Bagikan:

JAKARTA - Lebih dari satu juta warga Lebanon terancam kelaparan di tengah konflik yang terus berlangsung. Kekerasan, pengungsian massal, dan tekanan ekonomi kini menekan kondisi kemanusiaan di negara itu.

Menurut laporan Arab News, Kamis, 30 April, peringatan tersebut disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu.

Pada hari yang sama, otoritas Israel mengeluarkan perintah pengungsian baru untuk 16 wilayah di Lebanon selatan Sungai Litani. Warga diminta pindah ke kota Saida. Kebijakan ini menambah tekanan pengungsian yang sudah meluas.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan warga sipil menjadi pihak paling terdampak. “Kami dan para mitra berupaya merespons kebutuhan yang terus meningkat, selama akses memungkinkan,” ujarnya di New York.

Namun akses ke wilayah terdampak masih terbatas. Bantuan tidak selalu bisa menjangkau semua area.

Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Laporan menunjukkan tekanan psikologis meningkat, keluarga terpisah, dan kondisi ekonomi memburuk. Tempat pengungsian yang padat juga meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender.

Krisis ini makin berat karena ketahanan pangan ikut terganggu. Analisis terbaru dari FAO dan WFP menyebut kondisi yang sempat membaik kini kembali masuk fase krisis akibat lonjakan kekerasan.

Data Klasifikasi Terpadu Ketahanan Pangan (IPC) memperkirakan sekitar 1,24 juta orang—hampir seperempat populasi yang dikaji—akan menghadapi kerawanan pangan tingkat fase 3 atau krisis hingga Agustus. Pada tahap ini, warga mulai mengurangi makan atau menjual barang penting demi membeli pangan.

Di tengah kondisi tersebut, pendanaan bantuan masih jauh dari cukup. Program Lebanon Flash Appeal baru mengumpulkan sekitar 117 juta dolar AS, atau 38 persen dari kebutuhan 308 juta dolar AS.

PBB memperingatkan, tanpa tambahan dukungan dana dan akses kemanusiaan yang lebih luas, kondisi di Lebanon diperkirakan memburuk dalam waktu dekat, dengan jutaan orang semakin terancam kelaparan.