JAKARTA — Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat berpotensi meluas dan membawa dampak global jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.
Dalam dialog yang ditayangkan melalui akun YouTube resminya pada Selasa 3 Maret, SBY mengingatkan bahwa eskalasi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan.
“Kalau peperangan ini membesar, tentu implikasinya bukan hanya bagi Timur Tengah, tetapi juga banyak kawasan lain di dunia,” ujar SBY.
Ia menyoroti meningkatnya ketegangan, termasuk ancaman Iran terhadap instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah serta potensi keterlibatan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman.
“Ini sudah menjadi perang regional karena ada aksi saling membalas antarnegara,” katanya.
SBY juga menyinggung kemungkinan implikasi Pasal 5 NATO yang dapat menyeret negara-negara anggota aliansi tersebut apabila eskalasi terus berlanjut. Selain itu, ia mengingatkan potensi keterlibatan kekuatan besar seperti Rusia, China, dan Korea Utara.
“Ini sangat berbahaya. Mudah-mudahan tidak sampai ke sana,” ujarnya.
Menurut dia, konflik tersebut bukan hanya berdimensi militer dan politik, tetapi juga berisiko menimbulkan disrupsi ekonomi global, terutama pada sektor energi dan perdagangan internasional yang sangat sensitif terhadap gejolak di Timur Tengah.
SBY mengungkapkan bahwa dirinya juga telah bertemu dengan Presiden RI Prabowo Subianto untuk bertukar pandangan mengenai dinamika geopolitik tersebut, termasuk peluang kontribusi Indonesia dalam mendorong penyelesaian konflik di Timur Tengah.
BACA JUGA:
Dalam pertemuan itu, kata SBY, dibahas pentingnya peran aktif Indonesia sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif untuk mendorong de-eskalasi dan solusi damai.
“Kita berharap semua pihak menahan diri dan memberi ruang bagi diplomasi. Penyelesaian damai adalah satu-satunya jalan agar konflik ini tidak berkembang menjadi krisis global yang lebih besar,” tutur SBY.