (4/5) denganmenargetkan UEA. Serangan rudal dandroneyang diperbarui itumenandai insiden pertama sejak gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikatberlaku sejak bulan lalu.
UEA kemudian melaporkan pelunuran gelombang keempat rudal dandronedari Iran dan menyatakan sistem pertahanan udaranya mencegat 15 rudal dan empat pesawat nirawak.
Selain itu, kebakaran juga terjadi di Zona Industri Minyak Fujairah, pusat energi utama di pantai timur UEA, setelah dihantam oleh pesawat nirawak yang diluncurkan dari Iran.
BACA JUGA:
Ketegangan regional telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu hingga memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel dansekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.
Kedua pihak kemudian menyepakati gencatan senjata sejak8 April lalu lewat mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan di Islamabaditu gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan.